Potret Buram Pelaksanaan Ibadah Haji di Lima Tahun Pasca Kemerdekaan

masa-kini.id. – Pelaksanaan ibadah haji di masa sekarang  telah berjalan dengan  sangat bagus. Hal tersebut setidaknya telah disiapkan dengan baik melalui serangkaian kebijakan maupun implementasi pelaksanaannya. Sehingga, ibadah haji yang berjalan sekarang dapat berjalan lancar dan mengesankan bagi yang berangkat dalam menunaikan ibadah haji. Standar beaya dan pelayanan sama semuanya di antara seluruh jamaah Indonesia. Dengan demikian, pelaksanaan ibadah haji dapat terus menerus meningkat kualitas pelaksanaannya.

Pasca kemerdekaan, ketika Kementrian Agama di pimpin oleh KH. Wahid Hasyim digambarkan akan potret buram pelaksanaan ibadah Haji. Setidaknya dalam pelaksanaan dan jamaah haji di dalamnya yang waktu itu sebanyak 10.000 orang. Mereka jamaah haji harus berkorban dengan tenaga, beaya, kesehatan dan sebagainya dengan transportasi kapal yang memakan waktu lama. Dengan demikian, sebagai meteri agama ingin menjadikan pelaksanaan haji dapat berjalan baik.

Baca juga : Hari Arafah, Momentum Identifikasi Diri

Ibadah Haji sebagai konggres Islam se dunia seiring bertemunya beragam manusia dari beragam bangsa dan negara. Sebagai bagian wakil delegasi dalam konggres tersebut, jamaah haji Indonesia sering tidak mencerminkan dan merepresantasikan dengan keadaan bangsa Indonesia yang sesungguhnya.  Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Mr. R. M. Sumanang anggota Senat PJS dan wartawan penulis Jogja-Solo. Mereka jamaah haji lebih banyak dari lapisan bawah yakni masyarakat petani dan pedagang kecil menengah dan pengetahuanya juga amat sederhana. Demikian juga pakaian jamaah haji yang serba sederhana yang tidak mampu menarik hati orang lain. Selain itu, sikap badannya yang terlalu rendah atau tawadhu’ juga menjadi bagian dari inferioritas mereka di antara masyarakat lain di dunia. Dengan demikian, mereka jamaah haji Indonesia menjadi bagian dari jamaah lain dengan kondisinya tidak percaya diri.

Perjalanan  haji Indonesia pada saat itu yakni tahun 1947 dikatakan tidak sehat. Hal tersebut setidaknya dalam perjalanan menuju Saudi Arabia dilaksanakan dengan kapal laut. Untuk sampai tujuan butuh waktu yang lama. Sehingga bekal mereka selama perjalanan sangat banyak seperti seperti bahan makanan 30 kg beras, 3 kg gula pasir, 10 kg kacang hijau, 2 kg teh,  3 kg tembakau, 1 kg obat-obatan, 2 kg bumbu-bumbu, 10 kg alat-alat tidur, 5 kg peralatan dapur, 5 kg makanan kering dalam toples dan 25 kg pakaian. Dengan demikian, barang bawaan yang digunakan dalam perjalanan sangat banyak.

Baca juga : Puncak Haji dan Pesona di Dalamnya

Barang bawan tersebut adalah tertuang dalam regulasi haji pada Intruksi Bersama. Hal tersebut sebagaimana dalam surat bernomor No. C/2/1/5240 tertanggal 15 April 1951. Setidaknya urusan haji dilaksanakan oleh sembilan instansi. Kesembilan instansi tersebut adalah  Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Kesehatan, Menteru Perhubungan dan Pengangjutan, Lembaga Alat-alat Pembayaran Luar Negeri, BNI dan BRI. Dengan demikian, persiapan pelaksanaan ibadah haji silaksanajan dengan lintas  instansi.

Tantangan dan hambatan jamaah haji  semakin berat. Hal tersebut tergambar bahwa tidak semua jamaah haji dapat melaksanakan puncak ibadah haji di Arafah. Mereka dengan pengetahuannya sering ditipu sehingga menjadikan mereka sebagai obyek empuk orang jahat. Demikian juga ketika jamaah haji Indonesia yang tertipu disuruh beli ka’bah dengan alasan wakaf. Jamaah tersebut tidak mengetahui bahwa ka’bah ini kepunyaan Allah swt. dan dibuat pasa masa Nabi Ibrahim a.s. Dengan demikian, diperlukan perbaikan persoalan haji dengan baik terutama dalam kaitan pengetahuan jamaah.

Selain di atas, juga terdapat tantangan lainIndonesia juga dapat dilihat dalam perjalanan menuju ke Saudi Arabia. Setidaknya dalam perjalanan yang lama tersebut memungkinkan adanya barang yang hilang selama dalam perjalanan. Ketika turun di Jeddah tidak langsung dapat turun dari kapal karena kapal mereka naiki adalah kapal besar maka mereka ke tepian menggunakan perahu atau motor boat. Setelah turun mereka memasuki pintu yang kecil yang hanya dapat dilewati seorang diri dan diajukan pertanyaan tertentu seperti siapa namanya dan ikut syaikh siapa? Maksudnya adalah rombongan siapa. Hal inilah menjadikan jamaah calon haji berpisah antara satu rombongan dengan lainnya. Hal lain terjadi dan dialami jamaah dengan menyebut syaikh Raja Ibn Saud, maka jamaah tersebut menjadi tamu  raja yang diistimewakan dan perjalannya menjadi gratis. Dengan demikian, untuk melaksanakan haji pada waktu itu memerlukan perjuangan.

Syaikh di atas adalah mereka yang membantu dalam menyediakan akomodasi. Setidaknya pekerjaan syaikh tersebut menyediakan pemondokan baik di Makkah maupun Madinah. Selain itu selama kegiatan Arafah, Mina dan Muzdalifah juga. Umumnya terkadang pemondokan yang disediakan tidak memiliki standar kesehatan seperti ruangnya terbatas dan berdesakan serta kotor. Hal ini belum juga dengan perbedaan harga satu syekh dengan lainnya. Dengan demikian, haji merupakan pengorbanan yang tinggi bagi jamaah.

Mereka yang berhaji adalah pengorbanan yang besar. Hal tersebut setidaknya pada badan, tenaga dan pikiran serta harta bendanya. Beaya yang dikeluarkan selama perjalanan dan di Makkah serta pelaksanaan ibadahnya. Sering kali jamaah tersebut menjadi lahan empuk para penipu baik dalam hal penginapan maupun dalam kebutuhan tertentu seperti pembelian rokok yang berbeda satu dengan lainnya maupun masah dam atau pembelian hewan kambing sebagai denda yang melaksanakan haji tamattu’. Dengan demikian, pengorbanan ini menjadi bagian yang membebani jamaah haji.

Ungkapan pelaksanaan ibadah haji dalam perjalanan pada masa itu yaitu di awal keberangkatan sering kapal penuh sesak dengan jamaah. Namun, ketika pulang ke Indonesia jumlah jamaah haji yang turun dari kapal menjadi sedikit. Hal tersebut sesuai dengan penglihatan orang-orang yang mengantarkan jamaah haji berangkat dan menjemputnya sesaat kepulangannya. Dengan demikian, perjalanan ibadah haji pada masa tersebut merupakan potret bura. Perjalanan haji Indonesia.

Kenyataan di atas adalah sebagai bagian dari Indonesia yang baru merdeka. Indonesia yang mengalami penjajahan yang lama selalu tidak diberi kesempatan yang luas dan penuh dalam setiap hal. Sehingga pada masa itu ummat Islam dianggap sebagai anak tiri sehingga aksesnya terbatas. Dengan demikian, menjadi bangsa yang merdeka san mandiri diperlukan pengalaman yang lama termasuk dalam dunia perhajian.

Dua penyebab utama kurang baiknya perjalanan haji adalah kualitas jamaah haji yang sangat sederhana dan kalangan terpelajar menjauhi persoalan haji. Hal tersebut menjadikan usaha dari KH Wahid Hasyim sebagai menteri agama untuk membuat langkah-langkah perbaikan. Setidaknya terdapat empat langkah yakni membiarkan apa adanya, berusaha dunia terpelajar tertarik dalam perhajian, menunda kenerangkatan jamaah haji sampai mereka memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan jamaah lain di Makkah dan membekali dan meninggakan kecerdasan calon jamaah haji. Dengan demikian, melalui usulan menteri agama pada saat itu dunia perhajian Indonesia akan semakin baik dari hari ke hari.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *