Tradisionalisme: Islam Persneling Satu

masa-kini.id – Dalam khazanah Islam, istilah ‘tradisionalisme’ memiliki tiga kemungkinan arti. Pertama, tradisi difahami sebagai ‘tradisi kenabian’ (sunnah Nabi/hadis), sehingga tradisionalisme Islam merujuk pada model keberagamaan yang dianut oleh para ahli hadis. Dalam sejarah pemikiran Islam, istilah “ahlul-hadis” tidak merujuk kepada ulama ahli ilmu hadis atau para penulis kitab-kitab hadis, melainkan kepada faham keagamaan yang ditokohi oleh Ahmad bin Hanbal, yang menganggap satu-satunya sumber pengetahuan agama yang valid (selain Al-Qur’an) hanyalah “sunnah/hadis” Nabi–dan menolak pendekatan rasional (interpretasi/tafsir), maupun analogi deduktif (qiyas). Kelompok ini kemudian mengembangkan pendekatan harfiah/literer dalam pemahaman keagamaan (sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an/Hadis), yang dalam bentuk modernnya dikenal dengan sebutan “Salafi”.

Kedua, istilah tradisionalisme juga dipakai oleh para pengikut pendekatan ‘filsafat perennial’, yang mengartikan tradisi sebagai jalan spiritual yang otentik–ditokohi antara lain oleh A.W. Yahya, M.I. Nuruddin, dan S.H. Nasr. Istilah ini sebenarnya merupakan sinonim dari istilah “agama” (religion), dan digunakan untuk menghindari konotasi ‘ideologis’,‘politis’, ‘bisnis’, atau ‘birokratis’ yang sering menyertai istilah “agama”. Sehingga istilah tradisi diharapkan dapat sepenuhnya menghadirkan makna jalan spiritual yang bersifat personal sekaligus terlembaga dalam dimensi substantif-nya yang lepas dari aspek-aspek “kepentingan” duniawi. Pengikut filsafat perennial menganggap tradisi adalah sebuah jalan spiritual yang bersifat universal, lebih fundamental namun tetap kompatibel dengan tradisi agama-agama manusia. Islam Tradisional, dalam pengertian ini, berarti Islam yang berkerangka spiritual-mistis-filosofis yang otentik sekaligus universal.

Baca juga : Negara dan Fragmentasi Umat , Ikhtilaf sebagai Rahmat

Ketiga, dalam konteks yang lebih khusus Indonesia, istilah ini merujuk tradisi dan faham keagamaan dalam Islam yang dicirikan oleh adanya relasi hierarkis-dikotomis-komplementer antara ulama dan umat– atau yang lebih populer, terutama di kalangan masyarakat Jawa, dengan istilah “kiai” dan “santri”. Secara antropologis, kelompok ini berpusat pada tradisi lembaga keilmuan Islam yang dikenal dengan pondok pesantren, atau istilah yang sejenis, yang memadukan antara sistem nilai yang berasal dari ajaran Islam dengan tradisi budaya yang sudah mapan di masyarakat lokal. Dalam aspek pemahaman keagamaan kelompok ini banyak mengikuti tradisi skolastik Islam, dalam akidah, ibadah, dan tasawuf. Sedangkan secara kosmologis, kelompok ini mengembangkan ajaran tentang adanya kekuatan spiritual-supranatural (karomah) yang menghasilkan kejadian-kejadian luar biasa yang mem-bypass hukum alam (dan hukum negara), yang banyak dimiliki oleh para ulama.

Para penganut aliran ini menganggap diri mereka sebagai pelanjut keberagamaan para perintis Islam di masa lalu, di Jawa dikenal dengan wali songo, namun artikulasi dan struktur kelembagaan kelompok ini merupakan satu bentuk respons dakwah Islam terhadap kehadiran negara modern dengan segala manfaat dan problema yang dibawanya. Paham keagamaan tradisionalisme dalam Islam ini lahir sebagai respons terhadap keberadaan masyarakat yang teralienasi oleh kehadiran negara modern yang dicirikan oleh birokrasi sentralistik dan ekonomi berbasis pasar.

Birokrasi yang sentralistik di satu sisi menjadi sarana untuk mengelola unit yang sangat besar dan kompleks seperti negara secara sistematis dan rasional. Namun disisi lain menuntut kesanggupan mengadopsi cara berpikir rasional berbasis kaidah-kaidah ilmiah-sekuler untuk menerima realitas dunia dan kehidupan semata sebagai realitas yang terjangkau oleh pengalaman dan dapat diukur dengan pikiran. Sementara ekonomi pasar di satu sisi mampu mendorong proses produksi yang berkinerja sangat tinggi dan dengan tingkat keuntungan yang relatif sangat besar. Di sisi lain sistem ekonomi ini mensyaratkan adanya pandangan dunia dan sikap mental berbasis  identitas individu dan hasrat untuk mendapatkan keuntungan yang nyaris tanpa batas.

Karena secara historis dibawa oleh pendatang kolonial, negara modern hadir di Nusantara sebagai mesin langsung bekerja dengan kecepatan penuh, tanpa ancang-ancang maupun proses adaptasi terhadap konteks lokal–apalagi kesiapan masyarakat lokal untuk menerimanya. Maka terjadilah apa yang oleh ekonom kolonial Belanda J.H.  Boeke dinamakan ‘masyarakat ganda’ (dual society): Di satu sisi ada segmen masyarakat yang berjalan dengan mekanisme birokrasi yang sentralistik dan rasional, serta mekanisme ekonomi pasar yang produktif dan kompetitif; sementara di sisi lain ada segmen masyarakat tradisional yang masih berada dalam sistem sosial yang berbasis relasi personal dan afiliasi primordial-kultural, serta ekonomi non-kompetitif yang bersifat subsisten untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Meskipun Boeke cenderung menggambarkan kedua sistem ini sebagai dua realitas yang berdampingan secara independen, namun sebenarnya di sana terjadi penindasan dan eksploitasi: Pertama, level sosiologis, di mana negara modern hadir merepresentasikan realitas penguasa yang punya kehendak, sementara masyarakat tradisional hanya bisa menerima realitas tiba-tiba menjadi bangsa yang dikuasai, dijajah, bahkan diperbudak. Kedua, secara ekonomi, masyarakat tradisional yang tidak memiliki bekal keterampilan dan sikap mental kompetitif terpaksa harus menjadi pelengkap penderita dari proses ekonomi modern: menjadi buruh yang mengorbankan keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan, dengan pendapatan yang bahkan tidak cukup memenuhi kebutuhan dasar. Ketiga, secara kultural, ada jebakan budaya konsumsi ketika anggota masyarakat tradisional yang mencoba mengadopsi komponen negara modern namun justru menimbulkan penyakit yang merusak: Seperti petani yang ingin melakukan kegiatan non-produktif seperti acara kultural/religius (slametan, dll.) dengan cara meminjam uang dari rentenir.

Baca juga : Ukhuwah, Bukan Persatuan

Menurut Boeke, keterpilihan dan keterbelahan negara modern dan masyarakat tradisional ini bersifat permanen dan tidak dapat dijembatani. Tidak banyak, kalaupun ada, yang dapat dilakukan untuk memfasilitasi masyarakat tradisional agar dapat bertransformasi mengikuti irama negara modern. Sebab, perbedaan keduanya bukan hanya pada level administrasi atau kelembagaan, yang dapat dengan mudah di rekayasa dan direformasi; melainkan diskrepansi pandangan dunia yang mempengaruhi perilaku bawah sadar baik pada level individu maupun kolektif, yang untuk mengubahnya membutuhkan waktu lintas generasi. Yang paling masuk akal dan memungkinkan untuk dilakukan adalah–menurut Boeke–hanyalah mengurangi penderitaan. (The patient is incurably sick. All one can do is reduce the pain…)

Seolah bisa membaca pikiran Boeke (atau, jangan-jangan Boeke diam-diam pernah menyamar dan masuk pesantren sebelum merumuskan teori ini, seperti Snouck Hurgronje menyamar menjadi muslim dan bermukim di Makkah) para ulama Nusantara merumuskan gerakan dakwah Islam yang secara efektif mampu merespons nestapa tersebut.

Pertama, mengurangi kadar rasa penderitaan (tanpa perlu, untuk smentara, menyembuhkan penyakitnya) akibat kondisi ketertindasan ekonomi, dengan cara mengajarkan pemahaman tentang Islam yang berorientasi kepada nilai-nilai spiritual, yang intinya bahwa hakikat sejati kehidupan bukan terletak pada kondisi badan melainkan pada kebahagiaan dan kemuliaan batin. Kesenangan dan kesusahan badani atau duniawi hanyalah ilusi belaka yang tidak perlu dipikir terlalu panjang. Dengan sikap batin yang benar, penderitaan hidup bahkan bisa menjadi riyadhah (latihan batin) yang bermanfaat dan bisa dinikmati. Menjadi miskin tidak perlu susah, yang penting rajin berzikir.

Kedua, meneguhkan identitas kultural dengan mencangkokkan konsep-konsep Islami ke dalam tradisi dan ritual yang biasa dilakukan masyarakat: mengganti bahan-bahan persembahan yang biasa dibuang menjadi makanan yang bisa dikonsumsi bersama dan dibungkus dalam konsep shadaqoh dan kedermawanan. Mentransformasikan tradisi pemujaan kepada leluhur menjadi amalan yang terbungkus dalam konsep berbakti kepada orang tua (birrul-walidain)– terutama yang sudah mati. Dan lain-lain, dan lain-lain.

Ketiga, mendesain sebuah mekanisme kompensasi spiritual yang menjadikan kekurangan menjadi kelebihan: melalui ajaran tentang “Karomah” yang dimiliki oleh para ulama, sebagai tanda bukti keistimewaan mereka di mata Allah. Dengan cara ini, segala superioritas negara modern mulai dari efektivitas birokrasi rasional maupun produktivitas ekonomi pasar, yang sebelumnya dianggap sebagai kemajuan dan keunggulan, turun derajatnya menjadi sekadar fasilitas kehidupan untuk orang awam yang bersifat banal dan dangkal.

Baca juga : Kabar Ukhuwah di Tengah Wabah

Bepergian tidak kehujanan karena naik mobil atau pergi Haji/Umrah naik pesawat, bukan sesuatu yang istimewa. Semua orang (maksudnya: orang awam) bisa melakukan asal punya uang. Tidak perlu terlalu dikagumi. Tapi, kalau ada Kiai yang bisa berjalan di tengah hujan lebat tanpa setetes pun air yang membasahi, atau waliyullah yang bisa pergi dari nusantara ke Makkah dengan sekejap hanya dengan kekuatan karomah, itu baru istimewa. Artinya, kemajuan ilmu dan teknologi bukanlah sesuatu yang istimewa. Ketertinggalan dalam hal-hal tersebut tidak perlu diratapi.

Alhasil, jika gerakan dakwah adalah kendaraan untuk mengangkut umat menuju Islam, tradisionalisme adalah langkah persneling satu yang dapat mengangkut dalam volume yang tinggi, meskipun dengan kecepatan yang rendah, masyarakat nusantara yang terlindas nestapa karena kehadiran negara: dahulu maupun sekarang. Kita patut berterima kasih kepada para ulama yang mendesain gerakan dakwah yang mampu merengkuh sangat banyak orang; namun fakta bahwa pengikut dakwah tradisionalis masih sedemikian banyak menunjukkan masih berat tugas yang harus diselesaikan.

Jeruklegi-Yogyakarta, 2 Syawal 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *