Merawat Dua Kalimat Syahadat

Posted by

Oleh: Abdur Rauf*)

masa-kini.id – Dua kalimat syahadat adalah ikrar sumpah setia kita dengan bersaksi dan meyakini sepenuh hati bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dengan dua kalimat syahadat, maka kita pun telah menyatakan diri sepenuhnya bahwa kita telah memeluk Islam. Dengan demikian, dua kalimat syahadat adalah sebagai wujud penyerahan diri kita secara total hanya kepada Allah Swt.

Dua kalimat syahadat menuntut kita untuk selalu tunduk dan patuh dalam menjalankan ketentuan dan ketetapan Allah Swt, dan mengikuti seruan-seruan Rasulullah Saw. Dua kalimat syahadat itu tidak cukup jika hanya di hati dan lisan semata, tapi harus juga terejawantahkan melalui amal perbuatan. Oleh sebab itu, hati, lisan, dan amal perbuatan adalah dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari kesaksian kita terhadap dua kalimat syahadat tersebut.

Baca juga : Karakteristik Penafsiran Al-Qur’an Situs-situs ‘Islam Radikal’ (III)

Merawat kesucian dan kemurnian dua kalimat syahadat merupakan kewajiban kita sebagai muslim. Dengan kalimat itulah kita hidup dan mati. Bahkan Al-Qur’an dengan tegas menyeru kepada kita supaya bersungguh-sungguh merawat keislaman kita (QS. 3: 102). Sebab kita tidak tahu bagaimana nasib dua kalimat syahadat itu di pengujung hayat kita. Oleh sebab itu, kita perlu mengetahui apa saja hal-hal yang dapat merusak dua kalimat syahadat itu. Tujuannya adalah supaya kita dapat berhati-hati dan tidak terjerumus ke dalam kubangan kekufuran.

Profesor Yunahar Ilyas pernah menulis dalam bukunya Kuliah Aqidah Islam ada 20 hal yang dapat merusak dua kalimat syahadat. Di antaranya: (1) Bertawakal bukan kepada Allah Swt (QS. 5: 23); (2) Tidak mengakui bahwa semua nikmat lahir maupun batin adalah karunia Allah Swt (QS. 31: 20); (3) Beramal dengan tujuan selain Allah Swt (QS. 6: 162-163); (4) Memberikan hak menghalalkan dan mengharamkan, hak memerintah dan melarang, atau hak menentukan syariat atau hukum pada umumnya kepada selain Allah Swt (QS. 6: 57); (5) Taat secara mutlak kepada selain Allah Swt dan Rasul-Nya (QS. 26: 151-152);

(6) Tidak menegakkan hukum Allah Swt (QS. 5: 44 dan QS. 4: 65); (7) Membenci Islam, seluruh atau sebagiannya (QS. 47: 8-9); (8) Mencintai kehidupan dunia melebihi akhirat atau menjadikan dunia segala-galanya (QS. 14: 2-3); (9) Memperolok-olok Al-Qur’an dan Sunnah atau orang-orang yang menegakkan keduanya, atau memperolok-olok hukum Allah Swt atau syiar Islam (QS. 9: 64-65); (10) Menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Swt, dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya (QS. 16: 116 dan QS. 16: 105);

Baca juga : Perlunya Beragama yang “Ngintelek”

(11) Tidak beriman dengan seluruh nashnash Al-Qur’an dan Sunnah (QS. 2: 85); (12) Mengangkat orang-orang kafir dan munafik menjadi pemimpin dan tidak mencintai orang-orang yang berakidah Islam (QS. 5: 51 dan QS. 4: 138-139); (13) Tidak beradab dalam bergaul dengan Rasulullah Saw (QS. 49: 2); (14) Tidak menyenangi tauhid, malah menyenangi kemusyrikan (QS. 39: 45); (15) Menyatakan bahwa makna yang tersirat (batin) dari suatu ayat bertentangan dengan makna yang tersurat (sesuai dengan pengertian bahasa) (QS. 12: 2 dan QS. 13: 37);

(16) Memungkiri salah satu asma, sifat dan af’al Allah Swt (QS. 7: 180, QS. 17: 110, QS. 42: 11, dan QS. 112: 1); (17) Memungkiri salah satu sifat Rasulullah Saw yang telah ditetapkan oleh Allah Swt, atau memberinya sifat yang tidak baik, atau tidak meyakininya sebagai contoh teladan utama bagi umat manusia (QS. 33: 21, QS. 68: 1-6, QS. 33: 40, QS. 21: 107, QS. 34: 28); (18) Mengkafirkan orang Islam atau menghalalkan darahnya, atau tidak mengkafirkan orang kafir (Al-Hadis); (19) Beribadah bukan kepada Allah Swt (QS. 13: 14); dan (20) Melakukan syirik kecil (Al-Hadis).

Keduapuluh hal di atas perlu kita pahami dengan baik dalam rangka merawat dan menyelamatkan akidah kita sebagai muslim supaya tidak menyimpang dan terseret ke dalam kesesatan. Sebab, kesesatan akidah akan membawa petaka besar bagi kehidupan kita. Dengan demikian, keselamatan akidah menjadi kunci bagi keselamatan hidup kita baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan menjauhkan kita dari jalan yang sesat.

Penulis adalah Alumni FAI UAD dan FUPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *