Suapan Menghantarkan Iman

Posted by

Bagi yang pernah membaca kisah teladan kekasih mulia yang senantiasa kita harapkan syafaatnya ini dari berbagai sumber, lentera ini hanyalah penyegaran ingatan tentangnya. Namun, saat kebanyakan dari masyarakat kita sedang mendapatkan sorotan tajam tentang lunturnya akhlak dan budi pekerti yang luhur, lentera ini harus saya tuliskan.

Di sudut pasar Kota Madinah, terdapat seorang pengemis buta. Ia seorang Yahudi. Saban hari ia selalu berkata pada setiap orang yang mendekatinya, “Saudaraku, jangan sekali-kali engkau dekati Muhammad. Ia seorang pembohong. Ia tukang sihir. Ia itu gila. Apabila kalian mendekatinya, kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Rasulullah Saw mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah-kata pun, Nabi Saw. menyuapkan makanan yang di bawanya itu kepada pengemis buta tersebut dengan penuh kasih sayang. Pengemis buta tersebut tidak tahu kalau orang yang menyuapinya adalah Rasulullah Muhammad Saw; orang yang setiap hari ia caci maki dengan penuh amarah dan kebencian.

Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis itu. Suatu ketika, sahabat Rasulullah Saw, Abu Bakar berkunjung ke kediaman Aisyah ra, putrinya yang juga istri Rasulullah Saw. Beliau bertanya, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum Aku kerjakan?”

Aisyah ra menjawab, “Duhai Ayahku, engkau adalah ahli sunnah, dan hampir tidak ada suatu kebiasaan Rasulullah Saw. yang belum engkau lakukan, kecuali satu saja,” Mendengar jawaban putrinya, Abu Bakar bertanya, “Apakah itu wahai putriku?” Aisyah ra menjawab, “Setiap pagi, Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar Madinah, membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, lalu menyuapinya dengan penuh belaian kasih sayang.”

Keesokan harinya, sahabat Abu Bakar pergi ke ujung pasar Madinah dimaksud, dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis Yahudi buta itu. Ketika sahabat Abu Bakar menyuapinya, si pengemis marah, seraya menghardik dengan keras.

“Siapakah kamu?”

Sahabat Abu Bakar menjawab, “Aku adalah orang yang biasa mendatangimu setiap pagi.”

“Bukan! Engkau bukanlah orang yang biasa menyuapiku,” bantah si pengemis buta itu.

“Apabila dia datang kepadaku, tanganku ini tak perlu memegang. Mulutku tak perlu susah mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku selalu menyuapiku dengan tenang, lembut, dan penuh kasih sayang. Terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu, baru setelahnya makanan diberikan kepadaku,” pengemis buta itu melanjutkan perkataannya.

Mata sahabat Abu Bakar tampak berkaca-kaca. Air mata secara perlahan beruraian menetes membasahi gamisnya. Ia menangis terseduh-sedan. Sesekali sesenggukan. Sambil terisak dalam tangisnya, ia berkata kepada pengemis buta itu.

“Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu, menyuapimu saban pagi hari.  Aku adalah salah seorang dari sahabat terdekatnya. Manusia mulia itu telah tiada. Dia sudah bercengkrama mesra dengan kekasih sejatinya di Surga. Dia adalah Muhammad Rasulullah Saw.”

Mendengar perkataan sahabat Abu Bakar tersebut, seketika itu juga hati pengemis buta terpanah. Ia menangis dalam pangkuan sahabat Abu Bakar. Dengan terbata-bata, ia berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku menghinanya. Mencacinya. Menghardiknya. Menfitnahnya. Mengolok-olok bahkan mencemoohnya. Dia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Dia selalu mendatangiku dengan membawa makanan yang dihaluskan di setiap pagianya. Parasnya begitu mulia.”

Pengemis Yahudi buta itu tersungkur. Ia akhirnya bersyahadat di hadapan sahabat Abu Bakar saat itu juga. Sejak hari itu pula, ia menjadi seorang Muslim.

***

Pesan tersirat dalam kisah diatas sedemikian jelas. Bisakah kita senantiasa meneladani sifat dan akhlak mulia Rasulullah Muhammad Saw. dalam kehidupan sehari-hari? Atau setidaknya, ada niatan yang terbersit dalam benak kita untuk meneladaninya?

Beliau adalah ahsanul khuluq, semulia-mulianya akhlak. Kalau pun tidak bisa meneladaninya beliau seratus persesn, alangkah baiknya jika kita berusaha meneladaninya sedikit demi sedikit. Di mulai dari diri kita sendiri. Kita mulai dari apa yang sanggup kita lakukan. Semoga Allah Swt. senantiasa memberkati dan meridhai perjuangan kita semua. []

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *