Pemikiran dan Kiprah Malik Fadjar Untuk Merekonstruksi dan Modernisasi Pendidikan Islam

Posted by

Sebenarnya menggali dan menangkap pemikiran dan kiprah A Malik Fadjar terkait dengan pendidikan Islam tidaklah sulit. Pak Malik Fadjar punya tradisi menulis. Berbicara apa saja terkait hal penting yang disampaikan kepada banyak orang, misalnya dalam diskusi, seminar, pengarahan sehubungan dengan posisinya sebagai pejabat, beliau selalu menyiapkan tulisan sekalipun dalam bentuk sederhana, misalnya hanya satu atau dua halaman. Tulisan-tulisan singkat sebagai bahan ceramah tersebut biasanya didokumentasikan sendiri. Rupanya akhir-akhir ini sudah ada orang yang mengumpulkan dan kemudian mengedit dan menerbitkan dalam bentuk buku. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Pak Malik Fadjar dalam kegiatan pendidikan juga dapat dilihat dengan mudah. Misalnya, ketika memimpin UMM dan juga UMS. Khusus UMM, Pak Malik memimpinnya mulai dari kampus ukuran kecil yang hanya memiliki ratusan mahasiswa, kemudain berkembang hingga memiliki puluhan ribu mahasiswa.

Pikiran dan kiprah Pak Malik Fadjar di bidang pendidikan Islam, terutama jika dikaitkan dengan upaya merekonstruksi dan memodernisasi pendidikan Islam mendatang kiranya akan menjadi jelas ketika kita mengetahui bagaimana beliau memandang agama dan juga kehidupan secara keseluruhan. Pak Malik dikenal dan dipandang sebagai tokoh agama, cendekiawan, aktifis pendidikan, dan politik. Peran-peran tersebut kiranya bisa dilihat ketika beliau menduduki posisi sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah yang sedemikian lama, Pimpinan Muhammadiyah mulai dari tingkat wilayah hingga pusat, menjabat sebagai menteri agama dan kemudian menduduki jabatan sebagai menteri pendidikan nasional. Juga sudah barang tentu, peran-peran beliau di tengah masyarakat pada umumnyua dan sejarah kehidupannya sehari-hari.

Pak Malik Fadjar memiliki keyakinan agama yang kuat. Hal ini tidak lepas dari buah pendidikan yang diterima dari orang tuanya. Pak Malik Fadjar dilahirkan dari keluarga guru agama. Kondisi lingkungan yang membentuknya itu, sejak muda Pak Malik Fadjar sudah menjadi guru agama. Belajar di sekolah Pendidikan Guru Agama dan kemudian ditugasi sebagai guru agama di Sumbawa dan kemudian bertugas belajar di IAIN Fakultas Tarbiyah Malang hingga lulus dan selanjutnya menjadi dosen di kampusnya itu . Pak Malik memiliki jiwa berorganisasi, sejak mahasiswa ditokohkan. Beliau dikenal sebagai tokoh HMI. Aktifitasnya di organisasi itu, menjadikan beliau memiliki jaringan komunikasi yang luas mulai daerah hingga tingkat pusat. Pak Malik Fadjar tidak pernah membuat batas-batas dalam berkomunikasi, baik yang bersifat kultural, agama, politik, maupun lainnya.

Dalam beragama Pak Malik Fadjar tampak tidak mau memasuki wilayah yang dirasakan ribet dan bersifat terlalu simbolik dan kuatitatif. Beliau selalu lebih memilih hal yang bersifat esensial, substantif, dan kualitatif. Yang selalu saya dengar, selama puluhan tahun bergaul dengan Pak Malik Fadjar, agama adalah mengurus hal yang bersifat batin dan memperbaiki akhlak. Beliau selalu menyebut iman, amal saleh dan akhlakul karimah. Iman hendaknya melahirkan semangat hidup, berbuat baik bagi diri, keluarga, dan orang lain. Cara pandang seperti itu, agama bagi Pak Malik Fadjar hendaknya selalu relevan dengan perkembangan zaman. Agama bagi Pak Malik tidak membelenggu, membikin dunia semakin sempit, dan ketinggalan zaman. Sebaliknya, agama justru harus memiliki kekuatan untuk menghidupkan, menyemangati, dan melahirkan etos agar hidup menjadi dinamis, inovatif, berubah sesuai tuntutan zamannya. Selain itu agama tidak sekedar dapat dilihat dari simbol-simbol, jargon, dan apalagi sekedar penampilan fisik.

Oleh karena orientasi Pak Malik Fadjar dalam beragama dan juga dalam kehidupan lainnya adalah pada kualitas, maka beliau tidak menyukai hal-hal yang bersifat formalitas. Aktifitas yang melibatkan banyak orang dipandang perlu ada struktur dan bersifat formal. Akan tetapi, aturan formal tidak boleh mengorbankan aspek yang terpenting yaitu isi, esensi dan substansinya. Atas dasar pandangan ini, Pak Malik Fadjar tidak pernah membicarakan tentang jumlah jam pelajaran agama di sekolah, kewajiban menghafal sesuatu yang tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan sejenisnya. Beliau selalu mengatakan bahwa pendidikan itu cukup memberikan bekal yang kelak melahirkan semangat untuk mengembangkan diri di tengah kehidupan tanpa berhenti. Beliau selalu mengumpamakan bahwa mendidik itu seharusnya bagaikan melepas anak panah dari busurnya. Guru memberikan informasi, cara berpikir, dan semangat agar selanjutnya para siswa atau mahasiswa tumbuh dan mengembangkan dirinya sendiri lebih jauh. Beliau berkeyakinan bahwa zaman ini selalu berubah tanpa henti. Pak Malik Fadjar suka mengutip ucapan Ali bin Abi Thalib bahwa anakmu akan hidup sesesuai dengan zamannya dan bukan sebagaimana zamanmu. Oleh karena itu didiklah mereka untuk menghadapi kehidupan pada zamannya yang akan datang.

Pak Malik Fadjar membedakan antara agama dan ilmu pengetahuan pada umumnya. Tatkala menyebut agama, beliau selalu menggerakkan tangannya ke arah dadanya. Agama adalah menyangkut hati, sumber ajaran agama adalah wahyu. Agama seharusnya dilaksanakan dan dirasakan. Agama bukan bahan perdebatan, oleh karena itu Pak Malik Fadjar tidak pernah mau terlibat berdebat soal agama. Agama seharusnya ditangkap, dipahami, diresapi dan kemudian dijadikan sebagai panduan hidup. Akan tetapi sebagaimana disebutkan di muka, hendaknya agama melahirkan semangat hidup, etos untuk beramal shaleh, dan berbudi pekerti atau berakhlak mulia. Selanjutnya ilmu pengetahuan adalah merupakan hasil pencaharian manusia yang dilakukan lewat berpikir dan kegiatan ilmiah. Ilmu pengetahuan ini yang harus dikembangkan secara terus menerus. Atas dasar pandangan ini, lembaga pendidikan Islam hendaknya mengembangkan manusia secara utuh, yaitu membersihkan hati, mengembangkan dan memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan membangun sikap professional.

Bagi Pak Malik Fadjar mengurus pendidikan sama artinya dengan menyiapkan generasi masa depan. Oleh karena itu, siapa saja yang sadar dan mencintai generasi masa depan harus menjadikan pendidikan sebagai prioritasnya. Atas dasar keyakinan itu, beliau mau berjuang dan sekaligus berkorban untuk mengembangkan lembaga pendidikan Islam. Saya mengetahui dan ikut merasakan sendiri, untuk mengembangkan lembaga pendidikan Islam, Pak Malik Fadjar tidak saja bersedia mengorbankan pikiran dan seluruh tenaganya, tetapi juga harta yang dimilikinya. Ketika mengembangkan UMM, beliau bekerja dari pagi, sore, hingga malam hari. Di tengah kegiatan yang sedemikian padat, Pak Malik Fadjar masih bersedia ketika diminta menjadi ektor di UMS. Bisa dibayangkan, ketika itu perjalanan antara Malang dan Surakarta tidak semudah sekarang, setelah ada jalan tol. Beban berat seperti itu menjadi bertambah ketika mempercepat pembangunan kampus sementara keuangan tidak mencukupi. Jalan yang ditempuh adalah menggunakan jasa bank. Sebagai agunannya, Pak Malik Fadjar mengajak para wakil rektor meminjamkan surat-surat berharga milik pribadi sebagai agunan pinjaman dimaksud. Berjuang untuk apa saja, tidak terkecuali untuk pendidikan harus diikuti oleh kesediaan untuk berkorban.

Hal penting lainnya dalam membangun lembaga pendidikan Pak Malik Fajar selalu mengedepankan sikap rasional, terbuka, berani, dan professional. Mengurus lembaga pendidikan, ——-kata Pak Malik Fadjar, jangan disamakan dengan mengurus ormas. Organisasi massa selalu diwarnai oleh suasana subyektif, tertutup, dan mementingkan banyak pengikut. Lembaga pendidikan yang dikelola dengan cara demikian itu tidak akan maju dan berkembang. Islam mengajarkan kehidupan yang rasional, obyektif, adil, dan terbuka. Memilih orang selalu mengedepankan kemampuan, kecakapan dan kesediaan bekerja keras. Orang yang dinilai oleh beliau hanya sebatas seolah-olah mau dan bisa melakukan sesuatu maka tidak akan diajak serta. Itulah di antaranya sikap professional yang dikembangkan selama mengurus dan mengelola lembaga pendidikan.

Dalam memimpin dan menjalankan birokrasi, termasuk dalam kehidupannya sehari-hari, Pak Malik Fadjar tidak suka dengan orang yang terbiasa berbohong, menipu diri sendiri, tidak amanah, bekerja hanya seolah-olah. Bekerja untuk meraih kemajuan harus mendasarkan pada kenyataan yang ada, rasional, dan obyektif. Harus dibangun komunikasi yang terbuka, luas, tanpa sekat-sekat yang justru membelenggu. Demikian pula beliau menempatkan agama pada posisi strategis, yaitu melahirkan sikap terbuka, bebas, dan berani untuk melahirkan kemajuan. Sepanjang umurnya, Pak Malik Fadjar selalu menyerukan bahwa organisasi dan apalagi organisasi pendidikan harus senantiasa dibuat growht, change, and reform secara terus menerus. Lembaga pendidikan Islam harus bergerak atau mengalami proses untuk menemukan format yang terbaik. Oleh karena itu maka pikiran dan pandangan Pak Malik Fadjar kiranya sangat perlu dihidupkan secara terus menerus untuk mendapatkan format terbaik dimaksud. Malang, 8 Oktober 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *