Pilih Takdir atau Ikhtiar?

Posted by

“Berusahalah sekuat tenaga, sehingga ketika hendak menentukan takdirmu, Tuhan perlu bertanya, takdir macam apa yang kau inginkan.”
(Mohammad Iqbal)

Takdir itu ketentuan atau ketetapan Tuhan. Ada ulama yang berpendapat bahwa takdir atau ketentuan Tuhan itu dua macam, yakni ketentuan Tuhan yang bisa diubah oleh manusia, dan ketentuan Tuhan yang tidak bisa diubah oleh manusia. Takdir macam kedua itu menimbulkan pertanyaan: apakah ketetapan Tuhan yang bisa diubah oleh manusia itu termasuk takdir? Bukankah perubahan yang dapat dilakukan oleh manusia itu buah dari ikhtiar? Jadi, takdir Tuhan itu tergantung pada ikhtiar manusia?

Menurut sebagian ulama, salah satu dimensi takdir ialah bahwa takdir adalah ketetapan Tuhan yang tidak berdampak pahala atau dosa pada hamba-Nya. Seseorang ditakdirkan menjadi laki-laki, itu tidak berdosa dan tidak pula berpahala. Begitu pula ketika seseorang terlahir sebagai perempuan.

Iman kepada takdir mengandung keyakinan bahwa Allah swt tahu apa yang sudah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi.

Pengetahuan Tuhan tentang apa yg akan terjadi tidak identik dengan Tuhan menentukan apa saja yang akan terjadi pada setiap diri day to day; kapan seseorang lahir, siapa jodohnya, kelak anaknya berapa, tinggal di mana, akan meninggal dunia di mana, tahun berapa, bulan apa, hari apa, dan jam berapa, serta apa penyebab kematiannya.

Tuhan tahu kita akan makan siang dan makan malam apa, di mana, dan dengan siapa, akan tetapi kitalah yang menentukan, dan kita pula yang harus membayarnya.

Menjadi pejabat eksekutif, legislatif, atau yudikatif, menjadi pedagang, guru, dosen atau satpam adalah pilihan, bukan takdir, dan masing-masing mendapat imbalan atas pilihan dan karya nyatanya.

Seseorang menjadi koruptor, apa pun profesinya, juga akan mendapat sanksi atas perbuatannya. Itu juga bukan takdir Tuhan, melainkan pilihannya.

Lebih ekstrem lagi, seseorang mati bunuh diri ( na’udzu billahi min dzalik ), itu takdir Tuhan atau ikhtiar manusia? Matinya adalah takdir Tuhan, sedangkan cara matinya adalah pilihan manusia. Jadi, dia niscaya mempertanggungjawabkan pilihan buruknya itu di hadapan Tuhan.

Boleh jadi di dunia ini tidak/belum semua orang mendapat imbalan dan/atau sanksi yang setimpal dengan perbuatannya, tetapi kelak masing-masing akan mendapatkan balasan yang seadil-adilnya.

Maliki yaumiddin…

Alaisallahu bi ahkamil hakimin…

Bagaimana mungkin orang percaya pada sunnatullah, tetapi tidak percaya pada takdir-Nya, padahal sunnatullah itu adalah bagian dari qadar-qadar yg telah ditetapkan-Nya.

Wa lan tajida lisunnatillahi tabdila.. engkau sekali-kali tak akan menemukan perubahan pada sunnatullah.

Dalam situasi terkini, akankah kita pergi ke Ibu Kota (bagi warga negara Indonesia yang tidak berdomisili di Jakarta), dengan penuh keyakinan, bahwa bila Tuhan menghendaki, kita akan tetap selamat dari Coronavirus yang telah menjadi pandemi?

Berdosakah orang yang meninggalkan jama’ah dan Jum’ah di masjid untuk menyelamatkan nyawanya, ataukah itu pertanda orang yang kurang iman kepada Tuhan?

“Marilah kita menghindari takdir untuk mendapatkan takdir lain yang lebih baik,” demikian kalimat populer dari Khalifah Umar bin Khathab.

Kematian karena Corona itu, walaupun jumlahnya sedikit, tetapi massal, sedangkan kematian akibat kecelakaan lalulintas, alkohol, rokok, kanker, dan lain-lain itu kasuistik dan tidak massal.

Jika umat manusia di muka bumi ini tidak berusaha menghindari dan menangkal Corona, kita bisa meninggal dunia bersama.

Di dalam lubuk hati yang terdalam setiap insan mencintai kebaikan dan membenci kejahatan. Pengalaman dan lingkunganlah yang membelokkan dan menjerumuskan, bukan Tuhan.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *