Pak AR yang Bersahaja

Saat pertama kali masuk Yogyakarta, tahun 1991, saya penasaran dengan sosok Pak AR. Maklumlah, sebelum ini saya hanya mendengar dari kakak-kakak IPM, dari bapak-bapak Muhammadiyah dan ibu ‘Aisyiyah di Jember, Jawa Timur.

Adapun keluarga saya sendiri bukan penganut faham Muhammadiyah, sehingga awam sekali. Hanya saja saya bersyukur bahwa kedua orang tua kami tidak melarang kami ber-Tapak Suci, ber-IPM, hingga kini ber-Muhammadiyah dan ber-‘Aisyiyah. (Semoga maghfirah dan kasih sayang Allah terlimpah pada kedua orang tua kami, amin).

Rumah Pak AR waktu itu di Jl. Cik Di Tiro, yang sekarang menjadi Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jaraknya cukup dekat dari kampus saya Fakultas Sastra UGM.

Ah, deket kok, jalan kaki saja nyampai. Mumpung dekat, maka saya harus sempatkan untuk sowan,” pikir saya.

Hmm, emang sebenarnya seperti apa to sosok Pak AR Sang Ketua PP Muhammadiyah itu?

Apakah sosoknya memang seperti yang saya dengar atau pun saya baca?

Hla kok tanya gitu sih?

Iyalah, maklum, saya orangnya tidak mudah percaya! Saya hanya bisa percaya pada orang yang tindakannya itu sama dengan apa yang dikatakannya. Inilah Islam faham Muhammadiyah yang saya fahami. Inilah ketertarikan saya pada Muhammadiyah.

Maklumlah, saya sudah cukup gerah dengan muslim yang bicara selangit tentang Islam, mengaku mukmin, namun lakunya semau gue, tidak mau berkomunikasi, cuma mikir perut sendiri, tidak peduli anak yatim, fakir miskin dan dhuafa..

Saya sudah terlalu gelisah dengan bangkitnya kembali kejayaan dan peradaban Islam di Indonesia. Muhammadiyah menawarkan konsep kemajuan dan pencerahan, maka ini musti kita kawal hingga batas akhir usia kita.

Kembali pada sosok Pak AR. Ya, akhirnya sampai juga saya di rumah beliau, waktu itu sore hari. Kuasa Allah, saya bisa bertemu dengan Pak AR. Dengan penuh penerimaan beliau menerima kehadiran saya, sebagaimana layaknya menerima tamu umumnya. Tidak ada keangkuhan sama sekali karena saya sangat minim pengetahuan Muhammadiyah. Sekaliber Ketua Pimpinan Pusat organisasi besar Muhammadiyah masih bisa duduk tenang, nyaman dan santai menemui tamu orang-orang biasa. Luar biasa.

Pun saya masih bisa melihat Pak AR jual bensin eceran di depan rumah beliau.

Saya sempat shalat berjamaah maghrib di rumah beliau, bersama segenap orang di rumah itu, kala itu. Saya tidak berani menanyakan siapa saja beliau-beliau, namun saya menjadi yakin akan keutamaan sosok Pak AR. Bersahaja.

Adzan subuh telah berkumandang. Saatnya saya akhiri kisah ini. Semoga bermanfaat. Semoga menginspirasi.[]

Yogyakarta, 4 Maret 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *