Nilai-Nilai Pendidikan Pondok Pesantren

Posted by

Asal-Usul Pesantren

Pesantren adalah model lembaga pendidikan Islam asli Indonesia. Kadang disebut pondok; pondok pesantren. Istilah pesantren dari bahasa Sanskerta, sastri, artinya murid di padepokan Hindu; cantrik, yakni pemuda yang selalu mengikuti sang guru untuk menuntut ilmu.

Pesantren bermula dari seorang guru ngaji di sebuah surau atau masjid. Murid satu per satu berdatangan untuk belajar. Santri ditampung di serambi masjid dan rumah kiai. Tatkala santri bertambah banyak, para santri membuat pondokan di sekitar masjid.

Embrio pesantren adalah ketika Nabi Muhammad saw mengajar para sahabat pertama di rumah Arqam, sehingga disebut Darul Arqam; Baaitul Arqam. Nabi Muhammad saw mengajarkan benih-benih Islam dan wahyu-wahyu pertama turun kepada para sahabat terdekat.

Pilar Pesantren

Setiap pesantren memiliki empat pilar, yakni kiai, masjid, santri, dan asrama. Kiai adalah figur sentral Pondok Pesantren. Para kiai tumbuh dan berkembang bersama pesantrennya. Sebagian kiai meneruskan tradisi pesantren yang diwariskan dan yang lain merintisnya dari nol.

Kiai mempunyai murid-murid generasi pertama yang andal. Mereka ikut merintis dan mendukung ide-ide Kiai serta menjadi model kehidupan 24 jam di dalam pondok pesantren. Apa saja yang dilihat, didengarkan, dan dilakukan santri bernilai pendidikan.

Contoh, Pondok Modern Gontor, didirikan oleh tiga pemuda kakak beradik belia. KH Ahmad Sahal (25 tahun), KH Zainuddin Fanani (18 tahun), dan KH Imam Zarkasyi (16 tahun). Dalam usia sebelia itu alam pikiran mereka sudah melampaui zaman dan lingkungan mereka.

Begitu pondok yang didirikan mulai membesar, pada tahun 1958 secara resmi Pondok itu diwakafkan kepada umat Islam. Artinya, para pendiri dan keturunannya tidak bisa mengklaim asset kekayaan Pondok. Zuhud yang hanya dapat dipahami dengan kejernihan kalbu.

Para santri belajar hidup mandiri dalam 24 jam. Mereka bergaul sesama perantau dengan penuh persaudaraan dan persahabatan. Belajar bersama, tidur bersama, makan bersama, bermain bersama, bahkan kadang-kadang mandi pun bersama pula.

Pada awal tahun ajaran baru para santri memperoleh orientasi belajar, agar mereka memiliki kesiapan mental selama menempuh pendidikan di pesantren dan selalu ingat serta menghayati tugas pokok mereka, yakni thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu).

Pancajiwa Pesantren

Dalam Seminar Pondok Pesantren Seluruh Indonesia di Yogyakarta pada 4 s/d 7 Juli 1965 KH Imam Zarkasyi merumuskan Pancajiwa pondok pesantren, yakni Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, Kebebasan.

Pondok Pesantren niscaya dijiwai keikhlasan. Sepi ing pamrih rame ing gawe. Bekerja tidak karena dorongan keinginan memperoleh keuntungan tertentu, tetapi semata untuk ibadah. Kiai ikhlas dalam mengajar dan santri ikhlas dalam belajar.

Kehidupan pesantren dijiwai oleh suasana kesederhanaan, tetapi agung. Sederhana mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati dalam menghadapi segala kesulitan. Di balik kesederhanaan itu terpancar jiwa besar: berani maju terus dalam menghadapi perjuangan hidup.

Kesederhanaan menumbuhkan mental dan karakter kuat untuk suksesnya perjuangan dalam segala segi kehidupan. Kiai, guru dan para santri hidup sederhana. Jiwa kesederhanaan ini memberikan kekuatan untuk selalu lurus dan teguh pendirian.

Pesantren bersikap mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri, serta tidak menggantungkan hidupnya kepada pihak mana pun. Santri juga belajar berdikari; berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri. Semua pekerjaan di dalam Pondok Pesantren dikerjakan santri.

Kehidupan Pondok Pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala kesenangan dirasakan bersama, dengan jalinan perasaan keagamaan yang mendalam. Persaudaraan bukan selama di Pondok Pesantren, tetapi juga sekembali mereka di masyarakat.

Santri merajut ukhuwah Islamiyah dengan sesama, apa pun latar belakang suku, bahasa, organisasi massa keagamaan, madzhab dan afiliasi politik mereka. Selama nyantri baju organisasi maupun kedaerahan untuk sementara waktu ditanggalkan.

Di Pondok Pesantren santri bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas menentukan masa depan dalam memilih jalan hidup di masyarakat kelak, dengan berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi kesulitan sesuai dengan nilai-nilai pendidikan yang telah diajarkan di Pondok.

Kebebasan dalam Pesantren yaitu bebas dalam garis-garis disiplin yang positif dan dinamis, penuh tanggung jawab, baik dalam kehidupan di Pondok Pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan di masyarakat kelak.

Santri bebas menentukan kegiatan yang diminati dan bidang ilmu dan ketrampilan yang dipilih untuk menyongsong masa depannya. Santri boleh menekuni profesi apa saja seusai menempuh pendidikan di pesantren. Pesantren tidak mengarahkan santri kepada profesi tertentu.

Pancajiwa Pondok Pesantren dipadu dengan motto: Berbudi tinggi, Berbadan sehat, Berpengetahuan luas, Berpikiran bebas. Pesantren membentuk pribadi berbudi tinggi, berakhlak mulia dan berkarakter kuat; sehat jasmani dan rohani; luas pengetahuan dan pergaulannya.

Pesantren mengajarkan falsafah hidup andal yang digali dari Al-Quran, Hadis dan kearifan ulama Di antaranya yang sangat popular: “Man jadda wajada – siapa bersungguh-sungguh, pasti berhasil;” “Man sara ‘aladdarbi washala – siapa menempuh jalan, pasti sampai.”

Pengalaman di pesantren seperti kata Helen Keller, “Karakter tidak dapat berkembang di dalam situasi yang mudah dan tenang. Hanya di dalam pengalaman-pengalaman yang penuh cobaan dan penderitaanlah jiwa dapat diperkuat, visi dapat diperjelas, dan sukses dapat dicapai.”

Aktivitas santri sejak bangun tidur menjelang subuh hingga tidur lagi pada malam hari adalah pendidikan hidup. Pagi-pagi santri bangun untuk menunaikan shalat subuh, tilawah Al-Quran, belajar dan berolah raga, mandi dan sarapan lalu masuk sekolah.

Usai shalat zhuhur santri makan siang dan belajar di kelas. Bakda shalat ashar berolah raga, berlatih ketrampilan, maupun mengulang pelajaran. Usai shalat maghrib tadarus Al-Quran dan makan malam. Bakda isya mereka belajar lalu hingga pagi hari.

Masyarakat telah banyak merasakan kemanfaatan dan buah pendidikan Pondok Pesantren. Perhatian Pemerintah menandakan bahwa Pondok Pesantren sangat dibutuhkan. Para kiai niscaya berusaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikannya.

Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor merumuskan Pancajangka, yakni lima program kerja meliputi pendidikan dan pengajaran; pembentukan kader-kader; pembangunan gedung-gedung; pembentukan khizanatullah (perluasan wakaf); kesejahteraan keluarga pondok.

Pondok Pesantren berusaha dengan sepenuh tenaga dan pikiran ke arah kesempurnaan Pendidikan, Pengajaran, bimbingan dan asuhan, serta organisasi santrinya. Tradisi yang baik itu dipertahankan menuju ke arah kesempurnaan.

Pondok Pesantren niscaya mempersiapkan pembentukan kader yang terbaik pelanjut cita-cita pendiri dengan jalan mengirimkan santri-santri pilihan untuk menambah dan memperdalam ilmu pengetahuan dan pengalaman di dalam maupun di luar negeri.

Untuk mendukung jalannya pendidikan di Pondok Pesantren diperlukan gedung sekolah, asrama, perpustakaan, kantor administrasi, balai pengobatan perumahan guru, gedung olahraga, gedung penerimaan tamu, masjid jami’, sarana transportasi dan lain sebagainya.

Syarat mutlak untuk kelangsungan Pondok Pesantren adalah sumber penghasilan/dana. Pondok Pesantren membantu meyiapkan mereka agar dapat berusaha dan memiliki sumber penghidupan sendiri, bahkan dapat membantu Pondok Pesantren.

Masa Depan Pondok Pesantren

Pendidikan pesantren merupakan kontribusi riil umat Islam terhadap dunia pendidikan di Indonesia, baik tingkat dasar, menengah, maupun tinggi. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pun telah memasukkan Pondok Pesantren sebagian lembaga pendidikan yang diakui.

Pendidikan adalah proses manusiawi dan alami. Seperti bibit tanaman yang bervariasi. Ada bibit unggul, bibit sedang dan bibit biasa, dan seterusnya. Untuk menilai keberhasilan pendidikan pesantren lihatlah profil alumni dan kiprahnya di tengah masyarakat.

Di antara alumni Pesantren menempuh karir menjadi wirausahawan, politisi, polisi, guru, aktivis, jurnalis, pedagang maupun pengarang. Tidak sedikit pula alumni pesantren yang mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan, baik pesantren maupun sekolah.

Mengingat perkembangan zaman, pembelajaran di Pondok Pesantren diselenggarakan sesuai dengan masa depan kehidupan para santri di masyarakat, dengan menggunakan metode dan pendekatan pendidikan yang mendukung pula, tanpa mengubah jiwanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *