Menepi dan Menyepi di Ketinggian

Posted by

masa-kini.idDalam keadaan tertentu seseorang akan menepi dan menyepi sejenak dari hiruk pikuknya. Menjauh dari kesibukannya untuk menenangkan, hati, pikiran, dan emosionalnya. Banyak cara, salah satunya yang cukup banyak jadi pilihan adalah dengan melakukan perjalanan. Saya termasuk yang sering memilih opsi itu.

Sudah hampir tiga atau empat tahun belakangan ini mendaki gunung selalu masuk agenda wajib. Minimal sekali saja dalam setahun. Biasanya saya merayakan ritual itu di bulan April. Namun tahun ini tak seperti tahun sebelumnya dan ritual tahunan itu tak berjalan di bulan yang seharusnya.

Mengapa mendaki gunung? Hmm, banyak alasan. Mungkin beberapa alasan itu karena bisa berolahraga sekaligus cuci mata. Maksudnya cuci mata dengan pemandangan alam yang indah ya bukan yang lainnya. Kebugaran fisik dan stamina adalah hal mendasar yang harus dipersiapkan. Apalagi, semakin tinggi tempat oksigen yang kita dapat tak akan sama karena semakin tipis.

Tetapi di luar alasan itu ada satu alasan lain yang bisa merangkum semuanya yaitu cerita dan pengalaman. Hampir pasti di tiap perjalanan tidak harus mendaki gunung kita akan punya cerita yang beragam. Berinteraksi dengan warga lokal dan bertemu teman baru selama perjalanan ke puncak adalah hal yang menyenangkan. Seperti halnya kertas kosong ketika kita tiba di basecamp pendakian maka saat itu pula kita sedang mulai mengisinya.

Banyak berinteraksi dan mendengar cerita dari warga yang tinggal di kaki gunung adalah semacam terapi. Sesederhana kita menyimak cerita mereka dari aktivitas sehari-hari saja. Tanpa disadari hal itu sudah cukup mengendurkan urat saraf kita yang biasa ditekan oleh target-target pekerjaan dan hiruk pikuk perkotaan.

Pikiran dan alam bawah sadar kita akan turut menyelami pengalaman mereka. Mungkin dari cerita anak mereka sekolah, mungkin dari cerita mereka dengan kesibukan di desa, atau mungkin dari aktivitas pertanian mereka. Kebanyakan, mereka yang hidup di kaki gunung mempunyai banyak ladang dan ditanami sayur. Hal yang tak pernah absen mereka ceritakan adalah ketika bersiap untuk masa panen.

Baca juga: Dosa dan Tanggungjawab Kita Terhadap Makanan

Kadang mereka dibuat cemas dengan cuaca tak menentu menjelang usia siap panen, gangguan hama tanaman, hingga harga jual yang anjlok. Untuk bagian terakhir itu sudah seperti kisah klasik. Susah payah merawat ini itu tapi harga jualnya tak sepadan.

 Pola interaksi dan komunikasi warga di kaki gunung itu, yang sering saya jumpai adalah wujud cinta, dedikasi, dan migunani secara nyata. Pola itu terlihat jelas ketika mereka selalu ingin terlibat dan bisa membantu satu sama lain, ikhlas menerima apapun hasil dari yang mereka rawat dan tanam, hingga mereka selalu ingin bisa menolong tetangga dan kerabat yang sedang kesusahan.

Hal-hal itulah yang mulai luntur pada diri kita di era modern saat ini. Selalu disibukkan dengan pekerjaan kemudian merubah mindset kita bahwa semuanya harus serba cepat hingga tak menghiraukan apa yang terjadi di sekitar kita. Fokus dan ego menguasai semunanya kemudian kita sering dibuat lelah sendiri. Lalu menyalahkan keadaan dan lupa mensyukuri apa yang sudah didapatkan.

Kemarin Mbah Lindu, penjual gudeg tertua di Jogja tutup usia. Banyak unggahan tentangnya berseliweran di sosial media. Ada satu video yang menangkap percakapannya dengan seseorang ketika ditanyai apa rahasianya masih bisa berjualan hingga usia 97 tahun.

“Nerima, hidup seadanya tidak usah macam-macam. Jangan iri dengan apa yang jadi kepunyaan orang lain. Walau tak punya apa-apa terima apa yang kita miliki. Yang penting anak diberi kesehatan”

Apa yang ia katakan sangat sederhana. Tetapi, bisakah kita yang hidup di masa saat ini dapat meneladaninya dengan baik di saat teknologi dan budaya konsumtif tumbuh subur di depan mata? Kita sering lupa bersyukur dan terjebak dalam gegap gempita. Padahal jika disadari ramai riuh itu semu dan biasa saja jika apa yang kita dapat tak bisa dibagi dan berguna untuk sesama.

Baca juga: Rumpang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *