Nasionalisme dan Kritik Hamka dalam Roman Merantau Ke Deli

Posted by

masa-kini.id-Roman Merantau Ke Deli karya Buya Hamka tentu akan mengingatkan pembacanya pada penulisnya sendiri yang pernah merantau dan mengadu nasib di kota Medan. Di buku romannya itu, Buya Hamka menulis, “Tanah Deli khususnya dan Sumatera Timur pada umumnya telah terbuka sejak seratusan tahun yang lalu.[1] Tanah tersebut terbuka bagi pengusaha-pengusaha besar bangsa asing yang kemudian mereka itu menanam tembakau, karet, benang nenas dan kelapa sawit. Maka, sejak saat itulah berduyun-duyunlah orang datang ke sana untuk mengadu untungnya, dari setiap suku bangsa kita. Kuli-kuli kontrak dari Jawa, saudagar-saudagar dari Minangkabau, Tapanuli, Bawean, Banjar, Jakarta dan lain-lain. Setelah menempuh berbagai macam kesulitan, timbullah suatu perpaduan bangsa. Timbullah akhirnya satu keturunan atau generasi baru yang dinamai Anak Deli. Anak Deli inilah yang kemudian menjadi satu tunas yang paling mekar untuk memulai pembangunan bangsa Indonesia.[2]

Apa yang ditulis Buya Hamka di atas merupakan sebuah penggambaran jika tanah Deli ditempati oleh etnik yang beragam. Perantau yang datang ke sana hampir semuanya didasari oleh kepentingan ekonomi. Hal itu tak lain karena di tanah Deli sudah terbuka perkebunan tembakau yang maju sejak tahun 1863. Menurut sejarahnya, perkebunan itu dibuka oleh seorang Belanda bernama Jacob Nienhuys. Sejak abad ke-19, tembakau sudah menjadi komoditi yang memiliki pangsa pasar sangat luas karena merokok sudah mulai menjadi kebiasaan. Seiring berjalannya waktu, perkebunan itu berkembang semakin pesat, sehingga membutuhkan pekerja yang semakin banyak pula. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga kerja tersebut, pihak perkebunan kemudian mulai mencari kuli-kuli yang berasal dari berbagai daerah di luar kota Medan. Awalnya, kuli-kuli itu mereka datangkan dari Malaka dan Singapura, yang terdiri dari orang-orang Tiongkok yang bermukim di kedua negara tersebut.[3]

Sayangnya, pihak perkebunan berlaku semena-mena kepada para kuli, sehingga mengakibatkan banyak di antara mereka yang mati kelaparan, maka banyak di antara mereka yang tidak bersedia lagi bekerja di perkebunan tembakau yang ada di tanah Deli tersebut. Padahal, perkebunan sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat dan membutuhkan banyak tambahan tenaga kerja. Untuk menyelamatkan perusahaan, maka Pemerintah Inggris kemudian berusaha mendatangkan kuli-kuli dari daerah lain, di antaranya dari Jawa dan dataran tinggi Tiongkok.[4]

Di separuh akhir dari roman, Merantau Ke Deli, Buya Hamka menggambarkan suasana yang dilihat Poniem dan Sujono dalam perjalanannya dari kawasan perkebunan Deli ke kota Medan. “Tiap-tiap Poniem menolehkan mukanya dari jendela kereta api, kelihatanlah pohon getah berderet-deret bersusun, lurus-lurus dan panjang-panjang. Dilihatnya juga pohon kelapa sawit yang telah besar dan juga yang baru saja ditanam, pohon teh yang baru saja diambil atau yang baru diregas. Dilihatnya juga kuli-kuli yang tengah asyik menukik getah atau memetik buah kelapa sawit, laki-laki dan perempuan. Muka mereka hitam legam, hangus kena panas. Di dekat mereka berdirilah mandornya masing-masing dengan tongkat semambu di tangan, matanya mendelik dan kumisnya melentik di atas bibirnya. Di tempat yang agak jauh kelihatan tuan besar dengan celana pendek dan topi helm hud lebar, tengah memerintah dengan gagahnya kepada kuli-kuli itu.”[5]

Mengomentari tulisan Buya Hamka di atas, James R. Rush dalam karyanya, Adi Cerita Hamka, menyatakan bahwa apa yang digambarkan Hamka melalui keadaan yang dilihat oleh Poniem dan Sujono dari dalam kereta yang melaju dari Deli ke Medan tak lain adalah penggambaran dari bekerjanya sistem kapitalisme di negeri jajahan tropis (Hindia Belanda). Perkebunan yang makmur di Sumatera Utara dilihat sebagai pusat ekonomi maju sehingga menarik banyak perantau dari desa dan kota.[6] “Suara Deli yang demikian itulah,” tulis Hamka sebagaimana dikutip Rush dalam Adicerita-nya, “yang gemuruh kedengaran ke mana-mana, ke sekeliling pulau Sumatera. Itulah yang membawa kaki orang-orang Tapanuli dan orang Minangkabau datang ke Deli sejak tanahnya dibuka. Deli itulah yang menyeru orang Amerika mencari dollar, orang kontrak sepiring mie sekali sebulan, orang dusun mencari dan mengumpulkan dari setali ke setali.”[7]

Kehidupan masyarakat perkebunan yang beragam, yang disaksikannya sendiri di tanah Deli itulah yang kemudian menginspirasi Hamka menulis roman, Merantau Ke Deli. Setelah jadi, roman itu sungguh dicintai dan membuatnya merasa bangga, karena selain sumber tulisannya disaksikan sendiri, Buya Hamka juga pernah merantau dan mengadu peruntungan di tanah Deli.[8] Buya Hamka mengakui sendiri jika tanah Deli (Medan) merupakan kota yang sangat berkesan baginya. Juga merupakan kota kedua yang membentuk kepribadiannya setelah Padang Panjang yang menjadi tempat baginya menempuh pendidikan dan pembentukan karakter dan religiusnya.

Baca juga: Kekecewaan Buya Hamka pada Muhammadiyah

Dalam memoarnya, Kenang-Kenangan Hidup I, Buya Hamka menceritakan jika dirinya pernah dua kali menginjakkan kami dan mencari peruntungan di kota Medan. Pertama, pada 1928 ketika menjadi guru mengaji bagi pedagang-pedagang kecil dari Kebun Bajalinggai[9], saat dirinya baru saja kembali dari menunaikan ibadah haji di Makkah. Buya Hamka mencatat bahwa saat itu dirinya mendapat uang belanja Rp. 30 sebulan. Menurutnya, jumlah uang itu sudah besar karena makan dan tempat tinggal sudah disediakan. Sekali sebualn, sesudah menerima upah, Hamka muda pergi ke kota Medan untuk memborong buku dan menonton bioskop.[10] Sebelumnya, ketika belum ada satu minggu dirinya tiba di Medan, dia temui redaktur Pelita Andalas. Dia bertemu dengan ketua pengarang yang seorang Belanda tua bernama J. Korning dan pengarang bernama M. Yunus Is. Disampaikan kepada mereka niat bahwa dirinya akan menulis laporan perjalanan haji, juga tentang keadaan Makkah dan orang berhaji saat itu di harian tersebut. Hamka muda merasa senang karena tulisan-tulisannya dimuat semua. Dia amat sangat besar hatinya atas keberhasilan itu, meski honornya hanya segelas kopi susu, yang dipesan dari kedai milik seorang Tiongkok disamping percetakan.[11]

Inilah saat pertama Buya Hamka menginjakkan kaki dan mengadu peruntungan di kota Medan. Meski tak berlangsung lama karena seiring dengan namanya yang kian terkenal sebagai pengarang, juga kesibukannya memberikan pelajaran agama kepada pedagang-pedagang dari Kebun Bajalinggai, kakak iparnya, A.R. Sutan Mansur, datang dengan membawa pesan Haji Rasul yang menginginkan agar Hamka bersedia pulang ke kampung halaman. “Sedang enak-enak hendak jadi pengarang, hendak jadi jurnalis, hendak jadi guru, tiba-tiba datanglah kakak ipar A.R. Sutan Mansur, yang baru pulang dari Aceh menggerakkan Muhammadiyah, menjemput dan membawa pulang. Perintah menyuruh berkemas tidak dapat dielakkan, akhirnya pulang-lah keputusannya,” tulis Buya Hamka dalam Kenang-Kenangan Hidup I.[12]

Kedua, pada tahun 1936 ketika dirinya dimintai Haji Asbiran Ya’qub, Katua Yayasan Al-Busyro membantu majalah Pedoman Masyarakat. Saat itulah Buya Hamka mencurahkan seluruh kemampuannya dalam karang-mengarang untuk membesarkan Pedoman Masyarakat, yang dipimpinnya sejak tanggal 22 Januari 1936 hingga berhenti karena kedatangan Jepang pada bulan Maret 1942.[13] Buya Hamka kembali menginjak dan mengadu untung di kota Medan ini setelah beliau meraih keberhasilan menyiapkan Kongres Muhammadiyah di kota Makassar pada tahun 1932 dan memimpin sekolah Kulliyatul Muballigin yang mulai dirintisnya sejak tahun 1934. Buya Hamka kemudian meninggalkan Medan setelah kejatuhan Jepang pada tahun 1945. Dia pulang ke Padang Panjang setelah berjuang keras membendung fitnah dan caci-maki dari kawan-kawan seperjuangannya sendiri.[14]

Baca juga: Sisi Lain Si Abdul Malik (Buya Hamka)

Berbagai pengalaman, suka dan duka, selama hidup dan mengadu peruntungan di kota Medan itulah yang kemudian menginspirasi Buya Hamka mengarang roman berjudul, Merantau Ke Deli. Seperti roman-roman sebelumnya, roman yang diterbitkan ulang oleh Penerbit Bulan Bintang pada tahun 1977 ini merupakan buku tipis karena hanya terdiri dari 194 halaman. Lebih tipis dari roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang berjumlah 226 halaman, dan lebih tebal dari roman Di Bawah Lindungan Ka’bah yang hanya 66 halaman. Dalam pengantar roman ini, Buya Hamka mengakui jika roman ini benar-benar membuat hatinya merasa sangat puas karena bahan-bahan yang digunakan untuk membuat tulisan ini disaksikan secara langsung dengan kedua matanya sendiri, lebih tepatnya sebelum Buya Hamka memimpin majalah Pedoman Masyarakat pada 1936.[15]

“Pada perasaan saya, di antara buku-buku roman yang pernah saya tuliskan, Merantau ke Deli inilah yang lebih memuaskan hati saya. Sebab, bahannya semata-mata saya dapati dalam masyarakat sendiri, yang saya lihat dan saksikan, sebelum saya memimpin majalah Pedoman Masyarakat pada tahun 1936. Sebalik saya pulang dari Mekkah di tahun 1928, berbulan-bulan saya menjadi Guru Agama di satu pekan kecil, tempat hidup pedagang-pedagang kecil, bernama Pekan Bajalinggai dekat Tebing Tinggi, Deli. Saya saksikan dan pergauli kehidupan pedagang kecil dan saya saksikan serta saya lihat kehidupan kuli-kuli kontrak yang diikat oleh Poenale Sanctie yang terkenal itu. Maka daripada kehidupan yang demikian saya mendapat pokok bahan dari cerita roman Merantau ke Deli ini,” tulis Buya Hamka dalam pengantar buku romannya Merantau Ke Deli.[16]

Dalam roman ini, Buya Hamka mengisahkan pertemuan dua orang berlainan jenis kelamin yang berasal dari etnik yang berbeda. Mereka adalah Leman dan Poniem. Leman adalah laki-laki perantau yang berasal dari Minangkabau yang merantau ke Deli dengan tujuan untuk berdagang. Sedangkan Poniem adalah perempuan berdarah Jawa yang menjadi gundik di perkebunan Deli, setelah sebelumnya sempat menjadi seorang kuli kontrak di tempat yang sama. Poniem adalah tokoh Hamka yang paling kuat di roman Merantau Ke Deli. Sebenarnya, ke datangannya ke Deli tidak dipersiapkan, karena dia hanya direkrut oleh seorang pencari tenaga kerja di Jawa yang berpura-pura melamarnya ke orangtuanya yang hidup miskin. Orangtua Poniem yang bodoh percaya saja Poniem di bawa ke Deli dengan harapan bisa hidup mapan bersama calon suami—perektrut tenaga kerja yang pembohong itu.[17]

Sesampainya di Sumatera, Poniem lalu dipekerjakan sebagai kuli perkebunan dan kemudian menikah dengan laki-laki yang juga sama-sama berasal dari tanah Jawa. Sayangnya, pernikahan mereka tidak bertahan lama, karena sang suami meninggalkan Poniem tanpa alasan yang jelas setelah membawa lari harta simpanan miliknya. Poniem kemudian menjadi gundik seorang mandor perkebunan yang sangat baik. Dari mandor itu, Poniem berhasil mendapatkan banyak perhiasan emas. Pada saat Leman datang untuk melamarnya, sebenarnya Poniem sudah memiliki kehidupan yang berkecukupan bahkan bisa dikatakan mapan, meski hubungannya dengan mandor perkebunan tidak diikat dengan pernikahan yang sah. Namun Leman tidak menyerah. Dengan berbagai macam usaha, dia berusaha meyakinkan Poniem jika hatinya tulus ingin menikahinya. Poniem akhirnya luluh, dan kemudian lari bersama Leman meninggalkan rumah sang mandor perkebunan dengan membawa separuh perhiasan emasnya. Mereka kemudian menikah dengan sah sesuai dengan hukum Islam.[18]

Dengan menikahi Poniem, sebenarnya tokoh Leman ingin menjadikan istrinya itu sebagai perempuan terhormat. Rupanya, hal itu disadari juga oleh Poniem, sehingga dia berusaha untuk menjadi istri yang terbaik dengan memberikan kesetiaan penuh-penuh kepada sang suami. Dengan kemampuan yang dimiliki, Poniem juga berusaha menjadi mitra bisnis yang baik bagi suaminya. Sebagian besar karena keahlian Poniem, mereka pun akhirnya berhasil membangun perdagangan yang maju dan menjadi kaya-raya di tanah Deli. Hanya satu masalah yang membebani mereka, lama menikah tapi tak kunjung diberi anak.[19]

Meski tak kunjung diberi momongan, tapi Leman dan Poniem tak lantas saling menyalahkan. Justru mereka tetap hidup rukun sebagai suami-istri yang berbahagia. Kabar kesuksesan Leman di Deli di dengar oleh kaum kerabatnya di kampung halaman. Mereka pun kemudian meminta Leman pulang untuk melihat sanak-saudaranya. Saat Leman menyampaikan keinginan keluarganya itu, Poniem sangat mendukung jika sang suami pulang untuk menengok keluarganya. Satu hal yang sangat ingin dirasakan oleh Poniem, yaitu ingin merasakan kebersamaan hidup dengan keluarga karena di tanah Deli dirinya sama sekali tidak memiliki keluarga. Kepulangan mereka ke Minangkabau disambut dengan sangat baik oleh keluarga besar Leman. Sayang, kebahagiaan Leman dan Poniem tidak berlangsung lama. Keluarga Leman tidak bisa menerima kehadiran Poniem sebagai bagian dari keluarga mereka. Alasannya, Poniem bukan orang Minang. Poniem tetap dianggap orang luar meski dirinya sudah menikah dengan Leman. Itulah yang kemudian membuat keluarga besar di Minang berusaha untuk mencarikan Leman seorang istri yang berdarah Minangkabau tulen. Sebab, bagi mereka, perkawinan yang ideal adalah perkawinan sesama orang Minang.[20]

Leman akhirnya bersedia memenuhi keinginan keluarga besarnya. Ia kemudian menikah dengan perempuan sekampungnya yang bernama Mariatun. Perempuan itu diantarkan pihak keluarganya ke Medan, karena Leman dan Poniem sudah terlebih dulu tiba di tanah rantau itu.[21] Keputusan Leman menikah untuk kedua kali menimbulkan konflik dalam rumah tangga mereka. Leman menikahi perempuan sekampungnya tak lain karena dirinya tak bisa melepaskan diri dari ikatan budaya yang membesarkannya. hal itu tak lain karena setiap insan yang berbudaya pasti mendefinisikan dirinya dengan kebudayaannya sendiri. Ikatan budaya pada diri seseorang mempengaruhi bagaimana ia mengekspresikan diri di tengah masyarakat. Demikian juga dengan Leman. Dia tidak mungkin keluar dari budaya Minangkabau. Sikap memihak pada budaya yang dianut itulah yang kemudian memaksanya harus memilih salah satu perempuan yang telah dinikahinya, yaitu Mariatun, perempuan sekampung dan sebudaya dengannya. Leman akhirnya menikahi Mariatun, tanpa menceraikan Poniem. Alasannya, karena Poniem tidak mau diceraikan dan dengan ikhlas menerima jika sang suami ingin memadunya[22]

Poniem tidak hanya menerima Mariatun sebagai madunya, tetapi juga menerima hidup serumah dengan madunya tersebut. Sikap yang ditunjukkan Poniem itu tentu saja menunjukkan jati dirinya sebagai orang Jawa yang memilikisikap nerimo dan bersedia bertoleransi dengan orang lain.[23] Meski Poniem bersedia menerima madunya, bahkan bersedia memakai simbol budaya yang dipakai orang Minangkabau, seperti memakai baju kurung dan berselendang, Poniem tetap saja tidak diterima dalam budaya tersebut. Hal itu tak lain karena Poniem tetap tidak bisa diterima dalam budaya Minang, meski dia sudah berusaha mati-matian untuk masuk dan membaurkan dirinya dengan budaya sang suami. Puncak dari penolakan itu terjadi ketika terjadi pertengkaran antara Poniem dan Mariatun, sehingga Leman terpaksa harus menceraikan Poniem.[24]

Pada mulanya, ketika hendak menikahi Mariatun, Leman berjanji akan selalu menjaga perasaan Poniem dan tidak akan pernah mengabaikannya.[25] Tapi seiring waktu, janji itu tidak pernah ditepati oleh Leman. Mariatun jauh lebih pandai memoles diri dan berhasil merebut perhatian sang suami. Hal itu kemudian memicu pertengkaran antara Leman dan Poniem. Mariatun tak senang jika Leman masih membiarkan Poniem ada ditengah-tengah mereka. Dia pun kemudian berusaha membujuk sang suami agar mau menceraikan Poniem. Selain itu, perdagangan Leman yang selama ini dikelola bersama Poniem hendak dikuasai secara penuh oleh Mariatun. Hal itu membuat Leman merasa serba salah, dan karena tertekan akhirnya dia lebih memihak pada istri mudanya. Pertengkaran hebat kemudian memaksa Leman menceraikan Poniem. Sejak hari itu, Poniem meninggalkan rumah suaminya, untuk kemudian merantau ke Deli.[26]

Ketika pergi meninggalkan rumah Leman, Poniem diikuti oleh Sujono (pegawai Leman) yang juga berasal dari tanah Jawa. Di perantauan, mereka pun sepakat untuk menikah. Mereka rupanya saling pengertian dan bisa bekerja sama dalam membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia. Sujono dan Poniem sama-sama pekerja keras, suka berhemat, dan sangat giat bekerja sehingga membuat kehidupan mereka menjadi kaya. Adapun Leman dan Mariatun, terpaksa harus kembali ke kampung karena usaha dagangnya mengalami kebangkrutan. Mereka kembali ke pangkuan keluarga besarnya dalam keadaan melarat dan tak punya apa-apa. Poniem dan Sujono melepas pulangnya Leman dan Mariatun di stasiun, dan selagi mereka naik ke kereta, Poniem memberikan uang sekeping kepada anak perempuan mereka untuk jajan.[27]

Lalu, apa pesan yang bisa diambil dari roman Merantau Ke Deli?

Seperti halnya roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, di buku romannya ini, pesan penting yang ingin disampaikan Hamka kepada pembaca adalah mengenai pentingnya semangat nasionalisme. Dalam roman ini, Hamka dengan sangat tajam mengkritik sikap eksklusivisme dalam pernikahan, khususnya sikap egosentris orang Minangkabau. Melalui karya romannya ini, Buya Hamka tidak hanya ingin mengkritik Minangkabau dari dalam, tapi juga memperkenalkan bagaimana caranya menciptakan Indonesia yang utuh melalui pembauran antaretnik dan hubungan perkawinan. Bagi Buya Hamka, agama adalah yang paling penting. Tak menjadi soal jika hanya berlainan etnis, asal sama-sama Islam boleh menikah, asalkan itu membawa kebahagiaan.[28] []

Baca juga: Buya Hamka dan Urat Tunggang Pancasila


[1] Maksudnya sekitar tahun 1800-an.

[2] Hamka. 1977. Merantau Ke Deli. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm, 7.

[3] Daratullaila Nasri, Muchlis Awwali. 2014. Merantau Ke Deli Karya Hamka Dalam Perspektif Interkulturalisme. Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 1. Hlm, 74.

[4] Ibid. Hlm, 74.

[5] Hamka. 1977. Merantau Ke Deli. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm, 111.

[6] Rush, James R. 2018. Adicerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar Untuk Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia. Hlm, 27.

[7] Ibid. Hlm, 27.

[8] Hamka. 1977. Merantau Ke Deli. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm, 6.

[9] Daerah yang terletak di antara TebingTinggi dan Pematang Siantar.

[10] Hamka. 1951. Kenang-Kenangan Hidup. Djakarta: Gapura. Hlm, 79.

[11] Ibid. Hlm, 78.

[12] Ibid. Hlm, 79.

[13] Hamka. 2018. Kenang-Kenangan Hidup. Jakarta: Gema Insani. Hlm, 132.

[14] Musyafa, Haidar. 2016. Hamka. Jakarta: Imania. Hlm, 411.

[15] Hamka. 1977. Merantau Ke Deli. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm, 7.

[16] Ibid. Hlm, 7.

[17] Ibid. Hlm, 13.

[18] Ibid. Hlm, 25.

[19] Rush, James R. 2018. Adicerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar Untuk Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia. Hlm, 32.

[20] Hamka. 1977. Merantau Ke Deli. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm, 146.

[21] Ibid. Hlm, 147.

[22] Daratullaila Nasri, Muchlis Awwali. 2014. Merantau Ke Deli Karya Hamka Dalam Perspektif Interkulturalisme. Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 1. Hlm, 75.

[23] Ibid. Hlm, 84.

[24] Ibid. Hlm, 84.

[25] Hamka. 1977. Merantau Ke Deli. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm, 155.

[26] Ibid. Hlm, 156.

[27] Ibid. Hlm, 164.

[28] Burhanudin, Nunu. 2015. Konstruksi Nasionalisme Religius Relasi Cinta dan Harga Diri dalam Karya Sastra Hamka. Jurnal Epistemé, Vol. 10, No. 2. Hlm, 380.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *