Ummah dalam Al-Quran: Konteks dan Struktur

masa-kini.id – Dalam bahasa Indonesia, istilah ‘umat’ merujuk kepada kelompok penganut agama secara umum: umat Konghucu, umat Kristen, umat Buddha, umat Hindu, dan tentu saja umat Islam. Biasanya istilah ini juga digunakan untuk membedakan dengan konteks komunalitas lain seperti etnis atau regional: antara umat dan masyarakat, antara umat dan bangsa. Sedangkan dalam konteks internasional, istilah ini secara spesifik merujuk kepada penganut agama Islam.

Kata umat berasal dari bahasa Arab ummah yang berarti komunitas/bangsa. Istilah ini sendiri sudah dikenal dan digunakan oleh bangsa Arab sejak sebelum kedatangan Islam, paling kurang dengan dua pengertian: kelompok agama, dan koalisi (politik) antar-suku. Sebagian sejarawan berspekulasi bahwa istilah ummah dari dalam bahasa Arab merupakan kata pinjaman (gharib) dari bahasa Semit yang lebih tua, seperti Ibrani (Yahudi), bahasa Aram (bahasa yang digunakan di kawasan Mesir hingga Jordan di era sebelum Masehi), atau yang lebih tua lagi dari bahasa Akkadian (bahasa kuno yang sudah punah, yang pernah populer di kawasan Iran sejak tiga ribu tahun sebelum Masehi).

Baca juga : Dialektika Islam: Ummah, Syariah, Dakwah

Ummah merupakan salah satu istilah pokok dalam Islam, dan banyak terdapat dalam Al-Quran. Tidak kurang dari enam puluh dua kali istilah ummah, dalam berbagai varian, digunakan dalam Al-Quran dengan berbagai konteks yang berbeda, yang terkadang tidak saling berkaitan. Karena keragaman konteks penggunaan inilah, dengan demikian kekayaan makna yang terkandung di dalamnya, membuat banyak ahli beranggapan tidak lagi relevan untuk mencari-cari pengertian ummah dari budaya dan peradaban lain dari mana kata tersebut dianggap berasal. Keragaman konteks penggunaan yang ada sudah akan cukup untuk menggali makna istilah ini.

Secara garis besar, para sarjana menggolongkan penggunaan istilah ummah dalam Al-Quran ke dalam tiga konteks: Pertama, merujuk kepada pengertian kelompok keagamaan. Ada kalanya istilah ini merujuk kepada penganut agama-agama (di masa lalu) secara umum, yaitu ketika menjelaskan tentang manusia sebagai suatu kesatuan komunitas ciptaan Allah, dan mendapatkan syariat yang dibawa oleh para nabi dan rasul sesuai konteks historis masing-masing. Namun rupanya mereka lebih terikat dengan keragaman konteks historis ketimbang tujuan-tujuan normatif sehingga kelompok-kelompok yang sebenarnya menerima ajaran yang sama tersebut pada akhirnya justru saling berbeda pendapat dan terpecah-belah (Al-Baqarah: 213, Yunus: 19, Az-Zukhruf: 33).

Baca juga : Jahiliah Dakwah: Maisyah Memecah Ummah

Ada kalanya istilah ini merujuk secara lebih spesifik kepada kelompok Ahlul Kitab, dalam konteks keturunan Ibrahim (Al-Baqarah 128) dan dalam konteks kisah keluarga Imran (Al-Anbiya: 92). Ada kalanya juga istilah ini digunakan untuk merujuk kepada suatu kelompok khusus di kalangan pengikut Ahlul Kitab. Misalnya surat Ali Imran 113, yang menunjuk adanya kelompok di kalangan ahlul kitab yang taat beribadah siang dan malam–sebagai respons ketika Nabi Muhammad mengatakan kepada pengikutnya bahwa tidak ada umat lain yang beribadah malam hari sebagaimana umat Islam menjalankan shalat Isya. Istilah umat juga digunakan untuk merujuk sekelompok orang dari pengikut Nabi Musa (Yahudi) yang mendapatkan petunjuk dan/sehingga memiliki keteguhan dalam menegakkan keadilan (Al-A’raf: 159).

Istilah ummah juga digunakan merujuk secara eksplisit kepada pengikut Nabi Muhammad (umat Islam), seperti ketika menegaskan umat Islam sebagai kelompok tengah/mainstream (wasath) dalam konteks pemindahan arah Kiblat dari Masjidil Aqsa di Jerusalem ke Masjidil Haram di Mekah (Al-Baqarah: 143). Juga terkait anjuran untuk menjadi sekelompok yang meraih kemenangan spiritual dan menjadi kelompok terbaik di kalangan manusia, melalui upaya menjalankan amar makruf dan nahi mungkar (Ali Imran: 104, 110). Dan juga merujuk kepada kebiasaan bangsa Arab kala itu yang punya kebiasaan membatalkan/melanggar perjanjian kerjasama dengan suatu kelompok secara sepihak karena melihat ada kelompok alternatif yang lebih kuat/kaya dan lebih menguntungkan untuk diajak bekerjasama (An-Nahl: 92).

Kedua, istilah ummah dalam Al-Quran juga digunakan untuk menunjuk komunita secara umum, dalam pengertian etnis atau bangsa. Misalnya, untuk menceritakan bahwa Allah telah mengutus Nabi dan Rasul kepada bangsa-bangsa di masa lalu, dan memberikan cobaan/siksa kepada mereka (Al-An’am: 42, Ar-Ra’du: 30, dll); merujuk kepada bangsa-bangsa yang berkembang dari anak-turun orang-orang yang ikut serta bersama Nabi Nuh ketika banjir (Hud: 48). Istilah ini juga digunakan ketika menjelaskan adanya kelompok-kelompok dalam sejarah, dari jenis manusia dan jin, yang pernah ada namun musnah karena berbagai dosa dan kesalahan yang mereka lakukan (Ar-Ra’du: 30, Fushilat: 25, Al-Ahqaf: 18).

Baca juga : Negara dan Fragmentasi Umat

Ketiga, istilah umat juga digunakan dalam pengertian yang tidak biasa. Misalnya istilah ini dinisbatkan kepada Nabi Ibrahim (ummatan qanitan) yang diartikan sebagai sosok yang memiliki banyak sifat-sifat baik/unggul sehingga layak dijadikan contoh dan teladan (An-Nahl: 120). Kata ummah juga digunakan untuk dalam pengertian ketentuan waktu, seperti dalam konteks perumpamaan orang ingkar yang tidak akan berubah jika pun waktu siksaan diundur ‘sementara waktu’ (Nuh: 8), dan dalam konteks kisah Nabi Yusuf, ketika salah seorang yang sama-sama dipenjara kemudian diramal oleh Yusuf akan dibebaskan namun lupa melaporkan peristiwa tersebut kepada Raja ‘selama masa tertentu’–sampai ketika sang Raja bermimpi yang menggelisahkan (Yusuf: 45). Terakhir, istilah ummah juga digunakan untuk merujuk kelompok-kelompok binatang, yang hidupnya juga tidak lepas dari pengawasan kekuasaan Allah (Al-An’am: 38).

Karena sedemikian beragam pengertian ummah dalam Al-Quran, yang kadangkala tidak secara langsung saling berkaitan, para ahli mencoba mencari cara untuk memahami beragam konteks tersebut sebagai satu kesatuan. Paling tidak ada dua yang menarik untuk diketengahkan di sini.

Baca juga : Ikhtilaf sebagai Rahmat

Pertama, pendekatan historis-sosiologis dengan melacak waktu turunnya ayat-ayat tersebut, dan secara analitik menghubungkannya dengan tahapan-tahapan perkembangan agama Islam, dan interaksi umat Islam kala itu dengan lingkungan sosial yang ada. Terlihat bahwa ayat-ayat yang mengandung kata ummah belum turun di awal-awal kenabian Muhammad, dan baru turun pada pertengahan periode Makkah. Ini menunjukkan bahwa 4 atau 5 tahun pertama dakwah kenabian, pengikut Muhammad masih sporadis, dan baru setelah itu mulai memiliki bentuk sebagai sebuah komunitas.

Menariknya, hampir separuh dari ayat-ayat yang mengandung kata ummah turun di akhir periode Makkah, terutama terkait konteks manusia dan jin sebagai kesatuan ummah namun kemudian terpecah-belah. Di sini para ahli menafsirkan bahwa 3 tahun terakhir periode Makkah merupakan fase paling krusial dalam pembentukan kesadaran komunal pengikut Muhammad, salah satunya melalui takhassus yang rutin digelar di rumah Arqam bin Abil-Arqam.

Sementara periode Madinah banyak didominasi oleh konteks penggunaan yang merujuk kepada Ahlul-Kitab, terutama terkait dengan keberadaan kelompok-kelompok yang taat diantara mereka. Secara historis ini selaras dengan pengalaman kaum Muslim ketika itu, dimana Madinah yang lebih dekat dengan jalur perdagangan internasional memiliki komunitas agama yang lebih beragam ketimbang Makkah yang secara geografis lebih di pedalaman. Pendekatan ini membuktikan betapa pemahaman terhadap asbab nuzul ayat sangat penting untuk memahami makna yang lebih mendalam.

Baca juga : Ukhuwah, Bukan Persatuan

Metode kedua yang banyak digunakan oleh para pengkaji Qur’an kontemporer adalah pendekatan sastrawi, untuk menemukan leitmotif dari penggunaan kata ummah yang memiliki konteks sangat beragam. Leitmotif (baca: laitmotif, berarti ‘corak utama’) berasal dari istilah musik yang merujuk kepada nada-nada yang selalu berulang pada sebuah komposisi sehingga dianggap menjadi pola/ciri yang menonjol. Istilah ini kemudian diadopsi dalam kajian sastra untuk menjelaskan adanya pola/alur pada sebuah kisah atau konsep. Dengan memahami leitmotif sebuah kisah atau konsep, maka orang akan dapat menangkap makna atau pesan yang disampaikan meskipun kisah atau konsep tersebut muncul secara tidak utuh.

Dengan menggunakan logika leitmotif, para pengkaji Al-Quran menjelaskan bahwa jika dibaca sebagai keseluruhan kata ummah yang memiliki konteks beragam dan kadangkala tidak saling terkait tersebut akan membentuk sebuah narasi tunggal: (i) Yaitu bahwa seluruh makhluk berkomunitas (manusia, jin, dan binatang) merupakan satu kesatuan yang berada dalam pengawasan dan kekuasaan Allah. (ii) Manusia memiliki satu kesatuan tugas untuk taat kepada Allah, dan telah mendapatkan ajaran dari para Nabi dan Rasul sesuai zaman masing-masing. (iii) Namun sebagian manusia ingkar terhadap ajaran tersebut, dan Allah menghukum mereka pada waktu yang ditentukan–ada yg secara instan, ada yang perlahan. (iv) Kemudian Allah mengganti mereka dengan umat yang lebih baik, yang mewarisi kekuasaan dan kekayaan mereka.

Baca juga : Kabar Ukhuwah di Tengah Wabah

Pendekatan leitmotif ini akan memungkinkan kita memahami konsep ummah dalam Al-Quran sebagai rumus hukum sejarah: jatuh bangunnya kekuasaan akan seiring dengan kuat dan lemahnya moralitas dan spiritualitas sebuah kelompok. Sebuah kelompok akan menang dan berkuasa ketika moralitas dan spiritualitasnya kuat, dan akan jatuh ketika moralitas dan spiritualitasnya lemah.

Jeruklegi Yogyakarta, 23 Dzulqaidah 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *