Pelajaran tentang Kejujuran

Posted by

Tersebutlah kisah tentang seorang pemuda pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Pemuda itu telah melakukan kesalahan dengan membunuh orang yang menyebabkan kuda kesayangannya mati. Merasa bersalah, dia pasrah menerima hukuman dari khalifah. Dia memang sosok pemuda berjiwa kesatria, karena dialah sesungguhnya yang mengajukan diri kepada khalifah agar mendapat hukuman.

Pengadilan digelar, dan pemuda tadi secara absah dijatuhi hukuman qishas. Tetapi, sebelum menerima hukuman mati itu, pemuda tadi dipersilakan menyampaikan keinginan yang terakhir. Kepada pengadilan, pemuda itu meminta izin agar diperkenankan pulang ke kampungnya untuk menyelesaikan segala tanggungan hidup yang harus dibayarkan kepada orang.

Semula khalifah merasa keberatan, karena khawatir yang bersangkutan lari dari hukuman. Khalifah baru berkenan memberikan izin setelah ada seorang sahabat bernama Abu Dzar Al-Ghifari memohon agar pemuda itu diberikan izin dengan jaminan dirinya. Khalifah akhirnya memberikan izin dengan syarat jika pemuda itu tidak kembali, maka sahabat Nabi yang zuhud itulah yang akan menerima hukuman qishas sebagai pengganti.

Kejadian menegangkan terjadi menjelang detik-detik pelaksanaan hukuman. Tinggal beberapa menit hukuman dijatuhkan, tetapi pemuda yang akan diqishas tidak juga kunjung datang. Semua orang gelisah dan tegang. Ketegangan itu akhirnya pecah ketika beberapa detik sebelum pelaksanaan hukuman, pemuda dimaksud tiba-tiba datang dengan berlarian dan napas terengah-engah. Seluruh pasang mata serentak tertuju kepada siapa yang datang.

Menyaksikan kejujuran pemuda itu, hati keluarga korban luluh. Mereka akhirnya memaafkan pemuda itu. Dan sesuai hukum Islam, qishas dibatalkan dengan terbukanya pintu maaf dari keluarga korban. Kini, pemuda itu terbebas dari hukuman, dan bahkan menjalin hubungan baik dengan keluarga korban.

Inilah pelajaran mulia tentang arti kejujuran. Kisah demikian patut dijadikan teladan utama dalam menjalani hidup dan kehidupan menyangkut kejujuran. Manusia boleh berdusta tetapi nurani dan Allah tidak mungkin bisa dikelabui siapa saja. Nah, bagaimana dengan kita, terutama para elit penguasa yang senang mengobral janji tetapi selalu berujung dusta?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *