Meneladani Begawan Profesor Malik Fadjar dalam Menggembleng Kader Muda

Posted by

Hari ini genap 40 hari almarhum allahuyarham meninggalkan kita semua. Persyarikatan dan bangsa sangat kehilangan sosok “begawan” tidak hanya mengenai pendidikan juga mengenai permasalahan bangsa. Ulasan keteladanan sang begawan tiada henti habisnya dikenang karena rekam jejak dan sepak terjangnya sangat monumental bahkan pilihan langkah-langkahnya “beyond”, “futuristik” dan peranannya sangat luar biasa. Kontribusi sang begawan tidak ingin dikesankan berada di garis depan, namun sejatinya peranannya sangat elan vital. Kiprah di persyarikatan bisa terlihat hingga saat ini. Kampus UM Malang, UM Surakarta dan “niup-niup PTM dan sekolah Muhammadiyah tiada yang menandinginya. Dalam konteks kebangsaan, reformasi di Tahun 1998 tidak lepas dari peranan beliau. Bahkan ketika reformasi berjalan, jejak langkah monumental dilakukan dengan berbagai gebrakan di Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Nasional dan Menko Kesra ad interim hingga Wantimpres RI sangat berarti dan dirasakan hingga saat ini.

Dari berbagai kajian keteladanan almarhum allahuyarham yang telah banyak di ulas, ada satu hal yang belum banyak diungkap kedekatannya almarhum dengan kader muda Muhammadiyah. Selama 14 tahun nyantrik dengan almarhum, diceritakan banyak torehan sejarah yang dilakukannya selalu melibatkan kalangan kader muda Muhammadiyah. Bahkan besutannya banyak menjadi tokoh-tokoh penting saat ini.

Almarhum menceritakan proses perubahan yang ditorehkannya mengapa melibatkan selalu kader muda, selain peranan anak muda yang lincah, progresif, “nakal” dan dedikasi “never die” juga sebagai upaya transformasi dan estafet kepemimpinan berikutnya dan selorohnya selalu disampaikan berulang kali, dekat dengan anak muda, pikirannya ikut segar bahkan semangat dan usianya pun awet dan muda selalu.

Proses “ndeder” dan menggembleng kader muda perlu menjadi pola yang harus terus dilanjutkan saat ini. Pola yang dikembangkan tidak lepas proses panjang almarhum berlatar belakang sosok Ayah almarhum allahuyarham Bapak Fadjar Martodiharjo sosok penggerak pendidikan Muhammadiyah sejati, mendirikan banyak sekolah dan niup-niup sekolah Muhammadiyah di berbagai daerah, diantaranya di daerah Bantul, Brosot, Kedungbanteng Moyudan, Borobudur, dan Magelang juga pola kaderisasi “intilan”nya Pak AR Fakhrudin yang nota bene muridnya Bapaknya almarmuh menjadi inspirasi pola kultural yang dikembangkan almarhum.

Pola dan Pendekatan yang ditempuh

Ada beberapa pendekatan yang penulis rasakan selama bersama almarhum.

Pertama, penyampaian pencerahnnya selalu menggunakan diksi, istilah yang mudah dipahami dan mengulasnya secara sederhana namun sarat makna dan dalam. Penyampaian motivasi selain juga asam garam pengalaman juga wawasan keilmuan yang dimilikinya karena selalu diupdate dengan kesukaannya membaca berbagai literatur berbagai buku dan disiplin keilmuan. Misalkan, beberapa wejangan dan pencerahan yang disampaikan almarhum mengenai sekolah dan pendidikan diantaranya  : “jika ingin berhasil melakukan perubahan sekolah, harus siap ditongkrongi dan diplototi lahir dan batin oleh kepala sekolah dan guru”, “Jangan bermain kelereng di gang buntu”, “Ameng-ameng, omong-omong, iming-iming”, “Buatlah tanda-tanda kehidupan””Jangan menjadi sekolah tadah hujan”, “Sekolah harus bisa membaca tanda-tanda zaman”, “Jangan kelahi, konflik, karena menjauhkan dari rezeki” (“sudah miskin, konflik lagi”), “Luaskan hati, luaskan pandangan dan wawasan dan lentur bersikap””Berangkatlah dari lingkungan setempat”, “Guru jangan ngantuk-an agar siswanya semangat”, “wujudkan sekolah yang membahagiakan, menyenangkan, mengasyikkan,menggairahkan, mencerdaskan dan menginspirasi para penerus masa depan bangsa”, “pendidikan harus menatap masa depan”,”Boleh miskin dan tidak punya apa-apa secara finansial namun jangan miskin cita-cita”  dan ungkapan ungkapan isnpiratif lainnya. Penyampaian diksi tersebut menggugah, memotivasi sekaligus sangat mengena dan mudah dipahami oleh siapapun.

Kedua, pendekatan humanisasi, egaliter, kultural dan transformatif. Pendekatannya sangat cair, dialogis dan tanpa sekat batas. Sekalipun mantan pejabat dan Ketua PP Muhammadiyah. Di berbagai kesempatan dan momen baik rumah Srigunting Yogyakarta, rumah Tebet Jakarta dan di sela-sela perjalanan bertugas, limpahan ilmu, pengalaman dan gagasan “nakal”nya yang kadang diluar mainstream pada umumnya disampaikan. Sosok almarhum dirasakan sangat humanis, dialogis dan memberikan banyak kepercayaan dan mendorong kader muda banya berperan. Banyak kenangan yang momerable dikisahkan berbagai tokoh mengenai sosok almarhum “ngewongke” dan mendorong dan memberikan kepercayaan penuh anak-anak muda berkreasi dan melakukan perubahan. Di berbagai kesempatan di rumah Srigunting selasar rumahnya menjadi saksi beberapa kader muda mulai dari IPM, kepala sekola muda, Rektor PTM, PCM dan PDM sosok almarhum menjadi ayah, mentor, sekaligus teman sejawat berdiskusi dan memompa semangat juang melakukan perubahan di berbagai tempat dan daerahnya masing-masing. Jika ada kader yang tengah merintis perjuangan melakukan perubahan dari titik nol sekalipun empati simpatinya begitu sangat tinggi. Seakan mengingatkan perjuangan almarhum melakukan perubahan di UM Malang, UM Surakarta dan lain sebagainya. Sehingga pendekatannya tidak elitis dan tiada berjarak. Bahkan dalam kunjungan resmi sebagai Wantimpres RI yang penulis ikuti, almarhum tidak ingin diperlakukan khusus dan protokoler. Bahkan seringkali kehadirannya ketika mengunjungi sekolah dan PTM tanpa pemberitahuan dan datang lebih awal agar bisa memberikan banyak masukan dan motivasi. Kunjungan dadakan tanpa kawalan khusus menjadikan kesan yang sangat mendalam dan memberikan makna kesederhanaan dan sosok yang bersahaja. 

Ketiga, pendekatan praksis. Almarhum selalu menitik beratkan aksi nyata dan kontribusi yang bisa dilihat dan dirasakan. Seringkali selorohannya menyentil berbagai kalangan yang diberikan wejangan oleh almarhum mengedepankan aksi nyata dan kongkret, namun disertai landasan yang kokoh. Penulis merasakan langsung bagaimana almarhum selalu mengingatkan semangat ta’awwun di kalangan amal usaha Muhammadiyah di era 2009 an kala itu, antar amal usaha di Yogyakarta kala itu belum berjalan sinergik diantara jenjang PTM dan Sekolah. Ketika mengunjungi UAD, UMY almarhum tanpa tedeng aling-aling mengingatkan kontiyuitas dan kolaborasi antar jenjang dan mendorong sinergi AUM yang sudah besar dan sejahtera dengan AUM yang masih membutuhkan uluran tangan. Alhamdulillah, saat ini sudah berjalan. Apa yang disampaikan almarhum sudah dilakoninya ketika memimpin UM Malang. Kebijakan yang belum ada dimanapun dilakukannya dengan menugaskan dosen UM Malang menjadi kepala sekolah yang belum maju dan berkembang. Penulis di Tahun 2010 pernah mengunjungi salah satu AUM Sekolah yang kepala sekolahnya merupakan dosen UMM yang ditugasi memajukan sekolah tersebut dan terbukti sekolah tersebut berkembang dan dilanjutkan pola tersebut di sekolah sekolah lainnya.

Keempat, pendekatan berbasis persyarikatan dan gerakan. Dalam berbagai kesempatan almarhum selalu menyampaikan perubahan membesarkan amal usaha sekolah dan PTM harus selalu bersendikan persyarikatan dan gerakan. Sekolah dan PTM yang tidak berkembang hampir dipastikan dua hal. Selain karena miss management dan kepemimpinan juga tidak bergerak sesuai dengan khittah persyarikatan dan fungsi persyarikatan dan jalinan amal usaha dengan persyarikatan tidak berjalan dengan baik. Penulis ketika diamanahi sekolah yang hampir tutup di tahun 2009, memulai perubahan atas saran almarhum dan terjun langsung memandu perubahan dimulai dengan konsolidasi dan soliditas persyarikatan dari hulu ke hilir. Dan terbukti, ketika dibenahi aspek persyarikatannya, amal usaha kembali bisa bangkit dan berkembang pesat. Adapun mengenai gerakan, sebagaimana makna “bergerak” menandakan harus progresif, dimanis dan proaktif menjemput dan berbuat nyata membuat tanda tanda kehidupan kemajuan amal usaha.    

Kelima, pendekatan resolutif dan optimistik. Sosok almarhum selalu mengambil pilihan resolutif dan tidak konflik. Selalu menekankan pemikiran yang lentur, luwes dan luas pandangannya menjadikan sikap politik dan langkahnya jauh dari langkah membentur benturkan dengan masalah dan konflik. Pendekatan diplomatik dan santun, walaupun kritikannya sangat tajam bisa diterima berbagai kalangan. Sikap kritisnya selalu disertai solusi nyata dan jauh dari kepentingan dan ego pribadi. Keberanian, ketegasan dan berani masuk ke jalur birokrasi dilakoninya semata untuk tetap selalu mewarnai sekalipun banyak cibiran bahkan terkadang juga dalam beberapa hal memiliki resiko konflik batin dalam dinamika kebangsaan saat ini. Namun karena ketulusan dan motif tanpa pretensi dan jiwa besar begawannya tanpa surut memberikan saran bahkan otokritik yang disampaikan secara santun tanpa larut dan gamang bersikap teguh hati memegang prinsip kebenaran.

Kelima pendekatan almarhum perlu diteruskan dan menjadi pola dalam melakukan kaderisasi kader muda dalam konteks persyarikatan dan bangsa. Keteladanan almarhum dalam menggembleng kader muda harus dilanjutkan karena gebrakan alamrhum terlihat nyata.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *