Minangkabau dan Pesisir Timur Sumatra sebelum Islamisasi abad ke-14

Posted by

Mendiskusikan proses pertemuan orang Minangkabau dengan “Islam”, dan banyak wilayah pesisir Asia Tenggara lainnya, tidak bisa lepas dari kondisi perdagangan maritim global abad ke-15 sampai 17. Sebagaimana dinyatakan Anthony Reid sebagai the age of commerce, daerah-daerah Asia Tenggara pada periode itu terkoneksi secara langsung dan intensif dengan Cina dan India serta antarkota pesisir lainnya di Asia. Namun, interkoneksi abad ke-15 tidaklah berangkat dari ruang hampa, melainkan sudah terjalin berabad-abad sebelumnya dalam pola yang berbeda.

Sebagaimana jamak kita ketahui, sejak abad ke-7 di wilayah perairan timur Sumatra hingga selat Malaka terdapat kekuasaan kerajaan besar, yaitu Sriwijaya. Kemudian, pada abad ke-11 kekuatan politik Sriwijaya semakin melemah. Pasca-keruntuhannya, Kerajaan Sriwijaya diteruskan oleh Kerajaan Malayu. Disinggung oleh Leonard Andaya, di bawah kekuasaan Malayu inilah kemudian cikal bakal budaya Melayu terkonstruksi, bahkan menjadi dasar identitas kultur Minangkabau.[1]

Terkait apakah luas geopolitik Malayu sama dengan Sriwijaya atau lebih luas, itu masih belum bisa saya pastikan. Akan tetapi, Kerajaan Malayu mampu melebarkan sayap kekuasaannya yang tidak saja di pesisir, tetapi hingga ke dataran tinggi hulu Sungai Batang Hari dan Indragiri. Inilah yang nantinya menjadi Kerajaan Minangkabau. Hal ini agak berbeda dibandingkan Sriwijaya yang memfokuskan kekuasaannya di pesisir guna mendirikan kekuatan maritim.

Belumlah terang kapan tepatnya Kerajaan Minangkabau berdiri. Bila dihitung berdasar lamanya kekuasaan raja tersohornya, maka ini sudah ada sejak abad ke-14. Kerajaan bercorak Buddha yang dipimpin Adityawarman (1356-1375) ini, juga merupakan bagian dari sistem perdagangan maritim global masa itu.[2] Perlu dipahami, Kerajaan Minangkabau meletakkan pusat pemeritahannya di pedalaman dan menguasai pegunungan Sumatra bagian tengah. Lalu, entreport aktivitas perdagangannya berada di pantai timur Sumatra.

Hubungan ekonomi dataran tinggi dan pantai timur Sumatra adalah konstruksi politis-historis kerajaan. Hal ini karena Kerajaan Minangkabau merupakan “pewaris utama” Kerajaan Sriwijaya yang memiliki kekuatan ekonomi maritim di perairan selat Malaka. Dugaan atas hubungan erat antara Minangkabau dan Sriwijaya juga diperkuat oleh penemuan Patung Bhairawa, yang dianggap penjelmaan Raja Adityawarman, dengan ornamen khas peninggalan kerajaan Buddha.

Sejak masa Sriwijaya hingga berdirinya otoritas Kerajaan Minangkabau sendiri abad ke-14, dataran tinggi berpenduduk padat ini merupakan penghasil komoditas beras dan emas. Bahkan, dikatakan Andaya sebagai pusat perdagangan di daerah pedalaman. Di sisi lain, pada abad ke-15 di Malaka muncul kekuatan politik baru menggantikan Malayu yang sudah runtuh. Namun, apakah kekuasaannya memengaruhi hubungan Minangkabau dengan pesisir timur Sumatra, saya masih perlu melakukan pendalaman terlebih dahulu.

Akhir kata, kesimpulan sementara saya menunjukkan bahwa kelahiran Minangkabau merupakan warisan kekuatan politik dan kultural dari Sriwijaya di masa lalu. Kemampuannya berdiri sebagai otoritas mandiri juga dikarenakan bargaining position Minangkabau sebagai produsen komoditas penting dalam hubungan ekonomi dengan pusat perdagangan di pesisir timur Sumatra. Lalu, bagaimana jadinya bila kekuatan ekonomi pesisir timur Sumatra melemah? Pertanyaan ini akan coba saya jawab dalam tulisan berikutnya.


[1] Leonard Andaya, Selat Malaka: Sejarah Perdagangan dan Etnisitas, hlm. 43.

[2] Anthony Reid, Menuju Sejarah Sumatra: antara Indonesia dan Dunia (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV, 2011), hlm. 3.

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *