Toleransi HAMKA

Posted by

Selain bersahabat baik dengan KH. Idham Chalid, Hamka juga berkawan baik dengan KH. Abdullah Syafi’i, yang juga tokoh NU di masanya. Dua tokoh agama beda organisasi itu diketahui masyarakat umum berkawan akrab dan rutin saling mengunjungi. Hamka amat sangat menaruh hormat kepada teman NU-nya yang berjuluk “Macan Betawi” itu, demikian juga sebaliknya.

Yang bisa diteladani dari persahabatan mereka adalah soal toleransi. Sikap toleran keduanya diceritakan Rusydi dalam bukunya, Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka. Pernah pada satu hari Jumat, KH. Abdullah Syafi’i datang berkunjung ke rumah Hamka, lalu dilanjutkan ikut shalat Jumat di Masjid Agung Al-Azhar. Harusnya yang menjadi khatib adalah Hamka. Karena Hamka ingin menghormati tamu sekaligus teman karibnya itu, maka KH. Abdullah Syafi’i diminta naik ke atas mimbar.

Saat KH. Abdullah Syafi’i naik ke mimbar dan mengucap salam, muazin langsung mengumandangkan azan. Padahal, biasanya azan Jumat di Masjid Agung Al-Azhar hanya satu kali—sebagaimana lazimnya masjid Muhammadiyah. Tapi, azan shalat Jumat hari itu dikumandangkan dua kali. Hamka yang memintanya. Itu dia lakukan, lagi-lagi, untuk memuliakan tamunya sekaligus menghormati pendapat karibnya.


Tidak hanya mimbar Jumat yang Hamka serahkan kepada Kiai Abdullah Syafi’i. Dia juga perintahkan agar azan dikumandangkan dua kali. Hamka melakukan itu juga untuk memberikan contoh bahwa seorang ulama itu perlu menghormati dan menghargai ulama lainnya. Hanya dengan cara itulah persatuan umat akan terbangun di atas cinta dan kasih sayang. Hamka lebih mengutamakan mencari persamaan daripada menyelisik perbedaan. Dia mengedepankan persatuan umat Islam dan selalu berusaha mengantisipasi perpecahan. Baginya, perbedaan adalah rahmat, yang karena berbeda itulah hidup menjadi berwarna. Menurutnya, ukhuwah islamiyah akan bisa dibangun dengan menumbuhkan toleransi.

Itulah sikap hidup dua ulama besar yang pernah dimiliki negeri ini. Keduanya sama-sama saling menghormati dan menghargai. Kebersamaan yang mereka bangun adalah contoh bagi generasi sesudahnya, bahwa mengutamakan persamaan dan menumbuhkembangkan sikap saling menghormati dan menghargai itu jauh lebih penting daripada sama-sama keras dalam menggali jurang perbedaan. Siapa yang tidak kenal Hamka dengan perguruan Al-Azhar dan tafsirnya yang fenomenal, Tafsir Al-Azhar? Siapa juga tidak kenal KH. Abdullah Syafi’i, pendiri dan pemimpin Perguruan Asy-Syafiiyah?

Mereka berdua memberikan teladan terbaiknya kepada kita, tentang pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati. Sikap mereka yang sahaja dan sangat bijak memaknai perbedaan adalah bukti bahwa sejatinya kemajuan umat Islam dibangun atas dasar rasa saling mencintai antar-sesama umat Islam, meski berbeda pandangan. Bersama-sama akan menumbuhkan semangat untuk maju, sementara perbedaan akan membuat kita sibuk bercerai-berai, hingga lama-lama membuat umat Islam menjadi lemah. Maka, kisah persahabatan Buya Hamka dan KH. Abdullah Syafi’i, serta cara mereka memaknai arti toleransi, adalah teladan kebaikan yang harus kita hidupkan lagi di zaman sekarang ini.


Toleransi Hamka juga bisa dilihat ketika dia hendak mengimami shalat tarawih. Sebelum memimpin shalat, dia selalu bertanya kepada jamaah, hendak mengerjakan shalat tarawih 23 rakaat atau 11 rakaat? Jika jamaah meminta 23 rakaat, Hamka memenuhinya. Ketika di lain waktu jamaah meminta 11 rakaat, pengarang Revolusi Pikiran itu pun tidak menolaknya. Apa yang dilakukan Hamka ini membuktikan jika senyatanya dia adalah seorang ulama sejati, yang dengan keluasan ilmu dan wawasannya bisa berlaku bijak dan arif dalam menyikapi perbedaan. Baginya, perbedaan adalah awal perpecahan, sementara saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain adalah kunci untuk membangun ukhuwah. Hamka tidak pernah meributkan urusan khilafiyah, karena hal itu terlahir alami sesuai dengan dalil dan nash yang diyakini masing-masing orang.

Jadi, jika umat Islam ingin rukun dan tidak cakar-cakaran, Hamka adalah orang yang paling tepat dijadikan rujukan tentang bagaimana menyikapi perbedaan dengan luwes. Hamka juga sangat toleran pada kelompok-kelompok tarekat. Sikap ini terbentuk karena Hamka lahir di Sumatera Barat, di mana daerah itu merupakan rumah Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia.

Salah satu wujud toleransi Hamka terhadap Tarekat Naqsabandiyah ditulisnya buku Tasawuf Modern, yang isinya mengupas seluk-beluk ajaran tasawuf. Dengan adanya buku tersebut, masyarakat jadi tahu jika senyatanya Hamka tidak menolak ajaran tasawuf—sebagaimana dilakukan oleh banyak modernis Islam yang sama-sama bernaung dengan Hamka di organisasi yang sama, Persyarikatan Muhammadiyah. Melalui Tasawuf Modern, Hamka ingin meluruskan makna tasawuf yang benar, yaitu melakukan pendekatan-pendekatan kepada Sang Pencipta dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Adapun pokok bahasan utama yang diangkat Hamka adalah terkait persoalan hidup dan kebahagiaan, karena semua orang membutuhkannya.

Dengan pandangan-pandangan Hamka dalam Tasawuf Modern, dia pun dianggap sebagai sosok yang toleran dan moderat. Hamka memiliki sikap toleran karena dalam syariat Islam sendiri ditegaskan agar mengedepankan toleransi untuk membina kerukunan dan persatuan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *