Muhammad Alfatih Suryadilaga: Asosiate Profesor Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga

Posted by

masa-kini.id – Desa Tunggul merupakan salah satu desa yang berada di pesisir pantai laut Jawa. Letak secara geografis berada di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Sebagian besar mata pencaharian penduduk desa Tunggul adalah pertanian dan nelayan. Mereka menggantungkan kehidupannya dari hasil panen dan tangkapan ikan yang diperoleh. Di desa yang konon dirintis oleh santri Sunan Drajat inilah Muhammad Alfatih Suryadilaga kecil dilahirkan, pada Sabtu Kliwon, 26 Januari 1974. Ia dilahirkan dari seorang tokoh agama desa Tunggul, KH. Miftahul Fattah Amin dan seorang ibu bernama Hj. Nur Lailiyah Ghazali. Kakeknya adalah KH Muhammad Amin Musthofa (w. 1949), kiai-pendidik-pejuang yang menyebarkan dakwah Islam dari pantura Lamongan, Jawa Timur. Dari silsilah sang kakek nasabnya sampai ke Raden Brawijaya ke-5. Muhammad Alfatih Suryadilaga merupakan anak pertama dari delapan bersaudara. Ia dilahirkan kembar berdua, namun pada tahun 2010, kembaran beliau Ahmad Alfikri Suryadinata, mendahului menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Adapun ketujuh adik-adiknya semuanya perempuan.

Muhammad Alfatih Suryadilaga kecil menempuh pendidikan formal dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai Madrasah Aliyah (MA) di kampung halamannya, Lamongan Jawa Timur. Ia lulus dari MI Al-Amin, Tunggul, Paciran, Lamongan, pada tahun 1985. Untuk tingkat diatasnya, ditempuh pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tarbiyatut Thalabah, Kranji, Paciran, Lamongan di pagi hari dan SMP Al-Amin, Tunggul, Paciran, Lamongan di sore hari, keduanya lulus pada 1988. Sedangkan untuk jenjang Aliyah juga sama, ia mengambil bidang sosial (A3) Madrasah Aliyah (MA) Tarbiyatut Thalabah, Kranji, Paciran, Lamongan pada pagi hari dan bidang biologi (A2) SMA Al-Amin, Tunggul, Paciran, Lamongan sore harinya, keduanya berhasil diselesaikan pada tahun 1991. Disana ia mencecap ilmu kitab kuning dari KH Baqir Adelan, KH Salim Azhar, KH Nur Salim, dan KH Basyir Adelan. Setelahnya, ia mengambil program takhassus tahfidz Al-Qur’an dan tafsirnya di Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ) Diwek, Jombang, Jawa Timur selama dua tahun, 1991-1992. Disinilah, ia lebih mendalami ilmu agama dengan bimbingan para ulama tersohor.

Pendidikan sarjana Alfatih ditempuh di IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel Surabaya, dengan mengambil jurusan Akhwal Al-Syakhsiyyah atau Peradilan Agama pada Fakultas Syariah. Berkat kegigihan dalam menuntut ilmu, ia dapat menyelesaikannya dalam tempo waktu 3,5 tahun pada 1996, dan mendapat predikat wisudawan terbaik tingkat Fakultas. Setelah itu, Alfatih meneruskan ke jenjang pascasarjana pada program Islamic Studies IAIN (sekarang UIN) Alaudin, Makassar, dan berhasil lulus pada tahun 1998. Huru-hara reformasi ’98 dan tumbangnya rezim Presiden Soeharto tidak mengecilkan niat Alfatih untuk melanjutnya studinya. Ia mengambil program doktor konsentrasi Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kampus ini yang akan menjadi tempat pengabdiannya kelak. Pada tahun 2009, berhasil mempertahankan disertasi dengan judul Hadis-hadis tentang Ilmu dalam Kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini di hadapan promotor dan tim penguji. Dan, pada 2020 ini, kita berdoa semoga beliau segera dikukuhkan menjadi guru besar Ilmu Hadis di UIN Sunan Kalijaga.

Alfatih menikahi gadis cantik bernama Dwi Rina Khusniawati, S.S. pada 27 Juli 2001. Dari pernikahan dengan putri KH. Qomaruddin M. Chotim ini dikaruniahi tiga buah hati: Maulida Suryaning Aisha (Asha, lahir 26 Mei 2002), Muhammad Al-Aththar Putradilaga (Athar, lahir 06 Oktober 2004), dan Aufa Maziyya Putridilaga (Aufa, lahir 13 Mei 2009). Dalam dunia akademik, Alfatih cukup produktif menghasilkan karya ilmiah, baik berupa buku, jurnal, laporan penelitian, maupun tulisan serupa. Untuk lebih detail bisa dilihat disini: https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id

Kariernya dimulai sejak diangkat menjadi CPNS pada 1998, kemudian berlanjut diangkat menjadi PNS setahun sesudahnya, yakni 1999. Saat itu, formasi dosen terdiri dari tiga macam: alumni S-1, sedang menempuh S-2 dalam negeri, dan hasil pembibitan dosen. Alfatih masuk dalam kategori kedua, karena di tahun itu sedang menempuh pendidikan pascasarjana. Bersama dengan 20 teman seangkatan dari IAIN Alaudin, Makasar, Alfatih berfastabiqul-khairat, dan akhirnya perjuangan itu berbuah manis, saat ini semuanya telah diangkat menjadi abdi negara dalam lingkup yang berbeda tetapi satu tujuan.

Setelah menjadi dosen, tidak sedikit jabatan akademik yang disandangnya. Semata-mata ia maksudkan sebagai wujud pengabdian lillahi-ta’ala, dengan begitu selalu berusaha untuk menerima dengan lapang dada, gembira, serta ditunaikan sebaik-baiknya. Alfatih menjadi Kaprodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga 2016-2020, selain itu juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA), dan bulan lalu, Alfatih dilantik menjadi Wakil Dekan 1 Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga 2020-2024. Garis tangan hanya Tuhan yang berkehendak, pada saatnya nanti ia dilantik Menteri Agama sebagai UIN Sunan Kalijaga 1. Semoga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *