Poligami Kiai Dahlan

Posted by

Dahlan memulai kehidupan rumah tangganya ketika menikahi Siti Walidah, anak Kiai Fadlil Kamaludiningrat, seorang penghulu hakim Masjid Gede Kasultanan Ngayogyakarta. Usia Dahlan 20 tahun dan Walidah 17 tahun ketika mereka menikah pada bulan Dzulhijjah tahun 1889 Masehi. Walidah—yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan—adalah seorang perempuan yang sangat terampil. Sebagai anak seorang ulama, ia juga mengalami masa pingitan sebagaimana layaknya gadis-gadis Jawa pada umumnya.

Hal itulah yang membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk mencicipi pendidikan formal. Meski begitu, ia dikenal sebagai gadis yang cerdas dan berwawasan luas—khususnya tentang pendidikan Islam. Pingitan tak menghalangi Walidah untuk mengasah diri. Membaca buku dan kitab sudah menjadi rutinitas kesehariannya, di samping belajar memasak dan menjalankan kewajiban dapur sebagaimana layaknya seorang perempuan Jawa pada umumnya.

Setelah menikah dengan Dahlan, semangat belajar Walidah tidak surut. Justru ia semakin semangat mempelajari Islam dari suaminya, juga dari Kiai Haji Abu Bakar—mertuanya yang menduduki jabatan sebagai Ketib Amin di Masjid Gede. Pernikahannya dengan Dahlan membuka peluang bagi Walidah untuk mengembangkan diri. Dari pernikahannya dengan Walidah, Dahlan dikarunia enam orang anak. Mereka adalah Wahban, Siraj, Siti Busyro, Siti Aisyah, Jumhan, dan Siti Zuharoh.

Setelah mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada 18 November 1912 Masehi, atas permintaan Sultan Hamengkubuwana VII, Dahlan menikah dengan Raden Ayu Soetidjah Windyaningrum atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nyai Abdullah. Sebagai seorang abdi dalem kasultanan Yogyakarta, Dahlan tidak bisa menolak pemberian Ngarsa Dalem yang sudah memberikan dukungan dan restu atas pembaharuan yang dilakukannya di Kauman. Dengan tujuan untuk meluaskan dakwah di kalangan abdi-dalem, akhirnya Dahlan menikahi Nyai Abdullah yang berusia 18 tahun. Dengan kata lain, tujuan Dahlan menikah dengan Nyai Abdullah adalah untuk memberi warna Muhammadiyah di Keraton Yogyakarta.

Sayang, pernikahan Dahlan dan Nyi Abdullah tak berlangsung lama. Dengan alasan untuk menjaga hati Walidah yang pencemburu, Dahlan memutuskan untuk bercerai dengan gadis bangsawan asal Namburan itu. Nyai Abdullah diceraikan Dahlan dengan perantara Kiai Haji Muhammad Nur, kakak Walidah yang menduduki jabatan sebagai Lurah Jamaah di Masjid Gede. Kisah perceraian Dahlan dan Nyai Abdullah sangat unik karena dilakukan dengan menggunakan surat. Dengan Nyai Abdullah, Dahlan dikaruniai seorang putra bernama R. Dhurie.

Setelah bercerai dengan Nyai Abdullah, Kiai Munawir datang berkunjung ke Kauman. Ulama yang cukup dihormati oleh masyarakat Krapyak, Yogyakarta itu menghendaki agar Dahlan bersedia menikah dengan adiknya yang bernama Nyai Rum. Pernikahan ini juga dimaksudkan agar ada sinergitas gerakan antara Muhammadiyah dengan masyarakat awam yang ada di Krapyak dan sekitarnya. Akhirnya, Dahlan pun setuju menikah dengan Nyai Rum dengan tujuan untuk memperluas jaringan dakwah di Yogyakarta. Tapi, pernikahan Dahlan dan Nyai Rum hanya sekadar status saja dan akhirnya mereka bercerai dengan tanpa memiliki keturunan.

Setelah bercerai dengan Nyai Rum, Dahlan melakukan perjalanan dakwah ke daerah Jawa Barat. Dalam perjalanan dakwahnya, Dahlan singgah di daerah Cianjur. Seorang Penghulu Ajengan di daerah itu merasa kagum dengan kepandaian dan pemikiran-pemikiran Dahlan sehingga berkeinginan untuk menikahkan anaknya yang bernama Aisyah dengan Dahlan. Penghulu Ajengan ini hanya menginginkan adanya keturunan dari Dahlan di Cianjur. Dengan kata lain, Penghulu Ajengan tidak menuntut agar Dahlan bertempat tinggal di Cianjur setelah menikah dengan Aisyah. Dengan tujuan untuk menguatkan jaringan dakwah di Jawa Barat, akhirnya Dahlan menikah dengan Aisyah. Pernikahan mereka menghasilkan seorang putri yang bernama Siti Dandanah. Usia Nyai Aisyah masih sangat muda ketika menikah dengan Dahlan, yaitu 15 tahun.

Sebagai laki-laki, Dahlan sangat paham, jika poligami akan sangat menyakitkan perempuan. Meski Walidah, tidak pernah melarangnya menikah lagi dengan perempuan mana pun yang disukainya, tapi Dahlan sangat menjaga perasaan Walidah sebagai istri pertamanya. Salah satu jalan yang dilakukan oleh Dahlan untuk menjaga perasaan Walidah adalah dengan tidak menempatkan istri-istrinya yang lain dalam satu rumah. Nyai Abdullah tetap tinggal di Namburan. Nyai Rum tetap bermukim di Krapyak, dan Nyai Aisyah tetap tinggal di Cianjur, Jawa Barat.

Poligami Dahlan memang fakta sejarah. Tapi yang harus dipahami adalah alasannya melakukan poligami. Penguatan jaringan dakwah adalah alasan yang digunakan oleh Dahlan untuk melakukan poligami. []

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *