Telinga-telinga Sayu, Mata-mata Sunyi

Posted by

Oleh: Kristina

Bulan terakhir di akhir tahun terdengar jelas kala itu

Denyut nadi kecemasan, detak jantung kepanikan

Tergambar sekilas ketakutan yang teramat nyata

Balada besar tengah melanda kota diujung tirai itu

Sering terdengar pula tepat di sanalah pusat kesakitan

Sejenak memori ini turut tergugah

H5N1 tahun 97, SARS tahun 2003, H1N1 tahun 2009

Terasa menyayat di tengah kegemparan dunia kesehatan

Satu dua ah bukan begitu hitungannya

Ratusan bahkan ribuan nyawa melayang

Tidakkah cukup berakhir sampai dititik ini saja?

Ketenangan bukanlah milik kehidupan dunia

Peringatan dapat datang kapan saja

Bukankah itu hal yang menyenangkan?

Ah tidak, tidak terdengar asyik di telinga sayu kelompok itu

Batas tipis perilaku makhluk berakal di bumi

Mengundang warna-warni problema masyarakat

SARS-Cov-2

Akhir tahun yang menjadikan awal keruntuhan

Perekonomian, kehidupan sosial, hingga aturan yang ditetapkan

Segalanya tengah terguncang, bukan?

Mata terbelalak ke sudut timur tenggara

Ah nampaknya tidak hanya Asia

Bukan hanya wabah, melainkan pandemi

Ya, berbagai wilayah dunia turut merasakannya

Ada yang tengah berjuang disaat yang lain tertidur tenang

Ada yang menjadi saksi datangnya barisan para pemutus mimpi

Yang berkuasa belum tentu bisa bertahan

Yang memerintah tidak terjamin atas keselamatan

Sekali lagi,

Ketenangan bukanlah milik kehidupan dunia, Sayang

Telinga-telinga sayu mendengar kabar duka dan iba

Mata-mata sunyi menyaksikan jeritan tak bersuara

Ada satu yang tersisa saat semua sirna

Doa…

Ya, penyambung batas dari ketidakmungkinan

Hanya harap dan tanggap untuk pertiwi di tengah pandemi

Lekaslah membaik, wahai dunia

Sebelum mimpi-mimpi besar terwujud dalam linangan air mata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *