Musuh

Posted by

Kebanyakan orang begitu sibuk mengantisipasi musuh-musuh di luar diri, seperti rival kariernya, lawan politiknya, seteru komunitasnya, dan serupanya. Mereka lupa pada musuh paling berbahaya yang justru datang dari dalam diri sendiri. Itulah nafsu yang harus terus-menerus ditundukkan setiap menit, bahkan dalam hitungan detik.

Jika perang Uhud disebut jihad besar, perang melawan dorongan nafsu dikatakan jihad yang lebih besar. Dengan demikian, sepanjang perjalanan hidup, manusia dituntut waspada dan tidak boleh leha-leha. Terus waspada itulah takwa. Yaitu sikap selalu berjaga-jaga supaya hidup ini berjalan di atas perintah Allah dan terhindar dari larangan-Nya.

“Mintalah fatwa pada hatimu,” kata Rasulullah. Hati yang bersih dapat menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan bisikan-bisikan jahat dari dalam diri. Karena itu, kata sebuah falsafah, “Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan, tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu masih setia kepada hatinya sendiri.”

Modus bisikan-bisikan jahat itu semakin canggih seiring kemajuan zaman. Melawannya jelas merupakan jihad hidup yang paling panjang bagi manusia, siapa pun dia. Bahkan, jihad terberat manusia di era digital adalah selalu menahan diri untuk tidak mengunggah fitnah, gibah, hoaks, dan aneka informasi sampah meski dengan tujuan mulia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *