Pemimpin

Posted by

Apabila tindakanmu dapat menginspirasi orang lain untuk bercita-cita lebih tinggi, belajar lebih semangat, dan bekerja lebih produktif, maka kamulah pemimpin. Kutipan kalimat dari Zaigham Abbas, seorang pakar Gastroenterologi dari Pakistan, tersebut menegaskan kepada kita bahwa pemimpin haruslah seorang yang ispiratif. Pemimpin berbeda dari manusia umumnya.

Menjabat ketua dalam sebuah organisasi, komunitas, paguyuban, perkumpulan, dan semisalnya tidak secara otomatis menyebabkan seseorang disebut pemimpin. Tidak sedikit ketua suatu organisasi yang belum pas disebut pemimpin. Sebaliknya, banyak sekali orang yang tidak menjabat apa pun dalam organisasi mana pun, namun dialah pemimpin yang senyatanya.

Menjadi pemimpin memang sulit. Pemimpin tidak sekadar mampu merangkul. Banyak konflik mencuat tidak reda hanya sekadar dirangkul. Manakala hanya dirangkul, sering kali pihak-pihak yang terlibat konflik akan pukul-pukulan dalam rangkulan pemimpin. Lebih dari sekadar itu, pemimpin harus mampu memutuskan pilihan yang paling bagus di antara yang paling buruk.

Dengan demikan, dapat diamati bahwa dahsyatnya konflik yang melanda sebetulnya cermin kegagalan pemimpinnya. Mengambil hikmah dari setiap konflik yang terjadi itu bagus. Tetapi, pemimpin tidak cukup bersikap begitu. Pemimpin harus tegas mengambil sikap. Tidak boleh cari aman. Menyenangkan semua orang itu karakter pedagang, bukan pemimpin.

Ada istilah pemimpin formal dan pemimpin informal. Tidak menjabat apa-apa tetapi mampu menginspirasi banyak orang untuk melakukan kebaikan adalah lebih baik dibanding menduduki posisi ini dan itu, namun tidak mampu berbuat banyak selain hanya titip nama. Tidak penting siapa dan dari mana kita. Terpenting adalah apa sih yang mau dan mampu kita buat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *