Sisi Lain Si Abdul Malik (Buya Hamka)

Posted by

Selain lebih suka belajar secara mandiri atau otodidak di luar kelas, Malik sebenarnya juga tipe anak yang sangat tekun dalam menyimak petuah-petuah yang diberikan oleh guru-gurunya, khususnya orangtuanya sendiri, Haji Rasul. Sebagai anak seorang ulama besar di tanah Minang, tentu saja Malik memiliki banyak kesempatan untuk menyimak dan kemudian mengamalkan apa-apa yang dinasehatkan oleh orangtuanya yang sangat dihormati oleh masyarakat di seantero Sumatera Barat itu. Ketekunan Malik menyimak petuah-petuah Haji Rasul itulah yang kemudian merangsang kepribadiannya untuk lekas-lekas mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam buku memoarnya, Kenang-Kenangan Hidup, Hamka menceritakan jika pada suatu hari, ketika tengah berjalan-jalan di pasar, dirinya melihat seorang tuna-netra yang sedang meminta-minta. Melihat sang pengemis yang tampak kesulitan untuk berjalan, Malik merasa terpanggil untuk menolongnya. Dalam sekejab saja, putra Haji Rasul itu sudah terlihat menuntun dan menemani sang pengemis itu meminta-minta sedekah pada setiap orang yang ditemuinya.

Entah mengapa, Malik merasa bahagia sekali bisa membantu pengemis itu dan merasa bahwa dirinya sudah mengamalkan apa yang pernah dinasehatkan oleh orangtuanya, bahwa dirinya harus selalu siap membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Atas dasar itulah Malik ikhlas membantu sang pengemis itu, sehingga ketika orang yang ditolongnya itu hendak memberikan uang maka dia langsung menolaknya dengan halus.

Berhari-hari Malik membantu pengemis itu, dan baru berhenti ketika tanpa di sengaja kelakuannya itu diketahui oleh ibu kandungnya. Demi melihat sang putra yang sedasng berjalan dengan seorang pengemis, maka serta-merta tangan Malik ditarik dengan paksa oleh ibunya. Meski hati Malik sangat berat meninggalkan pengemis itu, tapi dia juga tidak bisa membantah perintah ibunya untuk segera pulang.

Di perjalanan pulang, berulang kali ibunya mengatakan jika apa yang sudah Malik lakukan itu sangat mempermalukan ayahnya. Tentu saja apa yang dikatakan ibunya itu membuat Malik terheran-heran.

“Bagaimana bisa dikatakan akan memberi malu ayah, padahal beliau sendiri yang memfatwakan ketika orang ramai-ramai mengaji di surau bahwa kita hendaknya membantu dan menolong fakir miskin, anak yatim, dan orang buta?” tanya Malik pada diri sendiri sebagaimana ditulis dalam, Kenang-Kenangan Hidup.

Di lain hari, keheranan Malik datang dari sikap orangtuanya yang dinilai sangat bertentangan dengan apa yang pernah dinasehatkannya, baik kepada dirinya sendiri atau pun kepada murid-muridnya.

Hal ini bermula ketika Malik melihat seorang ibu yang sedang menangis karena anak satu-satunya baru saja dipanggil menghadap Allah Azza wa Jalla. Melihat wanita yang sedang berduka cita itu, hati Malik turut merasakan kesedihan. Rasa iba itulah yang kemudian mendorongnya untuk mengumpulkan kawan-kawan sepermainannya. Setelah terkumpul, Malik memaklumatkan dirinya sebagai ketua dan mengajak kawan-kawannya itu untuk meringankan beban sang ibu yang baru saja ditinggal mati anak satu-satunya itu. Akhirnya mereka sepakat untuk datang ke rumah wanita yang sedang susah itu saban malam untuk mengaji.

Kedatangan Malik dan kawan-kawannya membuat wanita itu merasa senang dan terhibur. Sayangnya, baru berjalan selama tiga hari, apa yang dilakukan Malik dan kawan-kawannya itu diketahui oleh Haji Rasul. Tanpa basa-basi, Malik dilarang keras pergi mengaji ke rumah wanita itu.

Lagi-lagi, apa yang dilakukan Haji Rasul membuatnya merasa heran. Pasalnya, hampir setiap hari orangtuanya itu memberikan nasehat agar dirinya membantu orang lain lain yang sedang kesusahan.

Dan … apa yang dilakukannya itu adalah salah satu cara untuk membantu kesusahan orang lain. Agar wanita yang baru saja ditinggal mati anak tunggalnya itu tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi, mengapa orangtuanya justru melarangnya?

Malik boleh merasa heran dengan tindakan orangtuanya. Tapi, satu hal yang belum dipahaminya ketika itu, yaitu soal sikap Haji Rasul yang menetang keras acara-acara doa bersama di rumah orang yang sedang kesusahan karena salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Termasuk di antaranya melakukan selamatan dan ritual-ritual yang tidak dituntunkan Kanjeng Nabi, lebih-lebih meratapi orang yang sudah mati.

Namun, terlepas dari semua itu, tentu saja apa yang dilakukan Malik merupakan tindakan yang mulia karena niatnya ikhlas membantu meringankan kesusahan orang lain. Keikhlasan Malik inilah yang tidak dipahami oleh orangtuanya bahwa sebenarnya sang anak memiliki potensi besar untuk menjadi orang baik, karena meski secara lahir dirinya tampak nakal, tapi sebenarnya hatinya sangat lembut dan baik.

Di buku Kenang-Kenangan Hidup, Hamka juga menceritakan jika pada suatu hari dilihatnya seorang wanita yang tempak lelah dan payah sedang antre di tempat penjualan beras. Saat itu, membeli beras hendaknya dilakukan dengan surat ke tempat penjual beras yang sudah ditentukan oleh pemerintah kolonial—sebagai imbas yang harus diterima oleh masyarakat karena harga beras yang melangit.

Hati Malik merasa sangat iba melihat wanita yang lemah dan tak kuat berdesak-desakan itu. Sehingga tanpa berpikir panjang, didekatinya wanita tersebut dan dimintanya kambut dan surat, dan dia sendiri yang akan mengantre, menolong wanita itu membeli beras. Sementara wanita itu di suruh saja ke luar barisan dan beristirahat jauh dari kerumunan. Malik berjanji akan mendapatkan berat untuknya.

Sayang, sebelum nomer antreannya dipanggil, tindakan Malik itu diketahui oleh salah seorang murid Haji Rasul. Murid itu kemudian meminta Malik untuk keluar dari barisan, tapi dia tidak bersedia dan akan tetap antre sampai berhasil mendapatkan beras untuk wanita yang ditolongnya.

Karena Malik berkeras hati, maka murid ayahnya itu memilih untuk mengalah, untuk kemudian meninggalkan kerumunan dan pulang. Tapi, tanpa sepengetahuan anak gurunya, murid ini menemui Haji Rasul dan melaporkan apa yang telah dilakukan oleh Malik. Haji Rasul sangat murka mendengar laporan itu dan menganggap tindakan Malik sebagai perlakukan yang memberi malu atas kedudukan dirinya yang sebagai seorang ulama yang sangat dihormati.

Setelah berhasil menolong wanita itu, Malik pun lekas pulang ke rumah. Haji Rasul menyambutnya dengan amarah. Dikatakan jika tindakannya sangat memalukan dan mencoreng nama baiknya sebagai seorang ulama terpandang. Sontak saja apa yang dikatakan oleh orangtuanya itu membuat Malik semakin terheran-heran.

“Apanya yang membuat malu? Bukankah apa yang kulakukan ini sesuai dengan nasehatnya untuk selalu menolong orang-orang yang sengsara?” Malik tidak habis pikir dengan jalan pikiran orangtuanya yang dinilainya tidak sesuai dengan nasehat-nasehatnya.

Tindakan Haji Rasul itu tidak hanya membuat Malik merasa heran, tapi juga membuatnya berpikir jika orangtuanya sama sekali tak menghargai kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Dikeluarga dan masyarakat, Malik lebih banyak dipandang sebagai anak nakal dan bengal. Padahal, ada pontensi kebaikan juga pada dirinya.

Tapi, meski Malik sudah berusaha menjalankan nasehat-nasehat orangtuanya untuk membantu orang lain lain yang sedang sengsara dan kesusahan, namun apa yang dilakukannya itu sama sekali tak dianggap dan justru dipandang sebagai tindakan yang memalukan Haji Rasul. Hal itulah yang kemudian membuat Malik semakin merasa tidak betah tinggal di dalam rumah karena apa-apa yang dilakukannya tidak pernah dianggap baik oleh orang tuanya sendiri.

“Banyak sekali peraturan di rumah yang berlawanan dengan hatinya. Rumah sama sekali tidak bisa meneduhkan jiwanya. Tidak ada yang peduli dengan isi hati dan kebaikan-kebaikannya, orangtua pun tidak. Dia hendak berbuat baik menolong orang, tapi orangtuanya melarang. Rupanya ada beberapa fatwa yang diberikan ayahnya, tapi dia sendiri tidak boleh melakukannya,” tulis Hamka di dalam buku, Kenang-Kenangan Hidup.

Pada akhirnya, Hamka bocah lebih banyak ditempa di luar rumah. Dia lebih suka berpetualang dan mencari ilmu serta pengalaman dengan caranya sendiri. Potensi besar yang dimilinya sama sekali tak disadari oleh orangtuanya, yang terkesan kurang memperhatikan perkembangan Malik lantaran kesibukannya dalam berdakwah dan kewajiban menafkahi istri-istrinya.

Meski kurang kasih sayang dan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya selalu ditentang keluarga, tapi hal itu tidak membuat Malik meratapi nasibnya. Dia justru menjadikan semua itu sebagai jalan menapaki kemuliaan pribadi. Dicap sebagai anak nakal oleh keluarga dan orang sekampung tidak membuatnya jadi bosan membaca dan mencari tambahan wawasan baru. Orang boleh menganggapnya gagal di sekolah, tapi tidak di luar kelas. Justru, keseriusannya menimba ilmu di luar kelas dan dengan disertai tempaan pengalaman yang pahit dan getirlah yang membuat dirinya kelak dikenal sebagai orang besar di republik ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *