Menjadi Guru Sepanjang Waktu

Posted by

Guru. Kepanjangannya “digugu lan ditiru”; diindahkan dan dicontoh. Ki Hajar Dewantara merumuskan karakter guru dalam sistem among: Ing ngarsa asung tuladha, ing madya mangun karsa; tut wuri handayani – di depan memberi teladan; di tengah menggerakkan; di belakang memberi dukungan.

Guru sejati memperlakukan murid-murid seperti anaknya sendiri. Murid lebih membutuhkan contoh tinimbang nasihat. Bagai petani, guru mencurahkan perhatian pada benih yang telah ia tebar; memupuk, menyirami dan menyianginya. Helen Keller memberikan kesaksian, “Awalnya aku hanyalah butiran-butiran kemungkinan. Gurukulah yang membuka dan mengembangkan kemungkinan itu.”

Di antara petuah guru-guru dari berbagai penjuru yang mesti diindahkan: Orang terpelajar ialah orang yang pandai menggunakan waktunya untuk belajar. Orang yang tidak mencari nasihat adalah bodoh; kebodohan itu membuatnya buta terhadap kebenaran dan membuatnya menjadi jahat, keras kepala dan ancaman bagi orang-orang di sekelilingnya.

Dengan sarana kebebasan, toleransi dan pendidikan orang-orang hebat dan bijak telah membuka jalan untuk menyelamatkan seluruh dunia. Kalau kebenaran menghalangi jalan kita, berarti kita sedang berada di jalan yang salah. Kemampuan kita untuk meraih sukses dalam perjalanan hidup yang panjang ini tidak tergantung hanya pada inteligensia saja.

Orang yang mempelajari undang-undang kebijaksanaan tanpa menerapkannya dalam kehidupan, sama dengan petani yang tidak menaburkan benih. Pikiran sama dengan adonan beton; jika tidak diaduk terus-menerus akan membeku dan mengeras. Pikiran-pikiran kita adalah benih, dan panenan yang kita petik bergantung pada benih yang kita tanam.

Salah satu jasa guru ialah mengajari kita untuk berpikir. Ubahlah pikiranmu, dan kau sudah mengubah duniamu. Pikiran positif dalam hal apa pun pasti lebih baik ketimbang pikiran negatif. Pensil tajam akan membuat tulisan kita tajam pula. Akal yang tajam pasti juga akan membuat keputusan-keputusan tajam. Berpikir benar, berkata benar, berbuat benar, berkebiasaan benar, berkarakter benar.

“Sukses adalah satu persen bakat dan 99 persen kerja keras”, kata Thomas Alva Edison. Setiap orang tahu jalan menuju sukses, tetapi tidak semua menempuhnya. Bila engkau berjumpa dengan seseorang yang sukses dan mengagumkan, ketahuilah, bahwa ia telah melakukan apa yang belum engkau lakukan. Pengetahuan manusia ibarat air, sebagian datang dari atas dan sebagian memancar dari bawah; yang dari bawah cahaya alam, dan yang dari atas ilham Ilahi.

Memiliki pengetahuan berarti mengerti tujuan yang benar dan salah, yang mulia dan yang hina. Ilmu pengetahuan tanpa hati nurani, tidak lain hanyalah reruntuhan jiwa. Berbuatlah apa yang baik dalam batas-batas kemampuanmu; dengan cara-cara yang terbuka bagimu; di segala tempat yang ada dalam pengetahuanmu; dalam setiap waktu yang tersedia bagimu; kepada semua orang yang ada dalam jaungkauanmu; sepanjang masa hidupmu.

Apabila manusia berada pada ilmu yang hakiki, maka ia akan bersemangat untuk mengajarkannya. Otak kita adalah ibarat raksasa tidur. Membaca membuka otak dari kegelapan. Kalau seseorang tidak membaca buku, maka bagaimana ia bisa membuka otaknya dari suasana terkucil. Membaca adalah memperkaya perbendaharaan jiwa; oleh karena itu sangat membahagiakan.

Luangkan sedikit waktu setiap hari untuk menganjurkan dan meyakinkan diri sendiri: setiap hari saya berkembang maju; setiap hari saya tumbuh; setiap hari saya makin bijaksana; setiap hari saya tambah dewasa; setiap hari saya mampu rileks; setiap hari saya bertambah percaya diri; setiap hari saya makin damai di hati; setiap hari saya makin bahagia.

Pandangan tentang nilai karakter; kecerdasan budi tidak kurang pentingnya dari kecerdasan akal, bahkan paling perlu dalam kehidupan manusia. Tingkah laku yang sopan dan hormat terhadap orang lain adalah dua sifat utama seorang yang bijaksana. Orang dengan kemampuan rata-rata dan berusaha keras, bisa memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tak memiliki kekurangan, namun kurang keras berusaha.

Sudah pasti kewajiban utama manusia ialah memperkembangkan diri sendiri, seperti dilakukan bangsa Yunani purba yang luar biasa. Kesadaran, sekalipun hanya sesaat saja, sering lebih berharga daripada pengalaman sepanjang hidup. Apabila seseorang bekerja sebagai penyapu jalan, ia harus menyapu jalan seperti Michelangelo melukis, Beethoven mencipta musik, atau Shakespeare menulis puisi.

Adalah orang yang demikian bijaksananya sehingga mau belajar dari pengalaman orang lain. Percaya diri dan kebanggaan di akhir perjuangan menerobos tembok kendala, akan memberi keyakinan yang makin tinggi, dan keyakinan ini akan membimbing menuju ke sukses berikutnya yang lebih besar.

Guru menginspirasi untuk bercita-cita, sekurang-kurangnya menjadi seperti dia. Setiap kehidupan mempunyai celah yang kosong. Isilah ruang hati dengan pikiran-pikiran yang mulia, agar tak ada tempat terluang bagi masuknya pikiran-pikiran jahat. Tidak mungkin seorang manusia berbuat demi kemaslahatan umum jika ia tidak merasakan adanya ikatan antara dirinya dengan orang-orang lain. 

Pada suatu hari Rasulullah saw memasuki masjid dan menemukan dua majelis, yakni majelis dzikir dan majelis ilmu. Rasulullah saw bersabda, “Kedua majelis ini bagus. Majelis dzikir mengingat Allah swt dan bermohon kepadanya, sedangkan majelis ilmu membahas tentang ilmu. Saya adalah guru, dan saya memilih majelis ilmu.” Rasulullah saw pun bergabung dengan majelis ilmu tersebut.    

Rasulullah saw bersabda, “Khairunnas anfa’uhum linnas – sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.” Pada kesempatan lain Rasulullah saw bersabda, ““Khairunnas man thala ‘umruhu wa hasuna ‘amaluh – sebaik-baik manusia ialah yang panjang umur dan baik amalnya.” Salah satu alternatif untuk memberikan manfaat kepada sesama manusia ialah mengisi masa hidup dengan menjadi guru sepanjang waktu, baik pada pendidikan formal, non-formal, maupun informal.

Seorang bijak bestari berpesan, “Kun ‘aliman au muta’alliman wa la takun tsalitsan – Jadilah guru atau murid, dan jangan menjadi yang ketiga (bukan guru dan bukan pula murid).” Nilai tambah keguruan dan kependidikan adalah sebagaimana diungkapkan oleh  Helen Keller, “Dengan sarana kebebasan, toleransi, dan pendidikan, orang-orang hebat serta bijak telah membuka jalan untuk menyelamatkan seluruh dunia.”

Semua profesi perlu guru. Orang bijak berkata, “Kada al-mu’allim an yakuna rasul – Guru hampir-hampir menjadi rasul. “Salah satu teknik mendidik yang baik adalah membuat murid ingin tahu dan mencari tahu.” (Muhammad Taqiyuddin)

Menjadi guru adalah peluang memanfaatkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk beramal saleh, sesuai dengan doa yang diajarkan dalam Al-Quran, “Rabbi auzi’ni an asykura ni’mataka allati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shalihan tardhahu wa adkhilni birahmatika fi ‘ibadikash-shalihin – Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS 27:19)

Guru yang bijak niscaya mengabadikan ilmunya dengan menulis, sesuai dengan kearifan Yunani, “Verba volant, scripta manent – Kata-kata lisan lenyap menguap, sementara tulisan abadi menetap.” “Para pujangga semua negara adalah penerjemah keabadian.” Demikian kata Helen Keller. Benjamin Franklin pun berpesan, “Jika tak ingin dilupakan setelah meninggal dunia, lakukanlah apa yang patut ditulis atau tulislah sesuatu yang patut dibaca.” Hal itu sejalan dengan pesan Pramoedya Ananta Toer, “Menulislah, jika tidak menulis, engkau akan tersingkir dari panggung peradaban dan dari pusaran sejarah.”

Untuk menjadi guru sekaligus penulis tidak perlu bakat, karena sesungguhnya bakat ialah kesabaran dan ketekunan yang lama. Pekerjaan yang dilakukan dengan hati menyenangkan hati. Sang Alkemis, tokoh dalam novel spiritual Paulo Coelho menasihati, “Cita-citakan sesuatu yang agung dan mulia, niscaya alam semesta bahu-membahu membantu mewujudkan cita-citamu.”

Filosof Friedrich Nietszche pun mencurahkan isi hati,  ”Kebanggaan terbesar seorang guru ialah jika muridnya mengungguli dirinya.” Guru pun niscaya selalu ingat bahwa satu teladan lebih berpengaruh daripada sepuluh nasihat; guru yang berhenti belajar seyogianya berhenti mengajar.

Nilai tambah pemikiran yang dibukukan adalah sebagaimana dituturkan oleh Sayyid Quthb, “Sebuah peluru hanya bisa menembus satu kepala, sedangkan sebuah buku dapat menembus ribuan, bahkan jutaan kepala.” Buya Hamka pun berpesan, “Penulis harus lebih banyak membaca daripada menulis.”

Buku adalah teman setia di setiap ruang dan waktu.

Buku adalah sumber ilmu dan kepanjangan tangan guru.

Buku adalah barometer zaman dan penggerak perubahan.

Kesadaran adalah matahari.

Kesabaran adalah bumi.

Keberanian menjadi cakrawala.

Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

(WS Rendra)

Berhenti, tak ada tempat di jalan ini.

Sikap lamban berarti mati.

Siapa bergerak, dialah yang maju ke depan.

Siapa berhenti, sejenak sekali pun, pasti tergilas. 

(Mohammad Iqbal)

Terima kasihku kuucapkan.

Pada guruku yang tulus.

Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan.

Untuk bekalku nanti.

Setiap hari kudibimbingnya.

Agar tumbuhlah bakatku.

Kan kuingat selalu nasihat guruku.

Terima kasih kuucapkan.

One comment

  1. Tulisan yang dapat membangkitkan semangat, lebih” sebagai seorang gurueskipun sudah purna secara formal. Terimakasih ustadz Muhammad Khirzin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *