Ukhuwah, Bukan Persatuan

Persaudaraan adalah soal identitas. Permusuhan adalah soal kepentingan. Keduanya tidak saling membatalkan.

Ukhuwah adalah istilah yang sangat penting bagi umat Islam. Secara teologis, istilah ini mengacu kepada ajaran Al-Qur’an  (49:10) bahwa umat Islam sebagai sesama saudara harus saling menjaga dan melindungi. Secara Filosofis, mengikuti Ismail Al-Faruqi dalam “On the Raison D’etre of the Ummah” (1963), umat Islam dibentuk oleh pandangan dunia Tauhid, yang menjadi acuan sistem nilai maupun identitas kolektif yang membedakannya dari umat agama lain. Sedangkan secara sosiologis, umat Islam disatukan oleh institusi sosial-religius sejenis zakat, infaq, shadaqah, yang mengikat mereka sebagai satu kesatuan dalam setiap dinamika dan perubahan sosial.

Namun realitas dunia Islam seolah justru menjadi negasi dari segala normativitas  konsep Ukhuwah. Pada tataran global, rivalitas geopolitik Saudi-Iran, yang tidak hanya merepresentasikan proxy persaingan politik-militer global antara poros Rusia vs Amerika, melainkan juga menjadi penampakan rivalitas abadi internal Islam, antara Sunni-Syi’ah, yang tidak hanya melibatkan pertarungan gagasan dan gerakan, melainkan juga pertumpahan darah yang memakan banyak korban jiwa yang tidak terhitung jumlahnya. Belum lagi, masih dalam skala internasional, terjadi rivalitas antara kelompok-kelompok “trans-nasional” seperti Tahriri, Ikhwani, atau Tablighi dengan kelompok-kelompok berbasis nasional. Sementara pada level nasional juga selalu terjadi ketegangan antara berbagai kelompok Islam baik mengikuti garis madzhab, manhaj, maupun aliansi politik sesaat.

Oleh karena itu jika kita melihat berbagai tulisan baik populer maupun ilmiah, diskusi tentang Ukhuwah didominasi oleh dua tendensi: Di satu sisi, ada penulis yang cenderung normatif namun terkesan apatis, menjelaskan tentang ukhuwah dengan cukup detail namun tidak banyak menguraikan bagaimana gagasan ukhuwah tersebut dapat diimplementasikan dalam realitas nyata kehidupan umat saat ini. Disisi lain, ada juga penulis yang mencoba bersikap realis namun sekaligus skeptis, dengan mengusung tema ukhuwah wathaniyah atau ukhuwah basyariyah, bukan sebagai fondasi atau pilar dalam rangka menegakkan ukhuwah diniyah, melainkan sebagai alternatif alias pelarian karena yang terakhir tadi tampaknya mustahil dapat dicapai.

Kedua tendensi dalam mendiskusikan ukhuwah ini sebenarnya muncul dari rasa frustasi yang sama dalam menyaksikan kesenjangan antara ideal dan kenyataan yang sangat bertolak belakang. Namun sebenarnya frustasi tersebut tidak hanya berasal dari realitas, tetapi juga oleh pemahaman yang tidak memadai terhadap realitas umat.  Pemahaman parsial ini pada gilirannya berasal dari kebiasaan model lama memahami sebuah konsep dengan pendekatan “etimologis” (bahasa) dan “terminologis” (istilah) yang berujung pada pemahaman tentang realitas yang tampak manis namun sebenarnya tidak realistis. Secara bahasa istilah tersebut berasal dari bahasa Arab memiliki makna biologis (kandung/tiri) legal (angkat/susuan) maupun politik ideologis (camrade). Sehingga istilah tersebut memiliki nuansa idealis yang sangat kuat yang berujung pada kesimpulan bahwa persaudaraan identik dengan persatuan, atau minimal kerukunan.

Ditambah lagi fakta sejarah historis sosiologis Islam lahir sebagai sebuah kerangka persaudaraan baru yang bersifat universal, yang tidak hanya sebagai alternatif melainkan  untuk menghapus ikatan-ikatan primordial partisan dan partikular: puak, suku, kelas sosial, atau golongan politik. Pemahaman tentang konsep ukhuwah menjadi semakin  abstrak  dan normatif, namun sekaligus tidak realistis.

Pendekatan yang lebih realistis terhadap persoalan Ukhuwah dapat dilakukan dengan mengambil cara baru, tidak lagi pendekatan “etimologis-terminologis” melainkan dengan cara “modeling”: yaitu dengan melakukan identifikasi karakteristik realitas yang dimaksud, baik kolektif maupun individual, lalu diabstraksikan ke dalam kaidah-kaidah umum (induksi) sehingga menjadi “model”  yang selanjutnya digunakan untuk menjelaskan keragaman realitas konkret (deduksi). Dalam persoalan ukhuwah, persaudaraan biologis bisa menjadi model yang lebih realistis sekaligus tanpa kehilangan elemen normatif. Dari model saudara kandung ini kita akan ketemu dengan istilah “sibling rivalry” atau persaingan antar saudara.

Para psikolog menjelaskan melalui konsep tersebut, bagaimana kehidupan antar saudara-kandung/tiri, melalui kebersamaan dalam ikatan hirarkis kakak-adik dan persaingan mendapatkan perhatian orang tua, telah menciptakan ikatan unik yang tidak hanya berisi dorongan kebersamaan melainkan rivalitas yang sering meletup dalam perselisihan dan permusuhan yang bisa bertahan bahkan hingga masa dewasa. Dengan cara ini konsep persaudaraan dapat dipahami secara  lebih realistis,  lebih sesuai dengan realitas di dunia nyata: bersaudara tidak hanya berarti tolong-menolong dan bahu membahu seperti Nabi Musa dan Nabi Harun, tetapi bisa juga relasi dilematis seperti tatkala Sumantri terpaksa tidak sengaja membunuh Sukrosono, atau bahkan rivalitas brutal seperti ketika Qabil membunuh Habil.

Dengan menggunakan modeling persaudaraan biologis untuk memahami konsep ukhuwah, kita akan dapat memiliki pemahaman yang lebih realistis terhadap realitas sehingga dapat bersikap lebih konstruktif untuk membangun Ukhuwah. Bersaudara tidak serta-merta akan membuat kita bersatu dan selalu bersama; sebaliknya perselisihan dan permusuhan tidak serta merta menghilangkan fakta bahwa kita adalah saudara.

Dengan pemahaman yang lebih realistis tersebut kita dapat memahami bahwa persatuan dan kerjasama adalah ujung-akhir dari ideal persaudaraan, dan bukan  hal yang  perlu dipersoalkan di depan. Yang paling perlu diperhatikan di awal adalah bahwa semua umat Islam terlepas dari keragaman dan silang sengkarut persoalan yang dihadapi memiliki identitas yang sama sebagai Muslim: yaitu pijakan minimalis berupa rukun iman dan Islam, dan imajinasi eskatologis minimalis berupa kebaikan kehidupan dunia-dan-akhirat. Singkatnya, titik tolak pemahaman konsep ukhuwah adalah kesamaan “sangkan-paran”.

Dengan cara pandang ini, kita akan lebih mudah menerima bahwa keragaman dan sengkarut kondisi dan relasi umat Islam adalah keragaman dalam memahami dan mengupayakan idealisme yang sama. Dari kelompok radikal yang fasistik menganggap dirinya paling benar dan kelompok liberal yang laissez-faire mengakui semua agama sama benar, dari kelompok konservatif yang kaku dalam memegang aturan maupun kelompok moderat yang memilah antara yang benar dan yang bisa dijalankan, semua merujuk pada referensi yang sama (Qur’an/Hadis), menggunakan diksi yang kurang lebih sama (akidah, ibadah, muamalah), untuk menggambarkan ideal kehidupan yang juga hampir sama (hasanah fiddunya wal akhirah).

Jika ukhuwah sebagai konsep tentang kesatuan sangkan-paran ini bisa dicerna, maka segala keragaman hingga carut-marut ummat adalah perjalanan sejarah yang bisa diterima. Dalam soal pemahaman, keragaman dan perbedaan adalah ikhtilaf yang tidak harus berarti salah atau benar. Berbeda bisa sama-sama benar, meskipun bisa sama-sama salah. Dalam soal kreativitas dan produktivitas, keragaman dan perbedaan adalah ijtihad dimana yang benar berpahala dua, dan yang salahpun masih mendapatkan satu. Dalam soal kompetisi dan persaingan, selagi dijalankan dengan niat dan cara yang lurus, adalah laksana jihad yang tidak mengenal istilah kalah, karena setiap akhir adalah kemenangan: keberhasilah adalah futuh, kegagalan adalah syahid.

Akhirnya, dengan pemahaman tersebut kita akan lebih mudah menyadari bahwa kita memiliki tanggung jawab kolektif: untuk saling mengingatkan agar selalu berusaha mencapai kebenaran dan kebaikan serta menghindari kesalahan dan kerusakan. (bersambung)

Jeruk Legi-Yogyakarta, 9 Ramadhan 2020

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *