Ummah Wahidah dalam Logika Institusionalis

Satu kata yang banyak muncul menyertai istilah ‘ummah’ dalam Al-Quran adalah ‘wahidah’–ummah wahidah, umat yang satu. Istilah ini muncul tidak kurang dari sembilan kali, tujuh kali turun di Mekah, dua kali turun di Madinah. Istilah ummah wahidah ini dalam Al-Quran memiliki dua konteks: sebagian merujuk kepada umat manusia sebagai satu kesatuan, yang lain lebih spesifik merujuk kepada konteks pengikut Nabi Muhammad, yaitu umat Islam sebagai satu kesatuan.

Dengan menggunakan pendekatan leitmotif, yaitu konteks pembicaraan masing-masing ayat, ungkapan ummah wahidah, baik ketika merujuk kepada kesatuan umat manusia maupun kesatuan umat Islam, memiliki tiga poin narasi:

Pertama, bahwa umat manusia merupakan satu kesatuan misi sejarah, dan Allah telah memberikan petunjuk moral-spiritual kepada masing-masing umat melalui Nabi dan Rasul sesuai dengan tempat dan zamannya. Sehingga, dalam versi Al-Quran, sejarah manusia tidak lain memang adalah sejarah misi kenabian yang saling berkesinambungan. Bahkan manusia yang pertama, yaitu Adam, juga memiliki status sebagai nabi meskipun tidak memiliki kaum.

Meskipun Nabi dan Rasul yang sempat dikisahkan jumlahnya hanya beberapa, Al-Quran berulang kali menegaskan bahwa Allah telah mengutus Nabi dan Rasul dalam jumlah yang cukup banyak kepada bangsa-bangsa di masa lalu. Ada yang diceritakan, namun banyak yang tidak.


Kedua, narasi ummah wahidah akan diikuti oleh pengungkapan fakta adanya kemerosotan moral-spiritual, dimana setiap kali satu umat mendapatkan petunjuk melalui para Nabi dan Rasul, dan bahkan mendapatkan kitab yang merupakan pembakuan (kodifikasi) dari tuntunan dan ajaran tersebut, di kemudian hari terlibat/terjebak dalam perselisihan dan terpecah-belah.

Menariknya, apa yang menyebabkan perselisihan dan perpecahan yang menimpa umat-umat erdahulu tersebut juga hal yang sama, yaitu perebutan kehidupan dunia (harta dan keturunan). Di tempat lain kita juga dapat menemukan pernyataan yang berulang kali dalam Al-quran tentang adanya umat yang dengan sengaja mengubah dan mengganti kebenaran, untuk tujuan-tujuan duniawi.


Ketiga, ungkapan ummah wahidah banyak disertai dengan pernyataan bahwa perpecahan tersebut terjadi atas izin Allah. Karena jika Allah menginginkan maka tentu tidak akan sulit untuk menjadikan semua umat manusia menjadi satu kesatuan utuh dan taat semua. Sekilas poin ini akan tampak kontradiktif dengan poin pertama yang: yaitu bahwa di satu sisi Al-Quran mengatakan bahwa pada hakikatnya manusia/umat Muhammad adalah satu kesatuan, namun di saat yang sama Al-Quran justru terlihat menegaskan bahwa manusia/umat Muhammad tidak akan bisa bersatu. Meskipun urutan pembacaannya bisa juga dibalik: Meskipun cenderung terpecah belah dan tidak bisa bersatu, sebenarnya umat manusia/umat Muhammad adalah satu kesatuan adanya.

Para ahli menganggap logika kontradiktif semacam ini justru adalah salah satu ciri khas pernyataan dalam Al-Quran. Di satu sisi, ini adalah upaya untuk menegaskan kekuasaan Allah: bahwa Allah Maha Kuasa menentukan segala hukum dan rumus kehidupan yang manusia tidak akan pernah paham mengapa harus demikian. Di sisi lain, pernyataan ini untuk menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang rentan tertipu dan terkelabui oleh warna-warni kehidupan. Akhirnya, Pernyataan ini harus dihubungkan dengan konsep lain yang juga khas Al-Quran, bahwa Allah tidak akan memberikan beban kepada manusia melebihi kapasitasnya.


Poin yang terakhir ini, yaitu bahwa Allah tidak membebankan sesuatu melampaui kemampuan makhluk, tidak sedang mengajarkan kepada kita logika relativis tentang kehidupan, melainkan logika institusionalis. Logika relativis adalah pemahaman bahwa hanya Allah yang dapat menentukan hasil dari sesuatu, sedangkan manusia hanya dapat berupaya dan berusaha. Karena itu, selama niatnya baik maka hasil setiap perbuatan bisa dianggap baik: semua sistem nilai baik, semua profesi baik, semua metode baik–selama diniatkan untuk kebaikan.

Sedangkan logika institusionalis adalah pemahaman bahwa ada banyak hal dalam kehidupan yang kita tidak dapat memilih–tempat lahir, kondisi fisik, kondisi sosial-ekonomi, kesempatan, dll.–sehingga kebaikan bukan diukur dari hasil akhir, melainkan dari tempat bermula. Sebab, tujuan kebaikan yang sama akan membutuhkan upaya yang berbeda bagi orang-orang yang berada pada tempat dan situasi berbeda. Sistem nilai tertentu hanya akan baik untuk orang tertentu, profesi tertentu hanya akan ideal untuk orang tertentu, dan metode tertentu hanya akan sesuai dengan orang tertentu–semua berdasarkan konteks kebutuhan dan kapasitas tertentu seseorang.

Pada titik inilah, leitmotif konsep ummah wahidah sangat penting dipelajari untuk memahami keragaman dan kompleksitas gerakan dakwah. Banyak orang yang masih salah paham dan terjebak pada dua kutub pemahaman yang ekstrem–yang ternyata sama-sama salah. Pertama, pemahaman parsial yang menganggap bahwa yang penting dalam urusan dakwah adalah hasil. Karena itu mereka terjebak pada perdebatan dan perselisihan terkait tujuan dakwah yang paling benar: ada yang mengatakan ‘rahmatan lil-’alamin’, ada yang mengatakan ‘tajdid wal-ishlah’, ada yang mengatakan ‘berislam secara kaffah’, ada yang mengatakan ‘amar ma’ruf nahi munkar’, ada yang mengatakan ‘Islam substantif’, dan lain-lain.

Kedua, pemahaman relativis yang menganggap bahwa yang penting adalah ikhtiarnya, untuk hasil cukuplah diserahkan kepada keputusan Allah. Dalam konteks ini, masih banyak juga orang yang tidak nyaman ketika ditanya dari kelompok Islam yang mana. Saya cukup ‘Islam saja’ bukan dari kelompok ini atau kelompok itu. Toh semuanya sama-sama Islam. Meskipun terlihat santun, rendah hati dan penuh toleransi, sikap yang terakhir ini sama salahnya dengan sikap pertama yang lebih konfrontatif, yang menganggap hanya kelompoknya sendiri yang benar. Pemahaman yang pertama ini salah karena hanya terpaku pada hasil dan menafikan usaha, sehingga beresiko menghalalkan segala cara: yang penting hasil tercapai. Sementara pemahaman yang kedua salah karena hanya terpaku kepada niat dan merelatifkan usaha, sehingga rawan terjebak kepada sikap fatalis dan kompromis: yang penting sudah berusaha.

Sikap institusionalis lebih baik dari kedua sikap di atas karena menempatkan baik niat dan hasil secara seimbang dan proporsional: dengan cara memahami konteks, kebutuhan dan kapasitas. Misalnya, tujuan dakwah yang paling benar adalah ‘rahmatan lil-’alamin’, tetapi khusus untuk kelompok Tradisionalis. Sebab gerakan dakwah ini konteks dan kebutuhannya adalah untuk menenangkan jiwa-jiwa umat yang menderita nestapa karena terlindas oleh kemajuan. Modus dakwah dalam konteks ini adalah kompensasi spiritual: Islam memberikan menyediakan keunggulan spiritual kepada siapapun (yang miskin, yang terbelakang, yang terpinggirkan), dari kelompok manapun, bahkan dari agama apapun–yang menjadi korban kemajuan.

Tujuan dakwah yang paling benar adalah ‘tajdid wal-ishlah’, tapi khusus untuk kelompok Modernis. sebab konteks dan kebutuhan gerakan dakwah yang satu ini adalah untuk memberikan bimbingan kepada jiwa-jiwa umat yang menderita nestapa karena tercerabut dari akar sosiokultural mereka, dan tersesat kebingungan memasuki belantara birokrasi dan ekonomi pasar yang dibawa oleh negara modern. Modus dakwah dalam konteks ini adalah rasionalisasi mobilitas sosial vertikal: kemajuan kehidupan dan capaian prestasi individual merupakan bagian utama dari misi Islam diturunkan ke dunia.

Tujuan dakwah yang paling benar adalah ‘berislam secara kaffah’, terutama untuk kelompok revivalis. Sebab gerakan dakwah ini konteks dan kebutuhannya adalah mengabsahkan, melegalisasi, kebaikan hidup yang dibawakan oleh kemajuan zaman bukan semata sebagai produk usaha manusia melainkan juga sebagai anugerah dan rizki dari Allah. Kekayaan, kekuasaan dan kemakmuran adalah bukti kasih sayang Allah agar bisa digunakan untuk memberikan kebaikan kepada sesama.

Tujuan dakwah yang paling benar adalah ‘amar ma’ruf nahi munkar’, tetapi terbatas hanya untuk kelompok Vigilantis. sebab konteks dan kebutuhan gerakan dakwah ini adalah mengembalikan Marwah dan hak kewargaan sekelompok umat yang terabaikan oleh negara dan menjadi korban diskriminasi dari aparat negara yang hanya mementingkan penguasa dan kelompok tertentu saja. Modus dakwah dalam konteks ini adalah Islam memberikan kekuatan moral dan spiritual kepada umatnya untuk menuntut keadilan, untuk mengatakan yang benar itu benar, dan Yang Salah itu salah.

Tujuan dakwah yang paling benar adalah ‘Islam substantif’, sejauh mengikuti logika kelompok Liberalis. Sebab konteks dan kebutuhan gerakan dakwah ini adalah meneguhkan kebaikan yang ada dalam sistem yang sedang berjalan. Modus dakwah dalam konteks ini adalah dengan menjadikan semua komponen dan stakeholder dari sistem yang sedang berjalan sebagai pembawa amanah kebaikan. Sebagaimana kabilah-kabilah yang menandatangani piagam Madinah di zaman Nabi, mereka semua berada dalam satu pihak dengan umat Islam, memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kebaikan kehidupan, dan karenanya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan dari segala bahaya dan ketidaknyamanan .

Jeruklegi, Yogyakarta, 30 Dzulqaidah 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *