Smartphone: James Bond Tak Berwajah, Pengintai Privasi

Posted by

Oleh: Salma Yasmin Reyhanah

masa-kini.id-Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menuntut manusia untuk melakoni aktivitas berbasis digital yang menggeser bentuk aktivitas konvensionalnya. Gawai hampir 24 jam membersamai aktivitas manusia. Muncul guyonan dimana dalam sehari, seseorang bisa bertahan untuk tidak berkomunikasi dengan orang lain, namun tidak bisa bertahan untuk tidak mengoperasikan smartphone.

Segala sesuatu yang diciptakan tentunya memiliki 2 mata pisau, termasuk smartphone. Sayangnya, euforia penggunaan smartphone tidak dibarengi dengan peningkatan kemampuan literasi media digital. Literasi media digital ibarat tameng pamungkas yang dapat menangkal kita dari dampak buruk penggunaan media digital. Literasi juga bertindak sebagai filter yang membantu kita dalam memilah dan memilih konten.

Fitur yang disuguhkan dalam smartphone menawarkan kemudahan bagi penggunanya. Developer berlomba-lomba mengembangkan fitur canggih dengan embel-embel “mempermudah kehidupan manusia”. Sayangnya, kemudahan yang ditawarkan oleh fitur dan layanan aplikasi smartphone tidak menjamin keamanan privasi data penggunanya.

Perlu diketahui, aplikasi yang disediakan pihak developer terdiri dari 5 jenis, aplikasi berbayar (pro app/premium), aplikasi freemium, aplikasi in-app purchase, aplikasi hybrid dan aplikasi gratis berbasis iklan. Tidak ada sesuatu yang gratis di era kapitalis seperti saat ini. Untuk memakai toilet umum saja kita dikenai sejumlah tarif, bagaimana dengan layanan aplikasi gratis (free app)? Michelle De Mooy selaku Pejabat Direktur Proyek Demokrasi dan Teknologi Privasi & Data berpendapat bahwa ketika kita menggunakan layanan aplikasi gratis, kita diwajibkan membayarnya dengan informasi berupa data pengguna. Transaksi ini seringkali tidak disadari oleh si pengguna.

Developer aplikasi gratis berbasis iklan mendapat pemasukkan dari iklan yang di-klik atau iklan pop-up yang muncul ketika aplikasi diakses. Keberadaan iklan digital erat kaitannya dengan konsep digital marketing. Sebagai pengguna smartphone, kita merupakan sasaran empuk praktik digital marketing. Contohnya saja ketika kita melakukan pencarian mengenai topik yang berhubungan dengan suatu produk bisnis tertentu dengan mesin telusur, maka akan muncul saran iklan terkait produk sesuai topik yang sedang kita cari. Pengiklan dapat menargetkan produk atau jasa yang ia tawarkan kepada target pasar potensial berdasarkan berbagai informasi. Informasi yang dimaksud disini terkait dengan jenis kelamin, profesi, tempat tinggal, agama dan usia yang kita bagikan melalui media sosial. Tidak hanya lewat media sosial, pengiklan dapat menyisipkan iklannya ke dalam aplikasi yang akan diakses pengguna dalam sekali klik. Strategi ini dinamakan Pay per Click (PPC).

Di samping mendatangkan manfaat positif, evolusi smartphone juga tak luput dari dampak negatif. cyber-security seperti pencurian data pribadi kian merebak. Bak momok yang menghantui tumbuh kembang teknologi informasi dan komunikasi. Sebagai manusia modern, kita jangan mau diperbudak teknologi. Jangan sampai keberadaan smartphone yang seharusnya membawa manfaat malah mendatangkan mudharat. Kita lah yang harus bertindak sebagai pengontrol teknologi. Kita dapat menghindari tindak pencurian data dengan:

  1. Memasang aplikasi populer yang tidak sembarang mengakses mikrofon.
  2. Jangan menjadi pengunduh pertama aplikasi yang baru rilis, tunggu sekitar 1-2 minggu untuk melihat testimoni dari pengguna sebelumnya.
  3. Tinjau izin aplikasi yang sudah Anda berikan,

Pada android   : buka pengaturan > privasi dan keselamatan > izin aplikasi

Pada IOS        : buka pengaturan > privasi

  • Laporkan aktivitas aplikasi yang mencurigakan pada platform. Google dan Apple memiliki cara untuk menemukan aplikasi jahat yang berbahaya untuk kemudian menghapusnya.
  • Baca, pahami dan perhatikan benar-benar kebijakan privasi yang disertakan sebelum menginstall aplikasi pada smartphone Anda.

Acapkali pengguna bersikap lalai, mereka tidak benar-benar membaca kebijakan privasi yang terpampang pada layar smartphone sebelum menginstall sebuah aplikasi. Tentunya ini akan membahayakan, ditambah lagi adanya potensi aplikasi jahat yang langsung mengakses mikrofon tanpa seizin kita. Sebagai pihak yang riskan akan pencurian data, sudah sepatutnya kita mawas diri. Perbanyak pengetahuan mengenai literasi media digital. Kita juga dapat menyebarkan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki dengan masyarakat luas. Tidak ada yang mau menjadi korban pencurian data. Kita dapat menyuarakan betapa pentingnya privasi kepada orang lain, terutama orang-orang yang kita sayangi. Selama memiliki bekal literasi media digital yang cukup, kita tidak perlu takut. Kita hanya harus bersikap waspada dan bijak. Bijak dalam artian tidak sembarangan mengklik tautan, mengakses situs atau menginstall aplikasi terutama yang meminta izin mengaktifkan mikrofon, mengaktifkan fitur GPS dan menggunakan cookie.

Di samping tindakan pencegahan dari pihak pengguna, perusahaan juga harus mematuhi Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR). GDPR memberlakukan opt-in yang akan membatasi pengumpulan data pengguna yang berlebihan. Opt-in dalam e-mail marketing merupakan metode menambah daftar kontak melalui registrasi email.

Berdasarkan sederet penjelasan yang telah diuraikan di atas, dapat kita simpulkan bahwa smartphone bukannya memata-matai situs web e-commerce apa yang diakses oleh penggunanya, artikel berita online apa yang dibaca oleh penggunanya serta apa yang dicari penggunanya lewat mesin peramban. Smartphone tidak menguping percakapan penggunanya untuk mempersonalisasikan iklan tertentu, akan tetapi perusahaan lah yang tertarik mengulik itu semua. Oleh karena itu, pengguna smartphone hendaknya membekali diri dengan literasi media digital sebagai acuan untuk mengoperasikan smartphone sesuai porsinya dengan bijak dan senantiasa mawas diri terhadap ancaman penyadapan illegal yang mengintai privasi.

Salma Yasmin Reyhanah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY .

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *