Mukmin

Posted by

Muslim, menurut Rasulullah, adalah pribadi yang mulut dan tangannya, termasuk keputusannya, menjamin keselamatan semua orang di sekitarnya. Jika tidak demikian, berarti bukan muslim. Jadi, Islam itu kata kerja, doing thing. Menjalankan Islam berarti menyelamatkan tanah, menyelamatkan sungai, menyelamatkan daun, menyelamatkan sesama manusia, menyelamatkan semua makhluk, dan seterusnya.

Pokoknya, metabolisme dan ekosistem kehidupan kita pelihara sedemikian rupa, itulah Islam. Produknya adalah salam.

Sementara mukmin itu senjatanya iman, tujuannya untuk membuat aman, doanya diakhiri amin. Mukmin adalah orang yang, kalau ada dia, amanlah harta semua orang, amanlah nyawa seluruh orang, dan amanlah kehormatan setiap orang. Laku mukmin itu amanah, sehingga orang di sekelilingnya merasa uman (kebagian).

Menjadi mukmin tidak cukup dengan ikrar lisan, namun harus dikonfirmasi dengan perbuatan. Ada tuntutan dan larangan yang harus dikerjakan dan ditinggalkan seorang mukmin. Sebanyak 89 kali seruan Allah untuk orang beriman dalam Al-Quran, seluruhnya diawali dengan kalimat “Ya ayyuhalladzina amanu”, dan ditambah satu yang langsung “Ayyuhal mu’minun.”

Silakan buka Alquran dan pelajari satu per satu. Dari seruan-seruan itu, kita menjadi tahu apa sesungguhnya yang dikehendaki dan tidak dikehendaki Allah dari pribadi mukmin. Sudah pula ada buku terbitan Zaman yang mengupas, yaitu “Seruan Tuhan untuk Orang-Orang Beriman” karya Dr Nurul Huda Maarif.

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin,” puji Rasulullah, “seluruh urusannya baik. Ini tidak terdapat kecuali pada diri mukmin. Apabila menerima kesenangan, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, dia bersabar, dan itu juga baik baginya.”

Kehebatan seorang mukmin, jika mengacu hadis di atas, karena dua perkara. Satu, sabar dan yang kedua, syukur. Boleh kita sebut syukur dulu, baru sabar. Tergantung situasi dan kondisi.

Yang jelas, kemampuan bersyukur berbanding sama dengan tingkat kebahagiaan. Semakin kita tidak mampu bersyukur, semakin kita tidak bahagia. Ada orang naik mobil satu miliar, karena tanpa rasa syukur, dia tidak bahagia. Ada orang naik motor, tapi karena sibuk sekali dengan rasa syukur, dia merasakan bahagia luar biasa.

Demikian pula sabar. Besar atau kecilnya derita ketika ditimpa masalah itu sangat tergantung sejauh mana kualitas kesabaran kita. Ibarat sakit gigi, semakin kita meradang, semakin sakit gigi menjadi-jadi. Namun, ketika kita mampu berdamai dengan keadaan, biasanya rasa sakit berangsur nyaman.

Setiap mukmin harus terus belajar syukur dan sabar. Melampiaskan itu bertentangan dengan nilai puasa, dan hasil dari kebiasaan melampiaskan pastilah stres, galau, frustrasi, dan seterusnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *