Menuntut Ilmu, Dulu dan Kini

Posted by

Oleh: Elvara Norma Aroyandini *)

Perintah menuntut ilmu dalam Islam

Islam merupakan agama yang mendorong pemeluknya untuk kaya akan ilmu pengetahuan. Yang mendasarinya yaitu wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, Al-Qur’an surah Al-Alaq (96): 1-5 yang perupakan perintah untuk “membaca”, dimana membaca sendiri merupakan salah satu gerbang masuknya ilmu pengetahuan ke dalam diri manusia.

Ayat ini diturunkan bahkan lebih dahulu dari perintah untuk melakukan shalat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya. Hal ini tersebab dalam melakukan ibadah-ibadah tersebut tentu tidak asal melakukan, melainkan membutuhkan suatu tuntunan atau ilmu yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum mengamalkan suatu ibadah. Ibadah bahkan menjadi sia-sia, jika dilakukan tanpa didasari keilmuan yang benar.

Baca juga : Teladan Ahli Ilmu dan Ibadah

Tidak berhenti pada “memberikan penekanan akan pentingnya ilmu”, bersama dengan itu Allah Swt juga memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 yang menyatakan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.

Kebenaran firman Allah Swt ini dapat kita saksikan sendiri di lingkungan masyarakat kita, bahwa mereka yang dikaruniai ilmu akan memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang tidak berilmu.

Ulama, kiai, ustaz, yang notabene memiliki banyak ilmu agama akan dihormati dan diikuti ajakannya oleh santri-santri dan masyarakat pada umumnya; mereka yang menjadi guru, dosen, hingga profesor yang memiliki ilmu dunia akan dicintai oleh peserta didik dan diharapkan oleh masyarakat sebagai tombak perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik; hingga masyarakat biasa sekalipun, jika mereka memiliki ilmu pengetahuan, maka ia akan memiliki derajat yang labih tinggi, baik di hadapan Allah Swt maupun di hadapan manusia.

Baca juga : Buku, Ilmu, Harta, dan Kesombongan

Menuntut ilmu dunia dan akhirat

Sebagai muslim yang taat akan perintah Allah dan rasul-Nya, sudah seharusnya kita memenuhi diri dengan ilmu, baik ilmu dunia dan terlebih ilmu agama (akhirat). Ilmu agama merupakan ilmu yang dihukumi wajib untuk dimiliki kaum muslimin dan muslimat. Karena wajib, maka masing-masing individu harus mencari dan mendapatkannya sebagai bekal saat nanti menuju hari pembalasan, tanpa dapat diwakilkan oleh siapapun.

Sementara ilmu dunia, meski dihukumi tidak wajib pun, juga harus tetap dikejar, karena ilmu dunia merupakan sarana untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia yang sekaligus menjadi perantara usaha untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat.

Baca juga : Keutamaan Menuntut Ilmu

Misalnya yaitu seorang muslim belajar ilmu untuk membuat aplikasi android yang kemudian diaplikasikan untuk membuat aplikasi Qur’an Digital, aplikasi pengingat shalat, dan aplikasi komik islam untuk anak. Dalam kehidupan dunia, mereka para pembangun aplikasi (developer) tersebut akan memperoleh kebahagiaan dan kecukupan materi, bersamaan dengan itu mereka juga sedang menabung pahala jariyah berupa ilmu yang bermanfaat, sehingga selama orang masih menggunakan aplikasi dan melakukan kebaikan berdasarkan aplikasi tersebut, maka selama itu pula insyaaallah akan ada pahala yang mengalir untuk mereka.

Menuntut ilmu, dulu dan kini

Seiring perkembangan zaman dan berbagai perubahan yang ada, ternyata juga terjadi banyak perbadaan dalam menuntut ilmu. Hemat penulis, setidaknya terdapat 4 hal yang membedakan antara menuntut ilmu di masa lampau dengan masa sekarang.

Pertama, kelimpahan sumber ilmu. Jika dilihat dari banyaknya sumber ilmu, barangkali di masa ulama dahulu juga telah banyak sumber ilmu pengetahuan, meski memang masih tetap lebih banyak di zaman sekarang. Ini karena di zaman dahulu, sekitar abad 8 Hijriyah misalnya, belum ada mesin fotocopy maupun mesin cetak seperti sekarang ini, sehingga untuk membaca buku, ulama terdahulu terbiasa menyalin kitab-kitab tebal dari sumber aslinya.

Baca juga : Pesan Penting untuk Pencari Ilmu

Misalnya yaitu Imam Al-Jurjani yang menulis sebanyak 90 halaman pada setiap malam, demi dapat merampungkan kitab yang akan dipelajarinya. Sementara hari ini, buku-buku dan sumber ilmu lainnya tersedia dengan sangat melimpah ruah. Selain itu, dari masing-masing sumber yang ada dapat dinikmati salinannya dengan sangat mudah.

Bahkan, tidak hanya dengan bentuk cetak yang relatif terbatas, tetapi saat ini juga telah tersedia salinan ilmu pengetahuan dalam bentuk softcopy yang diunggah di internet dan dapat dinikmati secara gratis oleh masing-masing individu, tanpa harus menulis ulang seperti zaman Imam Al-Jurjani.

Kedua, kemudahan akses. Zaman dahulu, akses ilmu pengetahuan sangat sulit. Misalnya yaitu ketika Imam Syafi’i ingin mendapatkan ilmu dari Imam Malik, ia harus menempuh perjalanan menuju Madinah selama delapan hari delapan malam, tetapi semua itu tetap beliau lakukan dengan sepenuh cinta, bahkan selama perjalanan beliau berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sepuluh kali.

Baca juga : Menambah Ilmu

Berkat usaha keras ulama terdahulu, kini kita tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan ilmu. Jangankan harus menempuh perjalanan delapan hari delapan malam, bahkan hanya sambil bersantai di dalam rumah, kita telah mampu berkeliling dunia untuk menikmati ilmu dari berbagai ulama di seluruh belahan dunia.

Bahkan, ilmu tersebut tidak hanya melalui buku maupun ebook yang mengharuskan kita untuk membaca, karena saat ini telah tersedia dengan berbagai platform seperti youtube yang memungkinkan kita mengakses ilmu secara “langsung” kepada ulama dengan melihat video yang menampilkan seorang ulama sedang menyampaikan ilmu di suatu tempat.

Jika menginginkan dalam bentuk tulisan, maka tulisan ulama-ulama itu dapat langsung didapatkan dengan sekali klik melalui laman yang tersedia di internet dan dapat dibaca kapanpun dan dimanapun. Secara umum, kemudahan akses di masa kini sangat jauh lebih mudah dibandingkan dengan masa lalu.

Ketiga, sarana penunjang. Di masa lampau, alat yang digunakan oleh ulama untuk mengikat ilmunya hanya berupa tinta atau pena dan beberapa lembar kertas. Sementara kini, aktivitas mencatat selain dapat dilakukan dengan pena dan buku, juga dapat dilakukan dengan berbagai gadget, seperti PC dan smartphone yang didalamnya terdapat softwere dan aplikasi yang memungkinkan penggunanya mencatat dengan mudah.

Selain mencatat, saat ini juga telah tersedia kemudahan untuk dapat merekam suara guru, sehingga nantinya ilmu yang telah direkam dapat diputar kembali untuk menyegarkan ingatan di masa mendatang. Adanya teknologi internet bahkan memudahkan semua orang untuk mengunggah hasil rekaman belajarnya, yang kemudian dapat dinikmati oleh semua orang di dunia.

Perbedaan keempat atau terakhir menurut pengamatan penulis adalah perbedaan dalam hal kegigihan dan semangat. Secara umum, ketiga perbedaan yang telah disebutkan sebelumnya menyatakan bahwa menuntut ilmu di masa kini dalam segala aspeknya adalah lebih mudah daripada masa ulama terdahulu.

Baca juga : Berjamaah di Ruang Virtual

Ternyata, dengan segala kemudahan yang ada tidak lantas membuat manusia di masa kini menjadi lebih gigih dan semangat dalam mencari ilmu, tetapi justru sebaliknya. Jangankan ingin seperti Ibnul Qayim yang membaca tidak kurang dari 20.000 jilid kitab dalam hidupnya atau Ibnu Al-Jauzi yang berhasil menulis 2.000 jilid buku; hanya untuk membaca satu buku dalam satu bulan atau bahkan satu tahun saja bahkan kita tidak mampu, atau lebih tepatnya adalah tidak pernah punya semangat dan kemauan untuk itu, meskipun berbagai kemudahan tersedia di depan mata.

Belum merasakan manisnya ilmu

Barangkali, semua itu terjadi karena kita belum merasakan manisnya ilmu. Ulama-ulama terdahulu dengan suka rela melakukan aktivitas yang bagi kita di masa kini teramat berat tersebut, karena mereka telah merasakan manisnya menuntut ilmu, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Al-Jauzi bahwa baginya kenikmatan menuntut ilmu lebih manis dari madu.

Lelah dan sakitnya menempuh perjalanan hingga ratusan kilometer bahkan tidak pernah terasa dan luluh lantak begitu saja tatkala menemukan ganti berupa menisnya ilmu yang didapatkan. Atau seperti kata Najwa Shihab, bahwa tidak sukanya kita dengan membaca adalah karena kita belum jatuh cinta dengannya.

Maka kemudian beliau menyarankan agar kita dapat menemukan satu buku yang membuat kita jatuh cinta dengannya, yang kemudian seterusnya kita akan jatuh cinta dengan membaca.

Simpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa penuntut ilmu di masa kini telah dikaruniai Allah Swt berbagai kemudahan yang seharusnya menjadikannya jauh lebih hebat dibandingkan orang-orang di masa lampau, tetapi ternyata justru sebaliknya, dimana ditengah kesulitan yang dirasakan, ulama terdahulu justru jauh lebih excellent.

Hal ini barangkali karena umat di masa ini belum merasakan manisnya ilmu sebagaimana ulama terdahulu yang karena manisnya ilmu dapat menghilangkan segala lelah dan sakit yang dirasakan dalam perjalanannya menuntut ilmu.

*) Penulis merupakan mahasiswi program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan sekretaris bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kabupaten Sleman 2018-2019.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *