Tiga Tanda Orang Hebat Menurut Imam Syafi’i

Apa yang terpikir dalam benak kita ketika mendengar istilah orang hebat? Jika kita suka menonton film bergenre action, orang hebat akan ditampilkan sebagai pahlawan penumpas kejahatan dengan kekuatan yang dimiliki.

Sama halnya dengan bidang lain yang kita geluti misalnya olahraga, maka orang hebat adalah yang memiliki karier cemerlang, mampu membawa timnya meraih kejuaraan bahkan memperoleh penghargaan pribadi. Kalau di dunia sepakbola seperti sepatu emas untuk pemain terbaik.

Dalam dunia ilmu pengetahuan sosok orang hebat adalah yang melakukan riset dan mampu menghasilkan karya ilmiah yang dampaknya bisa dirasakan banyak orang. Karyanya ‘abadi’ karena menjadi rujukan dari generasi ke generasi. Lalu kalau kita bukan seorang pahlawan, olahragawan, maupun ilmuwan apakah kita bisa jadi orang hebat? Seperti apa sih orang hebat menurut Islam itu?

Imam Syafi’i dalam kitab Manaqib Imam Syafii karya Al- Baihaqi berkata bahwa orang hebat itu:
Menyembunyikan kemelaratan sampai orang mengiranya sudah kecukupan karena tidak meminta-minta.

Islam mengajarkan bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Islam juga mengajarkan bahwa Muslim yang kuat lebih baik dari Muslim yang lemah. Kuat dapat diartikan secara jasmani, rohani, hingga finansial. Namun ada kalanya antara ajaran dan realita terdapat jarak. Maksud hati ingin punya materi seperti uang atau harta untuk memenuhi kebutuhan dan bersedekah akan tetapi kondisi belum memungkinkan.

Dalam kondisi yang bisa dibilang kaya juga tidak tapi miskin juga bukan, maka menampilkan diri tampak mandiri dan berusaha tidak meminta-minta masuk ke dalam kriteria orang hebat menurut Imam Syafi’i.

Tanda orang hebat yang kedua adalah menyembunyikan kemarahannya, menahan diri walau dicaci maki sampai orang mengiranya rida. Ada orang beranggapan jika sedang dalam kondisi marah, lebih baik melampiaskannya. Apakah ini benar? Penelitian medis menjawabnya bahwa orang yang sering marah-marah berpotensi besar untuk terkena serangan jantung dan darah tinggi.

Islam mengajarkan kita untuk berwudhu agar ketika marah tidak melampaui batas. Menahan amarah sampai orang lain puas mencaci maki, ‘nggrenengi’ namun tidak berkeinginan membalas perbuatan orang tersebut di lain waktu adalah ciri-ciri orang hebat.

Tanda terakhir orang hebat menurut Imam Syafi’i adalah menyembunyikan kesusahan sampai orang mengiranya bahagia dan selalu senang. Menampakkan wajah bahagia dengan senyum tersungging di bibir akan menularkan kebahagiaan pada orang sekitarnya. Dimanapun kita, bersama siapapun, mengusahakan merasa bahagia akan memberi arti positif terhadap kehadiran diri kita.

Bahagia adalah pilihan walau terkadang kondisi yang dialami tidak sepenuhnya membahagiakan. Misalnya saat sedang berada di tempat kerja yang berhubungan dengan orang lain, di saat yang sama kondisi di rumah sedang tidak sesuai keinginan karena anggota keluarga terkena penyakit, atau mendapat musibah lainnya, namun kita tutupi dan seolah tak mempengaruhi kebahagiaan kita bersama orang lain, maka itulah orang hebat. Nah, dengan penjelasan di atas, kesimpulannya adalah kita semua bisa menjadi orang hebat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *