Radikalisme, Ekstremisme, dan Moderasi Beragama

Posted by
  • Ikhlas beramal.
  • Radikal: secara mendasar (sampai kepada yang prinsip); amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); maju dalam berpikir atau bertindak.
  • Radikalisme: paham atau aliran yang radikal dalam politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; sikap ektrem dalam aliran politik.
  • Ekstrem: paling ujung (paling tinggi, paling keras, dan sebagainya); sangat keras dan teguh; fanatik.
  • Ekstremisme: keadaan atau tindakan menganut paham ekstrem berdasarkan pandangan agama, politik, dan sebagainya.
  • Fundamental: bersifat dasar (pokok); mendasar: iman merupakan suatu hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan manusia.
  • Fundamentalisme: paham yang cenderung untuk memperjuangan sesuatu secara radikal.
  • Fundamentalis: penganut gerakan keagamaan yang bersifat kolot dan reaksioner dan selalu merasa perlu kembali ke ajaran agama yang asli seperti yang tersurat di dalam kitab suci (literal dan tekstual).
  • Fanatik: teramat kuat (tentang kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu ajaran, seperti politik, dan agama).
  • Fanatisme: keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya).
  • Moderat: selalu menghindarkan perilaku  atau pengungkapan yang ekstrem; berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah.
  • Moderasi: pengurangan kekerasan; penghindaran keekstreman.
  • Umat pertengahan ialah umat yang adil, seimbang, tidak berlebih-lebihan, tidak berat sebelah; tidak berat ke dunia maupun akhirat.
  • Demikian Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu… (QS 2:143)
  • Carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi jangan lupa bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah berbuat kerusakan di bumi… (QS 28:77)
  • Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan jangan bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara… (QS 3:103)
  • Hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS 3:104)
  • Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia… (QS 3:112)
  • Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (pelit) dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya (boros); nanti kamu menjadi tercela dan menyesal…(QS 17:29)
  • Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS 7:31)
  • Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan,  maka Kami siksa sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. (QS 7:96)
  • Baginya (manusia) ada malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Bila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tak ada yang dapat menolak dan tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS 13:11)
  • Yang demikian itu karena Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS 8:53)
  • Bangsa Indonesia terdiri atas beberapa suku, agama, dan golongan. Sungguhpun berbeda-beda, tetapi satu tujuan: meraih kebahagiaan hidup. 
  • Tidak ada bangsa yang mencapai kebesaran jika tak percaya kepada  pandangan hidup yang berdimensi moral guna menopang peradabannya.
  • Manusia beriman mempunyai dua dimensi hubungan yang seimbang dan harmonis: hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama.
  • Enam dimensi persaudaraan: (1) sesama manusia; (2) pertalian darah; (3) perkawinan; (4) suku bangsa; (5) sesama pemeluk agama; (6) seiman.
  • Persaudaraan sesama manusia ditunjukkan oleh sebutan Bani Adam yang menyatukan manusia dalam persaudaraan universal. (QS 7:26).
  • Persaudaraan seiman dan seagama dicanangkan Allah dalam QS 49:10.
  • Persaudaraan antarumat beragama berlandaskan QS 60:8.
  • Untuk memelihara kerukunan, orang niscaya menahan diri dari memperolok, prasangka, memata-matai, dan menggunjing. (QS 49:11-12).
  • Dalam hal akidah dan ibadah tidak ada kompromi antar-agama. (QS 109).
  • Persaudaraan iman dan kebangsaan adalah sekaligus; melaksanakan ajaran agama sekaligus mendukung nilai-nilai bangsa.
  • Tips menjaga kerukunan: (1) membangun persahabatan; (2) menjaga kehormatan; (3) saling menolong, memaafkan, dan mendoakan.
  • Setiap agama memiliki nilai kasih sayang, penghargaan, persaudaraan, keadilan, kerendahan hati, kerja sama, tanggung jawab, perdamaian, dan kebahagiaan, serta toleransi.
  • Keimanan dan keyakinan setiap agama tidak membenarkan tindakan kekerasan apa pun terhadap pemeluk agama yang sama atau berbeda.
  • Prinsip belas kasih di dalam jantung seluruh agama mengimbau kita untuk  memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan.
  • Penyuluh agama hendaknya menyumbangkan pemikiran tentang agama sebagai kekuatan untuk mewujudkan peran konstruktif pemeluknya. 
  • Penyuluh agama menjadikan belas kasih sebuah kekuatan yang dinamis menembus batas politik, dogmatis, dan ideologi sebagai jalan  pencerahan.
  • Penyuluh agama mendorong perdamaian berkelanjutan menuju masyarakat  yang demokratis, aman, dan damai.
  • Menjadikan Pancasila sebagai prinsip pemberadaban manusia dan bangsa Indonesia, penghapusan kekerasan, ketidakadilan, dan kesenjangan hidup. 
  • Warga negara Indonesia niscaya menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan bendera dwiwarna. “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.”
  • “Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia, tetapi tak cukup untuk memuaskan keserakahan seorang saja.” (M. Ali Jinnah)
  • “Saya tidak melihat dosa yang lebih besar daripada menindas mereka yang tidak bersalah dengan mengatasnamakan Tuhan.” (Mahatma Gandhi)
  • “Dengan ilmu hidup menjadi mudah. Dengan seni hidup menjadi indah. Dengan agama hidup menjadi terarah.” (A. Mukti Ali)

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *