Prioritas Pemberdayaan Masyarakat

Posted by

Prioritas maksudnya yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain. Misalnya, pembicaraan mengenai undang-undang antikorupsi diberi prioritas dalam parlemen, walaupun kenyataan di lapangan berbeda. Pemberdayaan artinya proses, cara, perbuatan memberdayakan. Berdaya maksudnya berkekuatan, berkemampuan, bertenaga, yakni mempunyai akal, cara, dan sebagainya untuk mengatasi sesuatu.

Pemberdayaan adalah membantu pihak yang diberdayakan memperoleh kemampuan mengambil keputusan dan menentukan tindakan untuk dirinya sendiri serta mengurangi ketergantungan kepada pihak lain. Pemberdayaan juga berarti upaya membangun daya dengan mendorong, memberikan motivasi, dan meningkatkan kesadaran tentang potensi yang dimiliki, serta mengembangkannya. Pemberdayaan meliputi penyediaan sumber daya, kesempatan, pengetahuan, dan ketrampilan untuk meningkatkan kapasitas, sehingga dapat mewujudkan masa depan yang lebih baik.  

Masyarakat ialah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Secara sosiologis dikenal masyarakat adat, masyarakat bercocok tanam, masyarakat desa, masyarakat hukum, masyarakat kelas atas, masyarakat kelas menengah, masyarakat kelas bawah, masyarakat komunal, masyarakat kota, masyarakat madani, masyarakat majemuk, masyarakat modern, masyarakat pinggiran, masyarakat tradisional.        

Sudah menjadi sunatullah bahwa masyarakat terdiri atas tiga golongan, yakni golongan bawah, menengah, dan atas. Stratifikasi demikian itu ada di mana-mana, baik dari segi ekonomi, sosial, pendidikan, politik, budaya, dan sebagainya. Strata sosial golongan bawah biasa disebut kaum lemah (du’afa), baik lemah jasmani maupun rohani.

Kemudian Kami wariskan Kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang besar. (QS 35:32)

Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kamilah yang membagi-bagikan penghidupan di antara mereka dalam kehidupan dunia ini, dan Kami angkat derajat yang sebagian di atas yang lain beberapa derajat, supaya satu dengan yang lain dapat saling memanfaatkan. Rahmat Tuhanmu lebih baik daripada hata yang mereka kumpulkan. (QS 43:32)

Adanya pihak yang kuat dan yang lemah di tengah-tengah masyarakat meniscayakan manusia untuk tolong-menolong, saling berbagi, dan saling menguatkan satu dengan yang lain, baik secara moril maupun materiil, agar tercipta kehidupan yang harmonis dan damai. Gejolak sosial akan terjadi jika orang yang kaya tidak memiliki kepedulian kepada yang miskin dan yang kuat tidak memberikan rasa aman kepada yaang lemah. 

Al-Quran mewanti-wanti orang-orang beriman agar tidak meninggalkan anak keturunan yang berstatus lemah. Perumpamaan orang yang melakukan sebaik-baik amal pada permulaan hidupnya kemudian jalan hidupnya berbalik dan mengganti kebaikan dengan keburukan, terhapuslah amal salihnya terdahulu. Kemudian datang masa tua dan anak keturunannya lemah tak mampu menanam seperti orang tuanya. Anak-anak keturunannya tidak berguna baginya. Hanya orang-orang berilmu yang mengambil pelajaran dari perumpamaan itu (QS 2:266).

 Tentang generasi lemah, Allah swt berfirman,

Hendaklah ada rasa takut pada orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang tak berdaya,  khawatir terhadap nasib mereka. Maka, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan berbicara dengan tutur kata yang penuh kasih sayang. (QS 4:9)

Ali bin Abi Thalib meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayat itu berkenaan dengan seorang laki-laki yang meninggal dunia dan ia memberikan wasiat yang membahayakan ahli warisnya. Maka Allah swt memerintahkan agar orang bertakwa kepada-Nya dan membimbing anak-anak pada kebenaran.

Ketika Nabi Muhammad saw menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqas, ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak harta dan tidak memiliki ahli waris kecuali seorang putri. Bolehkah aku menyedekahkan dua pertiga hartaku?” Beliau menjawab, “Tidak.” Ia bertanya, “Bagaimana kalau setengahnya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Dia pun bertanya lagi, “Bagaimana kalau sepertiga?” Beliau menjawab, “Ya, sepertiga boleh, dan sepertiga itu banyak.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Kamu meninggalkan keturunan dalam keadaan cukup lebih baik daripada membiarkan mereka miskin dan meminta-minta.” (HR Bukhari). 

Setiap mukmin niscaya menjaga perilakunya sendiri, keluarganya, dan orang-orang terdekatnya dengan selalu saling mengingatkan untuk menetapi kebenaran dan kesabaran dalam menjalani hidup ini (QS 66:6).

Jika seseorang hidup hanya untuk dirinya sendiri, ia belum memenuhi seluruh kewajibannya. Apa pun kekayaan yang ada padanya, terutama dalam kehidupan moral dan spiritual, harus ia sebarluaskan kepada saudara-saudaranya. Di dalam harta seorang mukmin terdapat hak bagi peminta dan orang-orang yang kurang beruntung memperoleh rezeki (QS 51:19, 70:24-25).  

Prioritas pemberdayaan warga masyarakat menurut tuntunan Al-Quran adalah sebagai berikut.

Mengabdilah kepada Allah dan jangan mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga-tetangga dekat dan tetangga-tetangga jauh, teman sejawat, dan orang dalam perjalanan, serta hamba sahaya yang dimiliki. Allah tidak menyukai orang yang congkak lagi membanggakan diri. (QS 4:36)

Rasulullah saw bersabda kepada Mu’adz bin Jabal, “Tahukah engkau hak Allah yang harus ditunaikan hamba-hamba-Nya?” Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Yaitu beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” Kemudian beliau bertanya lagi, “ Tahukah engkau hak hamba atas Tuhannya, jika mereka melaksanakan kewajibannya? Yaitu Allah tidak akan meniksanya.” (HR Bukhari dan Muslim)  

Allah swt kemudian berpesan agar mukmin berbuat baik kepada kedua orang tua, lalu kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, dan tetangga dekat maupun tetangga jauh.

Rasulullah saw bersabda, “Sedekah kepada orang miskin itu terhitung satu sedekah, dan sedekah kepada kerabat terhitung sedekah dan menyambung silaurahmi.” (HR Tirmidzi).

Rasulullah saw bersabda, “Jibril senantiasa mewasiatkan agar aku berbuat baik kepada tetangga, hingga aku menyangka mereka akan mewarisi.” (HR Buhari dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik sahabat di hadapan Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga di hadapan Allah adalah yang paling baik kepada tetangganya.” (HR Ahmad)

‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw, “Aku mempunyai dua orang tetangga, mana di antara keduanya yang lebih berhak aku beri hadiah?” Beliau menjawab, “Orang yang pintu rumahnya lebih dekat kepadamu.” (HR Bukhari) 

Pihak yang berhak diberdayakan dengan zakat wajib adalah delapan golongan, yakni orang-orang fakir yang papa, orang-orang miskin yang terhalang rezekinya, para amil yang bertugas membagi zakat, orang-orang mualaf, orang yang tak mampu membayar hutang, para mujahid di jalan Allah, baik dengan mengajar maupun menunaikan tugas-tugas lain yang tidak memungkinkannya memperoleh rezeki dari tugas yang dijalankannya itu, serta musafir yang kehabisan dana (QS 9:60).

Allah swt berpesan agar mukmin membela orang-orang yang lemah atau dilemahkan secara struktural (QS 4:75). Dalam konteks kekinian, akibat kepungan wabah corona, orang-orang yang lemah adalah termasuk mereka yang bekerja dengan upah harian dan mengalami pemutusan hubungan kerja. Seruan agar lebih banyak tinggal di rumah menuntut pemerintah dan masyarakat luas untuk membantu mereka yang tak berdaya akibat pandemi corona. Semoga wabah yang mendera segera sirna.[] 

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *