Menunaikan Amanah

Posted by

Amanah ialah sesuatu yang dipercayakan atau dititipkan kepada orang lain. Kemerdekaan Indonesia merupakan amanah dari para pahlawan bangsa. Anak adalah amanah Allah swt kepada orangtua. Murid adalah amanah kepada guru. Negara adalah amanah kepada pemerintah.

Allah swt menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan.

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya. (QS 95:4-6)

            Sesuai dengan mutu ciptaannya, manusia mendapat amanah untuk mengelola bumi. Hal itu diilustrasikan dengan ketidaksanggupan langit, bumi, dan gunung-gunung untuk memikulnya.

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, lalu amanah itu dipikul oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan bodoh. (QS 33:72)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Al-Kilbi, dari Abi Shalih, dari Ibnu Abbas, setelah pembebasan Kota Makkah Rasulullah Saw memanggil Utsman bin Talhah untuk meminta kunci Ka’bah. Ketika Utsman datang menghadap Nabi untuk menyerahkan kunci, berdirilah Abbas dan berkata, “Ya Rasulullah demi Allah, serahkan kunci itu kepadaku untuk saya rangkap jabatan tersebut dengan jabatan siqayah, urusan pengairan.” Utsman menarik kembali tangannya. Maka Rasulullah Saw bersabda, “Berikanlah kunci itu kepadaku, wahai Utsman!” Utsman berkata, “Ini  amanat dari Allah, Berdirilah Rasulullah Saw membuka Ka’bah lalu bertawaf di Baitullah. Turunlah Jibril membawa perintah supaya kunci itu diserahkan kembali kepada Utsman. Rasulullah Saw melaksanakan perintah itu sambil membaca ayat berikut.

Sungguh Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanah kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS 4:58)

Riwayat lain dikemukakan oleh Syu’bah dari Hajaj yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa pada saat pembebasan Kota Makkah Rasulullah Saw meminta kunci Ka’bah dari Utsman bin Talhah, lalu beliau membuka dan memasukinya. Ketika keluar dari Ka’bah beliau membaca ayat itu kemudian memanggil Utsman bin Talhah untuk menyerahkan kembali kunci itu. Umar bin Khaththab menyimpulkan bahwa ayat ini turun di dalam Ka’bah, karena ketika Rasulullah Saw keluar dari Ka’bah beliau membawa ayat ini dan Umar bin Khaththab bersumpah bahwa ia belum pernah mendengar ayat itu sebelumnya.

Ayat itu terletak di antara ayat-ayat yang membicarakan tentang balasan orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bersama rasul-Nya, dan mereka yang memegang kekuasaan, bertanggung jawab, dapat mengambil keputusan, dan menangani berbagai persoalan di antara mereka.

Permulaan ayat ini mengandung dua pesan mengenai amanah (tanggung jawab).  Pertama, seorang Mukmin hendaknya menunaikan amanah jika ia diamanahi. Amanah itu dapat terdiri atas bermacam-macam. Harta, barang-barang, rencana, kepercayaan, rahasia, dan sebagainya. Ia juga dapat berupa ilmu pengetahuan, bakat, kesempatan, dan lain-lain yang diharapkan bermanfaat untuk sesama manusia. Jika berupa jabatan, ia jalani sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam ruang lingkup menyangkut masalah hak-hak dan kewajibannya.

Presiden sebagai Kepala Negara Republik Indonesia mengemban amanah untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, bepersatuan Indonesia, dan berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Para menteri adalah anggota kabinet yang membantu presiden dalam melaksanakan tugas yang diembannya.

Gubernur adalah Kepala Daerah Tingkat I/Propinsi yang mengemban amanah sebagaimana diemban Kepala Negara pada wilayahnya. Walikota/Bupati adalah Kepada Daerah Tingkat II yang mengemban amanah sebagaimana diemban Kepala Negara pada kota/kabupatennya. Demikian seterusnya.

Prof. Suteki, SH., M.Hum, menyatakan bahwa sesuai Tap MPR No VI tahun 2001, tidak ada salahnya Presiden mundur, jika tidak mampu dan tidak dipercaya rakyat. Hal itu berlaku juga bagi para Menteri, Gubernur, Walikota/Bupati, Camat, Lurah/Kepala Desa, Ketua RK sampai dengan Ketua RT, ataupun pemegang jabatan-jabatan lainnya dalam kehidupan bersama.

Komersialisasi jabatan tentu saja dapat disebut penghianatan. Nepotisme termasuk dalam kategori itu. Jika berupa hutang, tentu dilunasi sesuai dengan kesanggupan yang telah diikrarkan, sekalipun transaksi hutang piutang itu tak tercatat. Jika berupa janji tertulis maupun tidak tertulis, perjanjian itu harus dihormati dan dipenuhi dengan segenap kesungguhan, kecuali jika secara moral tidak benar, maka dihindari (QS 2:282-283).

Kedua, Mukmin hendaknya menyerahkan amanah kepada pihak yang dipandang layak menerimanya. Jika ia pejabat, maka ia mesti bersungguh-sungguh dalam mengangkat personalia yang membantunya. Bukankah Nabi Saw pernah bersabda bahwa di antara tanda-tanda akan datangnya kiamat ialah manakala suatu urusan diserahkan kepada pihak yang tidak memiliki kualifikasi untuk mengurusi  masalah tersebut. (HR Bukhari)

Wewenang untuk mengambil keputusan dan menangani berbagai macam persoalan adalah termasuk dalam ruang lingkup menunaikan amanah. Dalam Islam tidak ada pemisahan yang tajam antara soal-soal yang sakral dengan yang sekuler. Tuhan Yang Maha Esa adalah Dzat Yang Maha berwenang. Suatu pemerintah diharapkan dapat berjalan di atas kebenaran, dan pejabat (ulil amri) dapat bertindak sebagai imam yang saleh, benar, dan bersih. Kita pun harus menghormati dan mematuhi kekuasaan yang demikian. Kalau tidak, segala ketertiban dan disiplin tak akan ada artinya.

Di antara wewenang pejabat tertentu adalah mengadili warganya yang berselisih. Untuk itu ia harus bertindak adil. Untuk menegakkan keadilan orang harus menjadi saksi demi Allah sekalipun itu akan mengganggu kepentingan diri sendiri seperti yang dapat dibayangkan, atau kepentingan mereka yang dekat kepadanya, atau yang dia sayangi. “Keadilan harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh.” (Peribahasa Latin).

Keadilan Islam lebih tinggi daripada keadilan formal menurut hukum mana pun yang dibuat manusia. Bahkan ia lebih ampuh daripada keadilan yang paling halus sekalipun dalam pemikiran manusia yang bijak. Ia menembus sampai ke lubuk perasaan yang paling dalam. Muslim melakukannya seolah berada di hadapan Allah yang mengetahui segala benda segala, kerja, dan gerak hati.

Ada sementara orang yang mungkin cenderung membantu pihak yang kaya karena mengharapkan sesuatu dari pihaknya. Ada pula yang cenderung mau membantu pihak yang miskin, karena umumnya mereka tak berdaya. Sikap memihak ke mana pun tidak benar. Baik yang kaya maupun miskin keduanya berada di bawah perlindungan Allah, sepanjang kepentingan mereka sah. Mereka tidak dapat mengharapkan keuntungan dengan mengorbankan pihak lain. Tuhan akan melindungi urusannya itu lebih baik daripada yang dapat dilakukan manusia (QS 4:135).

Mukmin mesti menjadi penegak keadilan sebagai saksi-saksi karena Allah, meskipun terhadap diri sendiri, orangtua maupun kerabat. Kebencian orang terhadap pejabat tidak boleh membuatnya berlaku tidak adil (QS 5:8). Berlaku adil dan berbuat baik dalam suasana yang menyenangkan atau dalam suasana netral tentu patut dipuji, namun kita akan benar-benar diuji untuk berlaku adil terhadap orang yang membenci kita, atau terhadap orang yang tidak kita sukai. Kita dituntut mempunyai kesadaran moral yang tinggi. Menjaga amanat merupakan salah satu ciri orang beriman yang tekun dan khusyuk dalam shalat yang akhirnya mendapat kemenangan, kejayaan, dan keberhasilan; mencapai tujuan atau diselamatkan dari kesedihan dan segala kejahatan (QS 23:8, 70:32). Kemenangan atau keberhasilan itu bisa datang di dunia ini, tapi yang pasti dan kekal ialah di akhirat kelak.[]

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *