Pak Malik Fadjar Memberi Contoh Hidup Apa Adanya

Posted by

masa-kini.id – Adalah hal biasa dilakukan orang, yaitu mematut-matutkan diri agar disebut keren, kaya, pintar, menjadi orang penting, dan semacamnya. Padahal untuk memenuhi keinginan itu juga tidak mudah. Harus berbiaya mahal dan apalagi kalau ketahuan tentang keadaan yang sebenarnya, pasti akan malu. Pak Malik Fadjar tidak mau hidup yang seperti itu. Hidup harus dijalani apa adanya. Mematut-matutkan diri itu tidak perlu, apalagi berbohong terhadap diri sendiri.

Sewaktu masih baru saja pulang belajar dari Amerika Serikat, Pak Malik belum punya mobil. Satu-satunya kendaraan yang dimiliki adalah sepeda motor honda supercup. Ke mana saja termasuk ke kampus beliau naik sepeda motornya yang juga tidak baru. Ke mana saja kalau saya diajak serta, dibonceng oleh beliau. Oleh karena ketika itu, kampus belum punya mobil dinas, setiap hari ke kampus juga dengan honda supercup, satu-satunya yang dimiliki.

Baca juga: Abdul Malik Fadjar

Menjadi Dekan dan lulusan luar negeri, Pak Malik tampak tidak ada beban hanya karena naik sepeda motor. Padahal ketika itu, belum banyak lulusan luar negeri. Penampilannya tetap saja. Hidup harus dijalani apa adanya, tidak perlu terbebani oleh sesuatu yang tidak berguna. Baju atau pakaian juga tidak pernah kelihatan banyak dan mewah. Yang saya masih ingat, beliau punya dua jaket. Tahu saya tidak punya, yang satu diberikan saya. Ke mana-mana jaket itu saya pakai, sekalipun terasa kebesaran. 

Tidak lama kemudian Pak Malik punya mobil baru, mungkin didapat dari mengangsur. Mobil merek hijet berwarna merah. Ke mana-mana mobil itu di sopiri sendiri. Kalau punya tamu, beliau juga tidak menyuruh orang untuk menjemput dan antarkan ke tempat yang diperlukan. Tidak lama Pak Malik menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ketempatan kegiatan Muktamar Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sekalipun menjadi Rektor, Pak Malik juga ikut mengantar tamu dengan mobil hijetnya sendiri dari kampus ke hotel. Orang yang diantar, karena merasa aneh, bercerita ke mana-mana, mereka diantar sendiri oleh Rektornya.

Soal makanan juga sederhana. Jika harus makan di luar, karena dalam perjalanan, Pak Malik tidak mau pilih rumah makan yang tampak elite dan harganya mahal. Bagi Pak Malik yang terpenting adalah cepat dilayani dan syukur jika hargannya murah. Pernah suatu saat dalam perjalanan ke Yogyakarta, mampir di rumah makan. Ternyata harus menunggu lama. Beliau tahu, di sebelah ada warung lain, Pak Malik makan di warung sebelah itu. Makanan yang sudah terlanjur dipesan, disuruh penjualnya membungkus. Sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan cepat, harus dilakukan secepatnya.

Baca juga: Abdul Malik Fadjar: Mengajak Berpikir Rasional, Profesional, Tanpa Meninggalkan Spiritual

Kebiasaan seperti itu ternyata tidak berubah, sekalipun beliau menjadi Menteri, baik menteri agama maupun menteri pendidikan nasional. Saya mengetahui hal itu, karena setiap ke Jakarta saya singgah di kantornya. Mengetahui saya di Jakarta, beliau mengajak makan bersama, sambil bernostalgia dalam membangun kampus bersama. Sekalipun menjadi menteri, beliau tetap saja menyukai makanan sederhana, makanan khas yang disukai, yaitu tahu, tempe, dan paru. Ketika menjadi menteri, beliau sehari-hari bekerja tidak di ruang kerja menteri, tetapi di bagian belakang, tempat istirahat. Di tempat itu beliau bisa leluasa sambil merokok.

Ketika beliau menjadi menteri agama, saya pernah memberikan pandangan, bahwa memimpin itu akan mudah jika disenangi oleh orang yang dipimpinnya. Rumusan seperti ini sebenarnya juga saya peroleh dari Pak Malik sendiri. Tapi, saya yakin beliau perlu diingatkan sekiranya lupa. Terkait dengan hal tersebut, setiap ke Jawa Timur, saya usulkan agar Pak Malik jangan sampai tidak pakai songkok. Bagi para kiai Jawa Timur dan tentu juga kiai di mana-mana, kopyah adalah sangat penting. Selain itu, sebisa-bisa menyempatkan bersilaturrahmi ke pesantren. Para kiai akan senang jika didatangi oleh menteri agama, sekalipun tidak diundang. Usul saya tersebut dipenuhi. Pak Malik, selalu bersikap terbuka, obyektif, dan rasional.

Sebagai gambaran hidup sederhana dan apa adanya itu, ketika menjadi menteri, Pak Malik ke mana-mana tidak mau dikawal oleh patwal, apalagi klaksonnya berbunyi. Protokol memang begitu, tetapi beliau tidak menyukainya. Beliau menyebutnya, agar tidak tampak serem. Apalagi kalau patwal itu membunyikan suara keras, beliau khawatir akan menjadi tontonan anak-anak di pinggir jalan. Bagi Pak Malik, keadaan aman tidak perlu dibuat seolah-olah gawat. Begitu pula, beliau tidak menyukai melakukan sesuatu tergesa-gesa,  berlebih-lebihan, dan seolah-olah ada yang dikejar-kejar.

Bagi Pak Malik Fadjar bersikap apa adanya itu bukan saja dalam kehidupan yang bersifat fisik, tetapi juga dalam kehidupan spiritual, shalat misalnya. Agama dipahami untuk merawat batin. Tidak perlu mengejar banyaknya dan bersifat demonstratif. Shalat itu oleh Pak Malik dimaknai sebagai kegiatan menghadap Allah Swt. Karena itu, ibadah tidak perlu dilakukan tergesa-gesa, terpaksa, dan sekedar bersifat formalitas. Hal yang terkait dengan ibadah, beliau selalu menjelaskan dengan menggunakan tangannya menunjuk pada dadanya. Apa yang ada di dalam dada itulah yang shalat.

Dengan menjalani hidup sederhana dan apa adanya itu, beliau tampak sama saja antara sedang menjabat atau tidak menjabat. Sewaktu menjadi rektor, dirjen, dan bahkan juga menteri, jarang sekali, atau bahkan tidak pernah memakai baju seragam. Rupanya Pak Malik memang tidak menyukai hal-hal yang bersifat formalitas, kepura-puraan, atau seolah-olah. Pak Malik menyukai hidup apa adanya. Hal yang selalu diingatkan oleh beliau kepada stafnya, jalani hidup ini apa adanya dan jangan berbohong, apalagi berbohong terhadap diri sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *