Titik Balik Menjadi Apa Adanya

Posted by

masa-kini.id – Sejak kecil saya bercita-cita menjadi orang yang berguna. Akan menjadi apa atau berprofesi sebagai apa kelak saya tidak pernah merencanakannya. Seperti anak-anak lainnya, usai sekolah saya bermain di tanah lapang. Saya tidak cukup cakap dan terampil seperti mereka, baik dalam bermain kasti, kelereng, layang-layang, bulu tangkis, maupun sepak bola.

Kegiatan yang sangat mengesankan pada pengajian anak-anak ialah perlombaan membawa kelereng dalam sendok dengan digigit, makan kerupuk, dan memasukkan benang dalam jarum. Ada kepuasan tersendiri ketika saya dapat memenangkannya. Permainan serupa bahkan masih saya ikuti ketika sudah duduk di sekolah menengah.

Dari kesukaan mengikuti perlombaan dalam permainan, saya jadi tertarik untuk menguji kemampuan dengan mengikuti perlombaan membaca cerpen, puisi, dan mengarang atau menulis, sejak tingkat sekolah hingga tingkat nasional. Permainan dan perlombaan itu mengasah ketrampilan dan meningkatkan motivasi untuk berprestasi.

Usai menempuh pendidikan setingkat SMA saya berkesempatan untuk praktik mengajar di sekolah sekaligus berkuliah. Ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri berada di tengah-tengah murid dan dapat berbagi. Hal itu memotivasi untuk lebih bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas mengajar di kelas dan mengikuti kuliah. Saya berusaha mempraktikkan teknik guru mengajar dalam segala jenjang pendidikan yang menyenangkan. 

Saya pun sempat bertanya-tanya kepada diri sendiri apa sesungguhnya bakat saya. Seni, tidak; olah raga, juga tidak. Definisi bakat menurut psikologi, sebagai potensi dan kemampuan yang dibawa sejak lahir, saya pegangi. Satu per satu cabang-cabang olah raga dan seni yang pernah saya jalani saya evaluasi. Saya merasa tidak berbakat menjadi olahragawan ataupun seniman. Sampai pada titik tertentu, saya bertanya pada diri sendiri: untuk apa aku ada?

Suatu hari saya menemukan secarik koran yang salah satu sudutnya memuat tulisan: Bakat ialah kesabaran dan ketekunan yang lama. Saya pun memutuskan untuk membakati tulis menulis. Di samping menekuni tugas mengajar di sekolah dan belajar di perguruan tinggi, saya belajar menulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Inspirasi untuk menjadi penulis antara lain dari kata-kata bijak Ali bin Abi thalib, “Tulisan akan tetap hidup walaupun penulisnya sudah mati.”   

Sebagaimana melukis, menulis adalah sebuah ketrampilan. Ketrampilan apa pun bila dilatih akan semakin cakap. Bukankah pisau yang tumpul bila diasah menjadi tajam? Sebagai guru muda saya menulis buku Tuntunan Pelajar Cara Belajar (Gontor: Darussalam, 1982), Pelajaran Menulis Kaligrafi  (Gontor: Darussalam, 1982), English Course for Class One (Gontor: Darussalam, 1983), Tamrinul Qira’ah al-‘Arabiyyah (Gontor: Darussalam, 1983).

 Sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saya melakukan penelitian Jihad dalam Al-Quran Tinjaun Normatif, Historis, dan Prospektif (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997), Konsep dan Hikmah Akidah Islam (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997), menulis buku Al-Quran dan Ulumul Quran (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), Pemikiran Tauhid Ibnu Taimiyyah dalam Tafsir Surah Al-Ikhlash (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), Perbandingan Penafsiran Rasyid Ridha dan Sayyid Quthb tentang Jihad dalam Al-Quran (Jakarta: Kementerian Agama RI, 2005), Kontroversi Jihad di Indonesia: Modernis versus Fundamentalis (Yogyakarta: Pilar Media, 2007). Setiap tahun rata-rata saya menerbitkan dua buah buku. Hingga kini telah terbit kira-kira 60 judul.

Di antara buku-buku yang berliku penyusunannya ialah Kamus Pintar Al-Quran (Jakarta: Gramedia, cetak ulang 2020) dan Kearifan Semesta (Jakarta: Gramedia, 2015). Buku pertama disusun untuk memudahkan orang mengetahui keseluruhan pesan Tuhan dalam Al-Quran. Pesan-pesan Al-Quran ayat demi ayat disusun menggunakan edisi terjemahnya dalam bahasa Indonesia secara alfabetik dari A sampai dengan Z. Masing-masing ayat ditampilkan satu kali saja. Jadilah Glosari Al-Quran (Yogyakarta: Lazuardi, 2003) dan diterbitkan kembali oleh Gramedia, Kamus Pintar Al-Quran: 1000 Kata Kunci Tema dan Pesan Al-Quran (2011).

Buku kedua berasal dari kumpulan kata-kata mutiara dari majalah Intisari dan berbagai buku/sumber. Mula-mula diterbitkan berseri oleh Kanisius berupa delapan buku saku kecil, Kebajikan, Keinsafan, Kewaspadaan, Keberanian, Kekuatan, Kesabaran, Keteladanan, Kebahagiaan, (2004-2007). Dengan izin Penerbit kedelapan buku saku mini tersebut saya satukan menjadi Kearifan Semesta: Inspirasi untuk Kesuksesan dan Kebahagiaan (Gramedia, 2015). 

Hasrat hati untuk berguna bagi sesama, saya bergabung dalam berbagai organisasi, baik organisasi pelajar, mahasiswa, maupun organisasi sosial kemasyarakatan. Kini saya masih aktif sebagai Ketua Yayasan Al-Hikmah Sumberjo Karangmojo Gunungkidul yang mengelola pesantren dengan pendidikan formal, Ketua Umum Majelis Ulama (MUI) Kota Yogyakarta, dan Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Yogyakarta, serta Sekretaris Senat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Untuk menjadi sarjana, mahasiswa niscaya menulis karya ilmiah. Tidak masalah apakah bidang keilmuan dan/atau kesarjanaan kita linear atau tidak linear. Menempuh studi S1 pada Jurusan Perbandingan Agama saya menulis skripsi, “Kenabian Isa dan Kerasulan Muhammad Menurut Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al-Jawab ash-Shahih liman baddala Din Al-Masih” (1989). Studi S2 pada Program Studi Akidah dan Filsafat Islam saya menulis tesis “Pemikiran Tauhid Ibnu Taimiyyah dalam Tafsir Surah Al-Ikhlash” (1993). Studi S3 Konsentrasi Kajian Al-Quran saya menulis disertasi, “Perbandingan Penafsiran Rasyid Ridha dan Sayyid Quthb tentang Jihad dalam Al-Quran” (2003). Berkat banyak menulis saya meraih jabatan Guru Besar pada tahun 2006.

Dahulu saya belajar dengan membaca, kini belajar dengan menulis. Dengan membaca saya belum tentu menulis; dengan menulis saya harus membaca. Menulis untuk berbagi dalam rangka aktualisasi diri dan mengajari diri sendiri.

Mengapa Mesti Menulis Buku

Buku adalah guru dan sumber ilmu.

Buku kakiku untuk melangkah maju.

Buku adalah kepanjangan tangan guru.

Buku adalah guru serba tahu segala ilmu.

Buku adalah teman terbaik sepanjang waktu.

Buku adalah surat lebih tebal kepada kawanmu. 

Buku mengenalkan kita dengan orang terdahulu.

Menulis buku bagai Beethoven menggubah lagu.

Menulis buku bagai Michelangelo memahat batu.

Menulis buku bagai Tuhan berfirman sejak dahulu.

Menulis buku bagai Afandi melukis wajah sang Ibu.

Menulis buku bagai malaikat menyampaikan wahyu.

Menulis buku bagai chef meracik bumbu sesuai menu.

Menulis buku bagai desainer merancang dan membuat baju.

Menulis buku bagai pembatik menorehkan canting sepenuh kalbu.

Salah satu semboyan yang saya pesankan kepada kawan-kawan, “Setiap hari menulis walau sebaris.” Saya berusaha mengamalkan pesan itu dengan menulis meme setiap hari. Salah satu pernyataan saya beberapa waktu lalu yang dimemekan oleh Majelis Pelayan Jakarta (MPJ) adalah tentang Ahok.

“Jika 100 juta Muslim Indonesia berpendapat Ahok tidak menista Al-Quran, saya tetap pada pendirian saya bahwa Ahok telah menista Al-Quran.” (15 November 2016). Meme itu sebagai respons terhadap “Resonansi” Buya Ahmad Syafii Maarif tentang Kasus Al-Maidah 51 di Harian Republika.

Meme saya terdahulu terhimpun dalam Mosaik Meme Muhammad Chirzin (Yogyakarta: Masa Kini, 2020). Insyaallah saya akan terus menulis meme setiap hari untuk pada saatnya dibukukan lagi.[]

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *