Sisi Gelap, Hebatnya Korea Selatan

Posted by

Oleh: Andre Hanif Maulana*)

Korea selatan, negara yang selalu dikagumi karena dunia entertain mereka yang mampu memukau dunia ternyata banyak menyimpan cerita pedih tentang bagaimana perempuan diperlakukan.

Dunia K-POP seolah-oleh mampu menutup mata kita terhadap cerita-cerita pedih yang sebenarnya perlu perhatian lebih. Perempuan, pemerkosaan, dan kekerasan seksual, ketiga hal itu yang sekiranya merepresentasikan negara K-POP itu ketika dilihat dari kacamata lain.

Seperti yang kita ketahui, Korea Selatan merupakan negara yang budaya patriarkinya sudah “mendarah daging”. Sampai baru-baru ini ada film yang menyinggung mengenai realitas perempuan dalam kungkungan patriarki di Korea Selatan, yaitu film Kim Ji-Young Born 1982, parahnya tidak semua paham dan mengerti apa yang dimaksud oleh film tersebut.

Padahal film ini merupakan gambaran nyata bagaimana perempuan hidup di Korea Selatan, bagaimana mereka berusaha menjadi istri yang “baik”, dan bagaimana pengorbanan mereka ketika harus mengubur mimpinya untuk menjadi perempuan yang “merdeka” dan “berhak”.

Ada lagi dalam film Shoplifters, pada beberapa scene ditunjukan perempuan menjadi “boneka” pemuas hasrat laki-laki dengan cara menari dan memperlihatkan bentuk tubuhnya kepada client yang dibatasi oleh kaca gelap tanpa adanya kontak langsung.

Hal tersebut juga menunjukan bagaimana perempuan hanya menjadi sebuah komoditi untuk diperdagangkan. Perempuan masih menjadi seseorang yang layak dipandang sebelah mata, menjadi seseorang yang layak untuk dipandang sebagai barang, dan menjadi seseorang yang layak untuk selalu direndakan, itulah yang kiranya ada dalam pikiran “Laki-laki Yang Maha Agung” di Korea Selatan.

Apa yang terjadi dalam film tersebut merupakan gambaran apa yang sebenarnya sedang terjadi di Korea Selatan. Dibuktikan dengan kasus #NthRoom yang baru beberapa hari yang lalu terungkap.

#NthRoom merupakan sebuah “tempat” yang dibuat untuk menjual video sex disertai dengan unsur kekerasan dan penyiksaan dengan berbagai macam klasifikasi room yang ada. Klasifikasi tersebut didasarkan pada seberapa mereka (laki-laki) mampu membayar.

Semakin tinggi harga yang mereka bayarkan, semakin sadis perempuan diperlakukan dalam video tersebut. Menyayat kulit dengan pisau, memasukan gunting ke dalam vagina, memakan feses seseorang, dan memotong puting susu. Sungguh sangat-sangat biadab! Mengejutkannya juga bahwa ternyata yang bergabung dalam room tersebut sudah ratusan ribu orang, terakhir dari informasi yang ada, sekitar 260.000 orang sudah tergabung dalam room tersebut.

Terlepas dari bagaimana Cho Ju-Bin (tersangka) mendapatkan korbannya, yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika ada orang yang coba membongkar tentang #NthRoom ini ke media atau forum online, bukan support yang didapat tetapi malah permintaan link untuk bergabung dalam room tersebut.

Sebiadab apa laki-laki yang tega melakukan hal tersebut? Ini yang sedang terjadi di Korea Selatan. Apakah kejadian ini akan terulang kembali? Bisa jadi, karena mengingat Cho Ju-Bin hanya dihukum tiga tahun enam bulan. Bukan main memang.

Catatan terakhir, perempuan ada tidak untuk dipandang sebelah mata, perempuan ada tidak untuk dijadikan sebuah komoditas, dan perempuan ada tidak untuk direndahkan.

*) Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *