Revivalisme: Islam Persneling Tiga

masa-kini.id – Istilah revivalisme Islam (Islamic revivalism) merujuk kepada gerakan keagamaan dalam Islam yang berorientasi mengaktualisasikan ajaran-ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan, baik yang bersifat ibadah (gerakan jamaah di ruang publik seperti kawasan perdagangan dan kantor pemerintah) maupun muamalah (perumahan atau pertokoan Islami), yang privat (fashion dan make-up halal) maupun publik (ekonomi dan perbankan Islam), yang fundamental (Islamisasi ilmu pengetahuan) maupun artifisial (penggunaan istilah Arab seperti arti ikhwan dan akhwat). Bagi kelompok ini, Islam bukan hanya persoalan agama melainkan sebuah peradaban lengkap dengan segala pernak-perniknya.

Baca juga : Modernisme: Islam Persneling Dua

Dalam banyak kajian Islam kontemporer, revivalisme Islam sering dilihat sebagai sebuah fenomena negatif: tradisi pemikiran keagamaan yang bercorak totaliter dan memiliki tendensi eksklusivisme dan intoleran. Contoh yang sering digunakan dalam menunjuk gerakan revivalisme Islam antara lain Wahabisme di Saudi Arabia, Ikhwanul Muslimin di Mesir, pemerintahan Republik Islam Iran.

Namun sebenarnya gerakan revivalisme Islam tidaklah monolitik dan sederhana. Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Ira Lapidus, penulis buku sejarah masyarakat Islam yang tebal itu, bahwa gerakan revivalisme Islam memiliki banyak varian: ada yang eksklusivis tapi ada juga yang toleran, ada yang mengadopsi sains modern tapi ada juga yang anti sains, ada yang bergerak murni dalam bidang keagamaan tapi ada juga yang merambah wilayah politik, ada yang demokratis ada yang otoritarian, ada yang menempuh cara-cara damai dan ada pula yang menempuh cara-cara kekerasan.

Banyak pula kajian yang cenderung menyederhanakan persoalan dengan melihat fenomena revivalisme Islam tidak lebih sebagai penyebaran paham tekstualis (kaku) yang mengakibatkan munculnya cara berpikir totalitarian dan perilaku intoleran. Namun pembacaan secara lebih luas dan lebih mendalam akan menunjukkan bahwa fenomena revivalisme Islam adalah fenomena pasca kolonial, terutama era perang dingin, sebagai reaksi terhadap kegagalan negara dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Baca juga : Tradisionalisme: Islam Persneling Satu

Di Timur Tengah revivalisme Islam muncul sebagai reaksi umat Islam terhadap kegagalan negara dalam mewujudkan impian pasca penjajahan (kemerdekaan), baik yang bersifat domestik maupun regional, seperti kekalahan perang Arab-Israel 1967, dan juga kehampaan ideologi-ideologi politik sekuler seperti sosialisme-revolusioner di Mesir yang memicu popularitas Ikhwanul Muslimin, maupun kapitalisme-feodal di Iran yang memancing bangkitnya revolusi Islam.

Di Indonesia revivalisme Islam mulai marak pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an. Bermula dari kelompok-kelompok anak muda yang berbasis di lembaga pendidikan sekuler membentuk kelompok-kelompok kajian keislaman, di bawah asuhan mentor-mentor lulusan Timur Tengah, dengan orientasi peneguhan identitas keislaman dalam balutan jargon berislam secara kaffah.

Model pengkajian Islam ini sedikit berbeda dengan dakwah konvensional yang lebih berorientasi kepada pemeliharaan tradisi, pendalaman pemahaman dan penataan perilaku (akhlakul karimah) yang banyak berkembang di lembaga-lembaga pendidikan berlabel Islam kala itu.

Revivalisme Islam semakin marak di era reformasi, ketika para aktivis gerakan Islam kaffah ini menyebar ke berbagai sektor kehidupan di masyarakat. Dalam bidang politik, bermunculan organisasi dan partai politik yang mendorong agenda islamisasi politik dan pemerintahan–bahkan ingin mendirikan khilafah.

Baca juga : Negara dan Fragmentasi Umat

Sempat muncul upaya mengembalikan piagam Jakarta yang berisi kewajiban menjalankan syariat bagi umat Islam. Tendensi ini nantinya berlanjut dengan maraknya penerapan Perda Syariah di berbagai daerah: mulai dari yang mewajibkan pegawai pemerintah membayar zakat infak sedekah, menerapkan hukum cambuk bagi pelanggar aturan agama, kewajiban mengenakan pakaian yang menutup aurat, hingga instruksi untuk menyediakan papan nama kantor-kantor pemerintah menggunakan huruf Arab.

Dalam bidang ekonomi ada gerakan untuk membangun sistem ekonomi Islam, dimana gagasan membangun sistem perbankan Islam banyak direspon oleh bank-bank konvensional dengan menyediakan unit atau layanan berbasis Syariah. Disusul dengan pendirian berbagai jenis program studi terkait dengan ekonomi Islam baik di level sarjana maupun pascasarjana, di perguruan tinggi agama maupun umum.

Hal yang sama juga terjadi dengan pengelolaan zakat infak sedekah yang memadukan antara upaya mengintegrasikannya dengan kebijakan negara dalam bentuk undang-undang dan standarisasi pengelolaan sesuai dengan manajemen modern.

Dalam bidang sosial-budaya ada gerakan Islamisasi dalam berbagai aspek kehidupan: mulai dari Islamisasi ilmu pengetahuan dengan berbagai corak dan model yang kadang kala bisa saling bertentangan (mengislamkan ilmu vs mengilmukan Islam), sertifikasi halal untuk produk-produk makanan, obat maupun kosmetik, hingga tren fashion dan aksesoris bernuansa Islami.

Demikian kuat tendensi untuk mengaktualisasikan ajaran Islam secara eksplisit dalam kehidupan menjadikan gerakan Islam revivalis mendapatkan julukan “Islam formalis”: yaitu tendensi untuk “menampakan” Islam dalam struktur kehidupan. Yang dilawankan dengan “Islam substantif”, yang lebih berorientasi kepada aktualisasi nilai-nilai Islam seperti kemajuan, kesetaraan dan harmoni sosial, tanpa banyak merebutkan tampilan formal struktur yang ada. Narasi ini biasanya dilanjutkan dengan kesimpulan bahwa Islam formalis cenderung tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi karena sering disertai dengan sikap eksklusivisme dan perilaku intoleran (uncivil/biadab). Sementara Islam substantif lebih sejalan dengan demokrasi karakter masyarakat Indonesia yang plural (civil/beradab).

Namun jika dicermati lebih jauh, pemahaman bahwa Islam revivalis bersifat formalistik sebenarnya lebih menunjukkan penglihatan sebagai outsider, atau pengamat dari luar. Karena jika dilihat dari kacamata penganut Islam revivalis, apa yang mereka lakukan justru merupakan substansiasi keislaman terhadap kehidupan.

Ini terjadi karena para pengikut Islam revivalis adalah generasi yang sudah sepenuhnya tercerabut dari akar sosial masyarakat tradisional. Mereka ini adalah generasi Islam yang tumbuh dan dibesarkan dalam struktur kehidupan yang sepenuhnya disediakan oleh negara modern.

Pada generasi sebelumnya, ayah ibu atau kakek-nenek mereka, proses sosialisasi mengenali, memahami, dan menjalani kehidupan berjalan secara tradisional: diasuh oleh keluarga, tumbuh dalam lingkungan bertetangga, hingga akhirnya mendewasa dan menerima tanggung jawab kehidupan yang disediakan oleh masyarakat dengan segala koridor tradisi dan budaya.

Sedangkan generasi revivalis tumbuh dari sekolah ke sekolah (PAUD hingga S3), dan berkembang dalam asuhan para guru, dosen, dan teman belajar yang modus operandinya ditentukan dan diatur oleh negara melalui undang-undang dan aturan turunannya. Hingga akhirnya, generasi ini mendewasa sebagai anak negara: berfikir rasional, bergaul prosedural, bercita-cita hidup profesional dengan ukuran-ukuran material (pangkat, jabatan, gaji).

Baca juga : Ikhtilaf sebagai Rahmat

Pola pikir dan perilaku berkerangka negara ini sedemikian seragam dan prosedural sehingga menimbulkan citarasa kehidupan yang banal dan dangkal. Di satu sisi generasi ini sudah dapat menikmati kesejahteraan yang disediakan negara, baik pada level Individu (sehat dan cakep), keluarga (sandang, pangan, papan),  maupun sosial (karir dan status). Namun di saat yang sama kehidupan mereka terasa hampa dan hambar, karena negara secara antropologis memang mewakili kehadiran dari realitas sekuler–seperti dijelaskan Talal Asad.

Bukan sesuatu yang aneh jika kemudian generasi yang lahir, tumbuh dan besar dari sekolah ke sekolah, ketika dewasa menjadi generasi yang hidupnya makmur secara ekonomi namun hampa akan makna.

Dalam konteks inilah revivalisme Islam hadir sebagai gerakan dakwah yang menawarkan solusi substansiasi kehidupan melalui–paradoxically–ornamentasi struktur-struktur kehidupan mereka yang formalistik dengan pernak-pernik Islam yang dapat menghadirkan nilai dan kebaikan ajaran Islam. Sebab, substansi kehidupan mereka sudah dapatkan: kemakmuran ekonomi, kesejahteraan sosial, kemampuan merencanakan masa depan. Sehingga yang terjadi bukanlah formalisasi Islam, melainkan Islamisasi kemakmuran dan kesejahteraan.

Ibarat persneling tiga dari gerakan dakwah, yang berorientasi pada kecepatan dan efisiensi, namun sekaligus memiliki risiko yang lebih tinggi, Islam revivalis menjadi jalan bagi generasi muslim yang tumbuh dan besar dalam kehidupan sekuler yang dibina negara untuk meraih kehidupan yang lebih bernilai dan memiliki makna. Di mata orang luar, keberislaman mereka akan terlihat formalistik dan lebih menekankan kepada penampakan-penampakan dari Islam. Namun di mata mereka, dakwah revivalis menghadirkan dimensi maknawi dan ukhrawi Islam ke dalam kehidupan yang secara duniawi sudah makmur dan sejahtera.

Jeruklegi-Yogyakarta, 17 Syawal 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *