Mimpi Tentang Ketahanan Pangan

Posted by

Disebut sebagai negara agraris sudah pasti karena latar belakang Indonesia yang mempunyai tanah subur dan kaya akan keanekeragaman hayati di dalamnya. Hal ini juga berkaitan dengan letak geografis Indonesia yang berada di garis equator dan kemungkinanya mendapat sinar matahari sepanjang tahun.

Indonesia yang beriklim tropis hanya mempunyai dua musim yaitu kemarau dan penghujan. Bulan April hingga September adalah musim kemarau sedangkan Oktober hingga Maret untuk musim penghujan. Namun, itu hanya pengantar dari pelajaran IPS di bangku sekolah dasar dulu. Sekarang ini musim kemarau atau penghujan bisa datang lebih cepat bahkan juga lebih lama dari rumus dasar itu. Mungkin ini disebabkan oleh pemanasan global.

Banyaknya jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia, masing-masing mempunyai waktu terbaik untuk menyemai dan menanamnya. Dengan pertimbangan itupula kemudian aktivitas pertanian juga menyesuaikan dengan jenis tanaman hingga metode perawatannya berdasarkan musim yang sedang berlangsung.

Seiring dengan perubahan zaman aktivitas pertanian seolah dianggap kurang menarik dan menjanjikan. Setidaknya itu terlihat dari pelaku pertanian di desa yang didominasi oleh orang-orang berusia lanjut. Sedangkan para pemudanya yang masih dalam usia produktif menaruh mimpi dan harapan untuk merantau dan mendapat pekerjaan di kota besar.

Entah apa yang membuat disrupsi sosial ini terjadi. Seolah hidup menjadi seorang petani adalah ketinggalan jaman dan seolah desa itu selalu menjadi yang terbelakang. Tapi, bukankah untuk bisa menciptakan ketahanan pangan juga dimulai dari desa melalui petani?

Membayangkan jika semua anak muda bercita-cita untuk menjadi pekerja kantoran rasanya akan menjadi petaka. Lalu melihat hutan dan sawah tak tergarap hingga mengalami alih fungsi menjadi bisnis properti. Itu semua adalah mimpi buruk bagi negara yang mempunyai cita-cita besar untuk berdikari dan mempunyai ketahanan pangan.

Mau sehebat apapun penemuan dan sebrilian apapun sebuah ide jika itu hanya menguap hanya jadi sebatas pemikiran tanpa aksi ya sama saja. Mereka yang yang menjadi pejabat atau yang menjadi wakil kita di pemerintahan memang mahir membuat tata aturan yang sangat bersifat teknis dan mudah sekali mengatakan Indonesia harus bisa berdikari.

Kita harus adil sejak dalam pikiran. Untuk menjadi bangsa yang besar dan mandiri mari mencoba merubah pola pikir kita. Misalnya saja, dalam hal impor barang khususnya produk pertanian. Dalih untuk menyeimbangkan harga dan memenuhi kebutuhan pasar mari kita ubah dengan satu pertanyaan saja: sejauh mana kita peduli dan serius memperhatikan sektor pertanian lengkap dengan hajat hidup petaninya?

Dari pertanyaan itu saja sudah bisa menjawab alasan kenapa kita masih menggantungkan diri pada impor. Jika saja negara hadir dan serius membangun industri pertanian rasanya tak akan ada lagi petani yang bingung dengan harga pasar yang anjlok. Lalu ragu untuk memanen hasil jerih payah mereka sendiri kemudian membiarkannya busuk.

“Pasar bisa diciptakan”. Ya, saya jadi terngiang oleh potongan lagu Efek Rumah Kaca itu. Mungkin salah satu simpul masalah pertanian itu adalah rendahnya minat anak muda untuk mau jadi petani. Berandai-andai, gimana jadinya ya misalkan buzzer itu dibayar juga untuk selalu menaikan isu yang menarik seputar pertanian? Bukan hanya politik praktis saja.

 Ya, membuat riuh di media sosial lalu membawa dampak untuk kehidupan sosio kultural di masyarakat. Setidaknya untuk menumbuhkan rasa ingin tau tentang apa itu pertanian. Lalu kemudian berharap muncul kemauan untuk mempelajarinya lebih dalam.

Jika hal yang nirguna membuat hoax untuk menimbulkan kebencian saja bisa, seharusnya memviralkan isu yang membawa banyak manfaat untuk sesama juga bisa. Agar banyak orang sadar betapa vitalnya sektor pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Beberapa waktu yang lalu di Jogja sekelompok orang secara swadaya melakukan aksi pembagian bibit tanaman secara gratis. Siapapun boleh mengambil dan menanam. Aneka jenis tanaman sayur dan buah bisa diambil cuma-cuma.

Dari fenomena ini, asa dan kemauan untuk mewujudkan ketahanan pangan itu masih ada. Hanya kemauan mereka seolah bertepuk sebelah tangan jika impor berlebih masih terus dilakukan. Bukan malah mendongkrak produktivitas pertanian dalam negeri melalui program-program yang membantu para petani.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *