Mulia dengan Bekerja

Posted by

SEBELUMNYA harus kita sepakati dulu bahwa fokus kajian ini adalah untuk orang-orang yang berada dalam maqam ikhtiyar, yaitu masih membutuhkan kerja, karena masih menginginkan rumah megah, kendaraan mewah, pakaian bermerek, menguliahkan anak, dan semacamnya. Adapun mereka yang telah menempati maqam tajrid alias tidak lagi membutuhkan kerja, kita sampingkan dulu. Di antara sebab kenapa seseorang berada dalam maqam tajrid adalah masih kecil, lanjut usia, miliarder, atau mungkin menempuh pola hidup zuhud.

Bagi kita yang masih dalam maqam ikhtiyar, salah satu kenikmatan dan kemuliaan hidup ini tentu apabila kita bekerja. Bekerja berarti menggunakan daya-daya yang kita punya, berupa daya fisik, daya pikir, daya kalbu, daya hidup. Penggunaan satu dari empat daya pokok yang dianugerahkan Allah tersebut, betapa pun sederhananya, dapat melahirkan kerja. Mustahil kita dapat hidup tanpa menggunakan, minimal, salah satu dari daya-daya dimaksud.

Bekerja adalah suatu kemestian hidup. Tidak ada orang senang menganggur. Karena itu, setiap kita menginginkan pekerjaan mapan. Kebutuhan nafkah diri dan keluarga tidak mungkin dapat dipenuhi kecuali dengan jalan bekerja. Namun, selain urusan nafkah, bekerja merupakan bentuk aktualisasi diri. Dengan bekerja, kedirian kita juga menjadi lebih bermakna di hadapan Allah dan sesama. Ya, Islam sendiri mendorong umatnya supaya rajin bekerja.

Tidak tersedia peluang bagi umat Islam untuk bertumpu pantat sembari berpangku tangan. “Fa idza faraghta fanshab,” tutur Allah dalam surah Alam Nasyrah/94: 7. Menurut Prof M Quraish Shihab, faraghta berasal dari faragh yang berarti “kosong setelah sebelumnya penuh.” Kata ini digunakan untuk menggambarkan kekosongan yang didahului oleh kepenuhan, keluangan yang didahului oleh kesibukan. Sementara kata fanshab seakar dengan nashib atau nasib yang biasa dipahami sebagai “bagian tertentu yang diperoleh dalam kehidupan yang telah ditegakkan sehingga menjadi nyata dan tidak dapat/sulit dielakkan.” Jadi, ayat di atas hendak berpesan, “Maka apabila engkau telah berada di dalam keluangan, setelah tadinya engkau sibuk, maka bersungguh-sungguhlah bekerja sampai engkau letih, atau tegakkanlah persoalan baru sehingga menjadi nyata.”

Masih banyak firman Allah yang memerintahkan kita supaya bekerja. Antara lain, “Apabila shalat telah ditunaikan, maka menyebarlah kalian di muka bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung.” (QS Al-Jumuah/62: 10). Pengertian “menyebarlah kalian di muka bumi”, antara lain, mengacu kepada dua hal. Pertama, perintah untuk menyelesaikan tugas-tugas hidup seusai ibadah shalat Jumat. Kedua, larangan untuk berdiam diri, istirahat, tidur di masjid setelah ibadah shalat Jumat, mengingat masih banyak tugas-tugas hidup lain di luar masjid. Kemudian, ada ayat lain menyatakan bahwa dijadikannya siang terang adalah agar manusia mencari rezeki dari Allah (QS Al-Isra/17: 12), terlihatnya bahtera berlayar di lautan adalah supaya manusia mencari karunia Allah (QS An-Nahl/16: 14), serta adanya malam dan siang adalah biar manusia beristirahat di waktu malam dan bekerja di waktu siang (QS Al-Qashash/28: 73).

Para rasul, di samping sebagai ahli ibadah dan juru dakwah, adalah seorang pekerja keras. Nabi Syuaib, misalnya, adalah peternak kambing sukses. Menurut riwayat, jumlah kambing Nabi Syuaib mencapai ribuan ekor. Nabi Yusuf adalah kepala urusan logistik di Mesir. Kemudian Nabi Daud adalah seorang metalorgi alias ahli logam. Logam-logam keras dapat Nabi Daud lunakkan menjadi senjata dan kerajinan apa saja. Sedangkan Nabi Muhammad sendiri adalah pekerja tulen. Berkarier dari penggembala kambing hingga saudagar sukses yang melanglang buana ke berbagai negeri.

Tegasnya, hidup ini tidak boleh sepi dari kerja. Atau dalam istilah Al-Quran, hidup harus dipenuhi dengan amal saleh. Dari sini, dapat dipahami bahwa bekerja adalah suatu ibadah. Kalau demikian, ketulusan niat dalam bekerja adalah mutlak dilakukan. Dengan niat yang tulus kemudian dimulai dengan membaca Basmalah. Penghayatan dalam bekerja juga sangat penting. Apabila ini dilakukan, bekerja akan lebih bermakna dan melampaui batas-batas kepentingan duniawi, seperti sekadar ingin dapat upah.

Dalam kaitan ini, pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang dilakukan sepenuh hati. Apa saja jenis profesi dan jabatan kita, yang penting adalah kita menikmatinya. Dan, halal tentunya. Sebab, betapa pun kagumnya orang lain terhadap profesi dan jabatan kita, kalau kita sendiri tidak menikmatinya, tetap saja hati ini merana. Jangankan merasa bangga, yang ada justru saban hari berkeluh kesah. Padahal, di zaman serba sulit ini, umat Islam dituntut mampu survive, bahkan bangkit membangun peradaban seperti sedia kala. Syarat untuk itu tiada lain adalah dengan kerja keras dan kerja cerdas. Petikan lirik lagu “Persaingan” karya Rhoma Irama berikut pantas kita renungkan:

Di alam pembangunan, bekerjalah

Ilmu pengetahuan, tingkatkanlah

Siapa berpangku tangan, bermalasan

Pasti akan tergilas roda zaman

Apa pun pekerjaan, syukuri dan juga ditekuni

Karena banyak orang, siap mengganti

Di zaman macam ini, jangan punya rasa tinggi hati

Segudang orang pandai, banyak antri


Nah. Sekarang bagaimana prinsip bekerja sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah? Pertama, bekerja secara halal. Makna halal mencakup jenis pekerjaan sekaligus cara menjalankannya. Contohnya, mencalonkan diri sebagai presiden adalah halal. Tetapi jika caranya adalah dengan membeli suara rakyat, status hukumnya berubah menjadi haram. Jabatan yang semula halal menjadi haram karena disebabkan cara yang tidak benar.

Kedua, bekerja untuk menjaga diri supaya tidak menjadi benalu bagi orang lain. Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang berusia muda dan kuat tetapi mengemis. “Sungguh orang yang mau membawa tali atau kapak kemudian mengambil kayu bakar dan memikulnya di atas punggung adalah lebih baik dari orang yang mengemis kepada orang kaya, diberi atau ditolak,” tutur beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Tidak heran, para ulama besar, termasuk sufi, memandang kerja sebagai aktivitas mulia. Abu Iladah Al-Jaradi, seorang ulama besar, menyaksikan seseorang yang seharian shalat dan tidur di masjid. Al-Jaradi lalu berkata, “La an aroka tathlubu ma’asyaka ahabbu ilayya min an aroka fi zawatil masjid” (Saya lebih senang melihat kamu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupmu daripada melihat kamu tidak bekerja tetapi berdiam diri di sudut masjid seperti ini).

Ketiga, bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga. Ini hukumnya wajib. Tidak dapat diwakilkan, dan menunaikannya termasuk jihad. Rasulullah pernah berpesan, “Tidaklah seseorang memperoleh hasil terbaik melebihi yang dihasilkan oleh tangannya. Tidaklah pula sesuatu yang dinafkahkan kepada diri, keluarga, anak, dan pembantunya itu kecuali dihitung sebagai sedekah.” (HR Ibnu Majah). Karena itulah, ketika berjabat tangan dengan Muadz bin Jabal dan Rasulullah tahu bahwa tangan Muadz kasar akibat setiap hari bekerja demi keluarga, beliau mencium tangan Muadz seraya bersabda, “Tangan seperti inilah yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Keempat, bekerja untuk meringankan beban hidup tetangga. Penting dicatat, Islam mendorong kerja keras untuk kebutuhan diri dan keluarga, tetapi Islam juga melarang umatnya bersikap egois. Islam menganjurkan solidaritas sosial, dan mengecam keras sikap tutup mata dan telinga dari jerit tangis lingkungan sekitar. Firman Allah, “Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian harta yang Allah telah menjadikanmu berkuasa atasnya.” (QS Al-Hadid/57: 7). Lebih tegas, Allah bahkan menyebut orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan nasib kaum miskin dan yatim sebagai pendusta-pendusta agama (QS Al-Maun/107: 1-3). Demikian pentingnya kerja sekaligus juga panduan bekerja menurut Islam. Dapatlah kita simpulkan bahwa standar umum Muslim yang baik adalah mempunyai pekerjaan. Tidak memiliki pekerjaan akan dipandang remeh. Kecuali memang karena uzur, seperti sakit atau lemah fisik. Tidaklah benar kalau dikatakan bahwa yang banyak masuk surga adalah orang-orang melarat. Sekiranya Rasulullah pernah berkata demikian, tujuannya adalah untuk menghibur orang-orang melarat agar mereka tidak memiliki kekhawatiran kehabisan jatah surga. Islam menghormati orang miskin, tetapi tidak pernah memuji kemiskinan itu sendiri. Buktinya, berbagai upaya dianjurkan dalam Islam untuk mengatasi kemiskinan. Zakat, infak, sedekah, pembagian daging kurban, juga rampasan perang, dan serupanya adalah untuk menutupi atau setidaknya mengurangi terjadinya kemiskinan di tengah umat Islam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *