Ummah Wasathiyah (1): Moderat dan Mainstream

masa-kini.id – Salah satu dari karakter unggulan (normatif) umat Islam menurut Al-Qur’an adalah identitas sebagai umat tengah (ummatan wasathan, QS. Al-Baqarah: 143). Menurut para mufassir klasik, seperti At-Thabari, ummatan wasathan berarti bahwa umat Islam (harusnya) dapat menjadi umat terbaik dengan merangkum semua tradisi kebaikan umat-umat terdahulu, karena Islam merupakan agama penyempurna yang merangkum ajaran kebaikan dari agama-agama yang dibawa para nabi terdahulu.

Sementara para mufassir modern seperti Muhammad Abduh dan juga Hamka lebih menyoroti aspek kehidupan empiris di mana pada dasarnya Islam merupakan agama yang memberikan petunjuk dan ajaran yang seimbang tentang kehidupan. Di satu sisi Islam memberikan tuntunan spiritual dan batiniah untuk mendapatkan kehidupan akhirat sebagai tujuan akhir kehidupan manusia. Namun di sisi lain Islam juga memberikan porsi yang seimbang dalam memberikan tuntunan kehidupan duniawi sebagai perwujudan tugas kehidupan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Menariknya, wacana populer di Indonesia banyak mengidentifikasikan istilah ummatan wasathan dengan kelompok moderat. Namun sayangnya istilah “moderat” ini tidak banyak dijelaskan secara detail dan sistematis. Di satu sisi istilah ini juga cenderung dinisbatkan secara sederhana dengan sikap toleran terutama dalam kehidupan antar agama. Disisi lain istilah ini juga banyak digunakan sebagai lawan dari tendensi radikalisme dalam kehidupan beragama, yang sayangnya juga jarang dijelaskan secara detail dan sistematis. Sehingga wacana moderat vs radikal lebih banyak merupakan polemik politik agama, ketika sebuah kelompok ingin membandingkan antara kelebihan diri dengan kelemahan pihak lain.

Dalam logika spasial, posisi tengahan yang diacu oleh ummatan wasathan ini paling kurang memiliki dua kemungkinan pengertian: moderat dan median. Tulisan ini akan membahas istilah tengahan dalam pengertian moderat, sedangkan pengertian median akan menjadi topik tulisan berikutnya.

Secara harfiah istilah moderat diartikan sebagai tendensi untuk menjauhi sikap ekstrem. Secara normatif, Islam melarang hal-hal yang berlebihan termasuk dalam berbuat kebaikan, seperti riwayat Nabi yang melarang seorang pemuda untuk berlama-lama beribadah di masjid–karena akan mengabaikan kewajiban yang lain seperti mencari nafkah dan menjaga keluarga. Secara lebih spesifik, sikap moderat membawa kepada tendensi moderasi yaitu posisi untuk menyisakan ruang bagi upaya koreksi dan perbaikan. Dalam hal ini tendensi moderasi berbeda dengan tendensi medioker (alakadarnya), yang merupakan tendensi ketidakseriusan di dalam menghadapi dan melakukan sesuatu.

Dalam persoalan ideologi dan keyakinan, sikap moderat atau tendensi moderasi adalah posisi yang memberikan ruang kritis bahwa selalu ada proses pembelajaran dan tingkatan pemahaman. Artinya, ketika berhadapan dengan orang atau pihak yang memiliki pemahaman yang berbeda, tidak selalu otomatis dipahami sebagai posisi yang saling berlawanan atau bertentangan. Bisa jadi perbedaan ini terjadi karena pihak lain tersebut memiliki proses belajar yang masih kurang sehingga capaian pemahamannya belum sampai kepada level kita. Sehingga kita harus sabar menjelaskan dan memaklumi kekeliruan-kekeliruan mereka. Atau, bisa jadi justru pihak lain lah yang memiliki pemahaman yang lebih tinggi–dengan indikasi proses belajar yang lebih lama, level pendidikan yang lebih tinggi dalam bidang yang relevan, atau akses bacaan dan pergaulan yang lebih luas–sehingga kitalah yang justru perlu mengukur diri bahwa mungkin pengetahuan kita yang belum sampai.

Dalam aspek kehidupan sosial, sikap moderat dan tendensi moderasi adalah upaya untuk menemukan ruang-ruang kebersamaan yang akan memungkinkan kita berada pada satu pihak dengan kelompok lain. Hal ini bisa dilakukan di satu sisi dengan mencari kesamaan identitas baik secara primordial (etnis, historis) ataupun identitas yang bersifat institusional (profesi, kebangsaan). Di sisi lain upaya menemukan kebersamaan bisa dilakukan dengan mencari persoalan bersama atau agenda bersama yaitu persoalan yang dihadapi oleh semua pihak. Tentu saja hal ini tidak bisa diketahui secara apriori, melainkan hanya bisa dilacak melalui proses interaksi dan dialog untuk menemukan sekaligus menyepakati persoalan yang dapat dijadikan agenda untuk diselesaikan bersama-sama.

Dalam kehidupan politik sikap moderat dan tendensi moderasi ditandai dengan kesediaan untuk bekerjasama dengan kelompok manapun berbasis kepada kesamaan orientasi dan capaian program  yang dapat diukur secara objektif. Sikap ini berbanding terbalik dengan tendensi politik ideologis, yaitu kecenderungan untuk hanya bekerjasama dengan kelompok yang memiliki kesamaan identitas meskipun agendanya berbeda, dan cenderung antagonistik kepada kelompok yang berbeda meskipun sebenarnya memiliki agenda yang sama. Dalam konteks kehidupan yang normal seperti saat ini, sikap moderat di dalam politik adalah pilihan yang paling rasional karena akan lebih berorientasi kepada kebaikan bersama. Sedangkan sikap ideologis akan lebih menguntungkan pada masa-masa transisi besar seperti proses kemerdekaan atau pergantian rezim otoriter menuju demokrasi.

Sementara dalam kehidupan ekonomi, sikap moderat dan tendensi moderasi adalah posisi untuk selalu menyadari adanya biaya dan risiko dari setiap upaya mencari keuntungan. Upaya untuk membangun kesejahteraan ekonomi baik pada level personal maupun kolektif harus selalu disertai dengan kesadaran kritis tentang biaya dan risiko yang mungkin timbul, baik yang muncul dari proses yang dijalani maupun hasil yang dicapai. Misalnya, upaya untuk meningkatkan penghasilan ekonomi, pada level individual, tidak boleh dilakukan dalam cara yang mengganggu atau mengancam kesehatan. Sebab pada akhirnya  biaya untuk merawat atau mengembalikan kesehatan bisa jadi lebih besar dari keuntungan ekonomi yang didapat. Demikian pula secara kolektif upaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi sebuah kelompok harus juga dibarengi dengan upaya pemerataannya. Sebab jika tidak, akan berisiko menciptakan kesenjangan ekonomi, yaitu munculnya kelompok yang tetap miskin, yang akan memunculkan ancaman dan resiko sosial.

Sikap moderat dan tendensi moderasi ini akan memberikan jalan bagi umat Islam untuk menjadi kelompok mainstream, yaitu kelompok acuan yang dijadikan patokan atau standar bagi semua orang. Istilah mainstream seringkali disalahartikan sebagai kelompok mayoritas dalam pengertian jumlah. Padahal tidaklah demikian. Kelompok mayoritas tidak selalu menjadi acuan. Sebagaimana yang dinukil di dalam hadis masyhur riwayat Abu Dawud, ketika Nabi meramalkan bahwa (ada kemungkinan) umat Islam akan menjadi kelompok mayoritas secara jumlah namun nasibnya justru terombang-ambing dipermainkan oleh berbagai kelompok lain.

Yang benar, istilah mainstream atau arus utama mengacu kepada kelompok yang memiliki kemampuan untuk berada pada nada dasar kehidupan: sebagai tempat perjumpaan keragaman identitas dan tempat kesepahaman berbagai ragam kepentingan yang ada di masyarakat. Baik dalam posisi mayoritas maupun minoritas, apabila bersiteguh menegakkan karakter ummatan wasathan, yaitu sebagai sikap moderat dan tendensi moderasi, umat Islam akan dapat menjadi umat terbaik karena akan menjadi arus utama yang dijadikan acuan oleh semua pihak. []

Jeruklegi Yogyakarta, 21 Dzulhijah 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *